BerandaNasionalAI dan Indikasi Geografis...

AI dan Indikasi Geografis Jadi Senjata Baru Pariwisata Indonesia

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Pariwisata Indonesia tengah bertransformasi. Tak lagi sekadar menjual pemandangan, kini sektor ini bergerak menuju ekosistem berbasis produk lokal, budaya otentik, dan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Hal ini ditegaskan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam podcast What’s Up Kementerian Hukum yang menghadirkan Direktur Merek dan Indikasi Geografis DJKI, Hermansyah Siregar, pada Jumat (17/10). Keduanya sepakat bahwa kolaborasi lintas kementerian menjadi kunci dalam mengembangkan pariwisata berbasis indikasi geografis (IG) dan memperkuat pelindungan kekayaan intelektual (KI) di daerah.

“Wisatawan kini tak hanya mencari destinasi indah, tetapi juga cerita dan makna di balik setiap produk lokal. Di situlah pentingnya storytelling dan indikasi geografis,” ujar Widiyanti.

Baca Juga :   Kolaborasi Aktif Korlantas Polri dan PT ASDP dalam Pengamanan Arus Mudik dan Balik di Operasi Ketupat 2025

Salah satu contoh suksesnya adalah Kopi Gayo dari Takengon, Aceh, yang kini menjadi magnet wisata. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses panen, mencicipi cita rasa khasnya, hingga membawa pulang pengalaman budaya masyarakat setempat.

9352b2fde11a57bddb8bee805e81623f

Menurut Widiyanti, produk seperti kopi, tenun, dan kuliner khas daerah bukan lagi sekadar oleh-oleh, melainkan identitas dan kebanggaan bangsa. Ia mengungkapkan bahwa Kementerian Pariwisata tengah menyiapkan platform digital berbasis AI untuk membantu wisatawan menyusun perjalanan yang dipersonalisasi — lengkap dengan rekomendasi kuliner, atraksi budaya, dan kerajinan lokal.

“Kami memiliki lebih dari 6.100 desa wisata yang berpotensi besar. Dengan dukungan DJKI, setiap produk lokal akan punya nilai ekonomi berkelanjutan,” jelasnya.

Baca Juga :   Menteri Ekraf Apresiasi Industri Perfilman Nasional

Sementara itu, Hermansyah Siregar dari DJKI menambahkan bahwa hingga kini Indonesia telah memiliki lebih dari 218 produk berstatus indikasi geografis, di mana 60 di antaranya merupakan kopi. Sertifikat IG terbukti meningkatkan reputasi dan nilai jual produk lokal di pasar global.

Tak hanya itu, Hermansyah juga menyinggung pentingnya kepatuhan royalti musik di sektor pariwisata — mulai dari hotel, restoran, hingga kafe.

“Royalti bukan pajak, tapi hak ekonomi pencipta. Dengan membayar royalti, pelaku wisata turut menghidupi seniman lokal,” tegasnya.

Menutup perbincangan, Menteri Widiyanti menyerukan gerakan nasional mencintai produk dan destinasi dalam negeri.

“Jelajahilah Indonesia. Setiap daerah punya cerita, budaya, dan cita rasa yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Baca Juga :   Gelar TFG , Polri Persiapkan Secara Matang Pengamanan Paus

Hermansyah menambahkan, “Daftarkan setiap karya cipta anak bangsa ke DJKI. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai hasil karyanya sendiri.”◾️Foto : Istimewa

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img