BEIJING, TERMINALNEWS.ID – China resmi mengumumkan tarif sebesar 34 persen atas seluruh impor dari Amerika Serikat mulai 10 April 2025.
Langkah ini menjadikan China sebagai negara ekonomi besar pertama yang membalas tarif impor baru yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, yang memicu ketegangan dalam perang dagang global dan mengguncang pasar saham internasional.
China, seperti dilansir france24 merupakan salah satu mitra dagang utama AS, juga menyatakan akan mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas tarif tersebut.
Selain itu, Beijing akan memberlakukan kontrol ekspor terhadap sejumlah elemen tanah jarang (rare earth elements) yang penting dalam industri teknologi medis dan elektronik konsumen.
Trump Tanggapi di Media Sosial
Menanggapi langkah balasan China, Trump langsung menyindir melalui media sosial Truth Social. “China panik — mereka bermain salah! Itu satu hal yang tidak bisa mereka lakukan!” tulis Trump dengan gaya huruf kapital yang khas.
Pasar Saham Global Anjlok
Ketegangan ini memicu kejatuhan pasar saham secara global. Indeks S&P 500 di New York jatuh 4,8 persen pada Kamis, penurunan terbesar sejak pandemi COVID-19 tahun 2020. Bursa Eropa juga terpukul; Frankfurt turun 5 persen, Paris anjlok lebih dari 4 persen, dan London melemah hampir 3,8 persen. Di Asia, indeks Nikkei Jepang ditutup melemah 2,8 persen.
Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menyebut tarif Trump sebagai “krisis nasional” dan menyerukan pendekatan negosiasi yang lebih tenang.
Tarif Baru Trump dan Respons Dunia
Trump sebelumnya mengumumkan tarif impor sebesar 10 persen untuk semua negara yang mulai berlaku Sabtu ini, serta tarif lebih tinggi untuk puluhan negara tertentu yang akan diberlakukan minggu depan. Sementara sebagian besar negara masih menahan diri untuk membalas, Uni Eropa bersiap membuka dialog dengan pejabat AS.
Komisaris Perdagangan UE, Maros Sefcovic, dijadwalkan berdiskusi dengan pihak AS pada Jumat. Ia menyatakan bahwa UE akan merespons secara “tenang, bertahap, dan bersatu”, namun menegaskan blok tersebut tidak akan tinggal diam jika tidak tercapai kesepakatan yang adil.
Perancis dan Jerman Dorong Pajak untuk Raksasa Teknologi AS
Menteri Ekonomi Perancis, Eric Lombard, mendorong perusahaan nasional untuk menunjukkan “patriotisme ekonomi”, menyusul pernyataan Presiden Emmanuel Macron bahwa investasi ke AS saat ini akan mengirimkan sinyal yang keliru.
Sebagai langkah balasan, UE tengah mempertimbangkan penerapan pajak terhadap perusahaan teknologi asal AS.
Lombard menekankan bahwa respons UE tak harus berbentuk tarif balasan, melainkan bisa menggunakan alat lain seperti pertukaran data dan perpajakan.
“Respons kita bisa kuat, namun tidak harus menggunakan senjata yang sama seperti AS,” ujarnya kepada BFMTV.
Industri Otomotif dan Perdagangan Terguncang
Tarif tambahan sebesar 25 persen terhadap mobil asing juga telah mulai berlaku minggu ini. Kanada segera merespons dengan tarif serupa terhadap impor dari AS. Produsen otomotif seperti Stellantis menghentikan sementara produksi di pabrik-pabriknya di Kanada dan Meksiko.
Sementara itu, Nissan mengumumkan akan merevisi rencana produksi di AS dan menghentikan penjualan dua model kendaraan buatan Meksiko. Volvo Cars asal Swedia, yang dimiliki perusahaan China Geely, menyatakan akan meningkatkan produksi mobil di AS serta menambahkan satu model baru.
AS Ingin Mandiri Secara Ekonomi
Trump mengatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk membebaskan AS dari ketergantungan terhadap manufaktur asing. Ia menggambarkan transformasi ekonomi ini seperti prosedur medis besar yang menyakitkan namun diperlukan.
Namun, kebijakan ini menuai kritik, termasuk dari kalangan Partai Republik sendiri. Senator Mitch McConnell menyebut tarif tersebut sebagai “kebijakan yang buruk” dan menegaskan bahwa kesejahteraan jangka panjang hanya bisa dicapai melalui kerja sama dengan sekutu.
Kepala WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, turut mengingatkan bahwa ketegangan perdagangan ini bisa menyebabkan penurunan volume perdagangan global hingga satu persen tahun ini.


