TERMINALNEWS.ID, YOGYAKARTA – Berangkat dari pengalaman menjajakan camilan arumanis, Haji Hardi berhasil membangun usaha Arumanis Tempo Dulu yang terus berkembang sejak dirintis pada 2011. Berawal dengan hanya empat pekerja, usaha makanan tradisional tersebut kini mampu menyerap puluhan tenaga kerja lokal.
Kisah Haji Hardi menjadi bukti bahwa camilan tradisional masih memiliki peluang besar di tengah persaingan industri makanan ringan yang semakin ketat. Kuncinya, menurut dia, terletak pada ketekunan menjalankan usaha, pemahaman terhadap pasar, dan konsistensi menjaga kualitas produk.
Sebelum menjadi pengusaha, Haji Hardi lebih dahulu bekerja sebagai tenaga penjualan arumanis di Yogyakarta. Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk mengenali selera konsumen, memahami kebutuhan pasar, sekaligus mempelajari karakter produk yang diminati masyarakat.
Bekal tersebut kemudian menjadi modal untuk membangun usaha sendiri. Pada 2011, ia mulai merintis bisnis arumanis yang kini berkembang menjadi sumber penghidupan bagi puluhan pekerja.
Dalam kunjungan Media Gathering LPDB-KUMKM ke rumah produksinya di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (13/10/2026), Haji Hardi berbagi pengalaman mengenai perjalanan usahanya.
Ia menegaskan bahwa membangun bisnis tidak bisa dilakukan secara instan. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus bersedia melewati proses, bekerja keras, serta cermat membaca peluang sebelum mengambil keputusan.

“Bisnis itu tidak ada yang tanpa ikhtiar atau datang begitu saja. Harus ditekuni dan jangan mudah tergiur dengan sesuatu yang terlihat menggiurkan di awal, karena belum tentu menjanjikan,” ujar Haji Hardi.
Memilih Menjaga Mutu di Tengah Kenaikan Biaya
Bagi pelaku usaha makanan, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan yang dapat memengaruhi biaya produksi dan keuntungan. Namun, Haji Hardi memilih tidak mengorbankan mutu demi menekan pengeluaran.
Ia mempertahankan bahan baku yang selama ini digunakan agar cita rasa arumanis tetap konsisten dan kepercayaan pelanggan terjaga.
Menurutnya, ketika biaya produksi meningkat, pelaku usaha perlu mencari langkah penyesuaian yang tepat tanpa mengubah kualitas produk. Penyesuaian harga jual maupun pengaturan volume dalam kemasan dapat menjadi pilihan untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
“Kami tidak pernah mengubah bahan baku. Jika ada kenaikan harga bahan, opsi kami adalah menyesuaikan harga atau menata volume secara bijak,” ungkapnya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa menjaga kualitas bukan sekadar urusan rasa, melainkan juga bagian dari strategi mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang.
Camilan Tradisional, Peluang Usaha yang Tetap Terbuka
Perjalanan Arumanis Tempo Dulu memperlihatkan bahwa produk tradisional tetap memiliki ruang untuk tumbuh selama mampu dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Pengalaman Haji Hardi sebagai tenaga penjualan menjadi fondasi penting dalam memahami pasar. Dari sana, ia membangun usaha dengan mengandalkan pengalaman, ketekunan, serta keputusan bisnis yang mempertimbangkan keberlangsungan produksi.
Bertambahnya jumlah pekerja dari empat orang menjadi puluhan tenaga kerja juga memperlihatkan perkembangan usaha yang tidak hanya berdampak bagi pemiliknya, tetapi turut membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Bagi Haji Hardi, mempertahankan usaha bukan semata-mata mengejar keuntungan. Konsistensi menjaga kualitas, kehati-hatian dalam mengambil keputusan, dan kemauan menjalani proses menjadi bagian penting agar bisnis dapat terus bertahan.
Di tengah perubahan tren kuliner dan tekanan biaya produksi, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi pelaku UMKM bahwa usaha yang berangkat dari produk sederhana pun berpeluang berkembang, selama dikelola dengan tekun dan berorientasi pada kualitas.

