WASHINGTON, TERMINALNEWS.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyuarakan kekecewaan terhadap negara-negara sekutu yang dinilai tidak cukup membantu upaya perang AS, di tengah konflik dengan Iran yang telah memicu lonjakan harga energi global.
Dalam pernyataannya yang dilansir timesofisrael pada Selasa, Donald Trump bahkan meminta sekutu untuk “mengurus minyak mereka sendiri”, setelah konflik dengan Iran dan penutupan Selat Hormuz mendorong harga bensin rata-rata di AS melampaui US$4 per galon—setara sekitar Rp17.000 per liter (dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS).
Donald Trump secara khusus menyoroti Britania Raya dan Prancis sebagai pihak yang tidak banyak membantu selama konflik yang telah berlangsung satu bulan dan mengguncang pasar global.
“Negara-negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet karena Selat Hormuz, seperti Inggris, saya punya saran: beli dari AS, kami punya banyak, dan bangun keberanian kalian, pergi ke selat itu dan ambil sendiri,” tulis Donald Trump di platform Truth Social.
Donald Trump juga memperingatkan bahwa AS tidak akan terus membantu sekutunya.
“Kalian harus mulai belajar berjuang sendiri. AS tidak akan selalu ada untuk membantu,” tambah Donald Trump.
Mengkritik Prancis dan Sekutu Eropa
Donald Trump juga mengkritik Prancis karena tidak mengizinkan pesawat yang membawa pasokan militer ke Israel melintasi wilayah udaranya.
Sementara itu, beberapa negara Eropa memang memilih menjaga jarak dari konflik. Spanyol dilaporkan menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS, sedangkan Italia menolak penggunaan pangkalan udara Sigonella untuk operasi terkait Timur Tengah.
Meski demikian, pemerintah Italia menegaskan hubungan dengan AS tetap solid dan didasarkan pada kerja sama penuh.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth turut menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz bukan hanya tanggung jawab Amerika.

“Banyak negara di dunia harus siap mengambil peran di jalur air strategis ini. Ini bukan hanya tugas Angkatan Laut AS,” kata Pete Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon.
Ia menambahkan bahwa AS telah melakukan sebagian besar pekerjaan untuk melemahkan ancaman Iran, sehingga negara lain kini harus ikut bertindak.
Mengklaim Militer AS Unggul
Pete Hegseth juga mengklaim bahwa serangan AS telah melemahkan moral militer Iran dan memicu banyak pembelotan. Dalam satu bulan terakhir, AS disebut telah melakukan lebih dari 11.000 serangan terhadap target di Iran.
Operasi militer yang disebut “Operation Epic Fury” diklaim berhasil menekan jumlah serangan rudal dan drone Iran dalam 24 jam terakhir.
Aliansi dengan Negara Arab
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa negaranya tengah membangun aliansi dengan sejumlah negara Arab untuk menghadapi Iran.
Ia menyebut sebelumnya telah melakukan pembicaraan rahasia dengan para pemimpin Arab, yang kini mulai memahami ancaman dari Teheran.

Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, juga menyatakan bahwa beberapa negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Arab Saudi semakin dekat dengan Israel dan bahkan meminta bantuan.
Namun, Leiter menegaskan bahwa tujuan utama perang adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik. Ia juga menyebut perubahan rezim kemungkinan sulit dihindari untuk mencapai tujuan tersebut.
Situasi Selalu Dinamis
Meski mengklaim sejumlah keberhasilan, Trump menyatakan AS belum akan menghentikan upaya membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Konflik yang terus berlangsung ini diperkirakan akan menjadi penentu dalam beberapa hari ke depan, dengan dampak besar terhadap stabilitas kawasan dan harga energi global.


