Oleh: Harry Tjahyono
Tahun 1981, saya sudah pengarang novel STD yang difilmkan Soekarno M Noor, skenario Sumandjaya, bintangnya Rano Karno dan Yessy Gusma artis top remaja saat itu. Saya juga nyanyi, Menunggu Eksekusi. Jadi, di Madiun, saya jadi “ikutan ngetop” di kalangan masyarakat kampung halaman. Hasilnya, beberapa anak muda Madiujln menemui saya du Jakarta., di rumah petak kontrakan tanpa listrik di Cipete, Jakarta Selatan. Itu saat yang sangat merepotkan, sehingga saya harus sewa satu rumah petak lagi, ngasih makan seadanya, dan mereka makin betah, tambah banyak yang datang. Hari ini, tentu masih ada salah satu anak muda Madiun yang ingat, dulu ikut “merantau” di Cipete.
Di antara mereka, ada dua anak muda drop out SMA, datang bawa beberapa lagu, namanya Nanang dan Endro. Saya tertarik mendengar melodinya, tapi syairnya jelek Saya ubah syairnya, direkam pakai gitar, dan untuk “membuktikan” bahwa saya “ngetop”, lagu mereka saya bawa ke Masheri Mansyur, jurnalis yang dekat dengan produser kaset. Saya ngecap, dan Nanang & Endro dikontrak satu album, sampai enam album. Vokal duet mereka bagus, lagunya oke, musiknya antara lain digarap Mas Murry Koes Plus. Endro yang tinggi ceking, rambutnya kribo kayak Ahmad Albar. Nanang agak pendek, wajahnya lumayan ganteng. Secara visual mereka keren. Saya optimistis mereka sukses. Tapi, keberuntungan tidak memihak mereka. Enam buah album mereka gagal di pasar.
Padahal, waktu bikin lagunya, hidup kami tirakat. Tidur berdempet di rumah petak tanpa listrik bersama beberapa anak muda Madiun. Saya nulis di rumah petak sebelah, mencari uang untuk menghidupi mereka yang untuk makan saja kadang menjebol singkong orang di kebun samping. Atau mancing ikan malam-malam di kolam milik orang. Keberuntungan, itu yang tidak memihak kami. Saya kira hanya itu alasannya.
Kini, Nanang & Endro sidah meninggal. Tapi, Endro tinggal cukup lama dengan saya. Juga saya ajak ke Bulungan, kenal Anto Baret, kemudian Endro jadi anak muda kesayangan. Dan anak muda kesayangan Anto Baret itu, ketika tewas di tikam badik di Cijantung, membuat Anto gelap mata, nyaris terjadi kekacauan dan kenekatan sejumlah besar kawan jalanan. Saya akan ceritakan nanti, setelah ingatan saya lempeng. Mengenang Endro, cukup membuat pikiran saya puyeng.***
Ketika Ibu saya sakit dan kemudian wafat, 27 Juni 1984, saya tinggalkan Cipete. Saya tinggalkan anak, istri yang sedang hamil tua, dan anak-anak muda Madiun yang ikut saya di Cipete. Saya tidak pedulikan mereka. Oktober 1984, saya, istri dan dua anak, satu masih bayi, kembali ke Jakarta naik kereta Gaya Baru. Saya dibekali uang yang oleh Mas Herutomo, kakak saya.
Di Jakarta, saya numpang di rumah mbakyunya istri, dua bulan kemudian ngontrak rumah petak di Jln. Palem IV, Petukangan Utara. Saya masih nganggur waktu kabar buruk itu tiba. Endro ditikam badik di daerah Cijantung. Endro alamat Hermanu, teman marinir yang baru pindah ke daerah itu. Endro tanya di lingkungan RT yang sedang bermusuhan dengan RT Hermanu. Waktu Endro jalan, ditusuk badik beracun dari arah belakang. Endro ambruk, dibawa ke RS Pasar Minggu, meninggal dengan sebagian tubuh membengkak kehitaman.
Saya dihubungi karena dianggap kakak. Saya langsung berangkat, tidak ke RS tapi ke Bulungan, mencari Anto Baret. Saya tiba di Bulungan masih sore, sekitar dua puluh taksi parkir di pinggir jalan. Karena tidak ketemu Anto, saya ke RS, dan kembali ke Bulungan sudah malam. Bulungan sudah ramai sekitar 100 an anak jalanan dari Kota, Senen, Sabang, Tanjung Priok dan daerah lain. Sebagian sedang mengasah clurit dan golok, sebagian menenggak berbagai minuman beralkohol.
Sejumlah teman marinir dan seniman, antara lain Mas Manthous musisi campursari dan musikus lain, duduk bergerombol dengan wajah sedih dan was-was.
Saya cari Anto, saya temukan jongkok di samping beberapa orang yang mengelilingi dan menyimak sebuah peta tulisan tangan. Tak jauh dari mereka, ada tiga atau empat kardus berisi bom molotov. Wajah Anto dan yang lain merah padam terbakar alkohol. Saya tidak minum karena sibuk ngurusi RS, hubungi keluarga Endro di Madiun, pemakaman di mana dan seterusnya. Oleh sebab itu, saya bisa melihat terang dan mendengar jelas Anto mendikte dan mengatur strategi di peta jelek itu. Keputusannya, malam itu juga RT tempat Endro dibunuh akan dibumi hangus. Nyawa mesti dibayar nyawa.
Saya miris. Saya tahu betul Anto. Kami pernah sama merasakan penjara, mengalami kelaparan sama, relasi pertemanan PREMS yang sama, botol dan gelas yang sama. Saya tahu persis Anto gelap mata. Kesurupan amarah sehingga “perang” malam ini akan pecah jadi “perang antaretnis”. Saya ingin menulis sketsa genting ini dengan tenang.
Teman marinir dan seniman, berharap saya bisa membujuk Anto Baret agar “perang antaretnis” tidak meledak. Taksi sudah disiapkan, pasukan ada, senjata dan bom molotov tersedia. Tengah malam, akhirnya saya bisa bicara dengan Anto. Selain saya juga Mas Teguh Esha. Suasana tegang. Saya bilang ruginya, Anto bicara labanya. Tapi saya tahu Anto punya pedoman jalanan, “Sikat, tertangkap, di penjara. Sikat, kabur, jadi buronan. Sikat, tidak diketahui, maka tidak dipenjara atau tidak buron. Yang ketiga itu paling bagus.”
Setelah ngobrol lewat dini hari, akhirnya Anto bersedia bumi hangus ditunda. Tentu ada yang protes, tapi tak ada yang melawan instruksi Anto. Esoknya, Endro dimakamkan di Blok B, Kebayoran Baru. Yang melayat banyak sekali. Polisi dan intel juga banyak banget. Pemakaman penuh. Saya kebagian pidato, dititipi pesan tertulis Anto. Saya pidato bahwa kami anggap itu musibah, tidak ada dendam, jangan ada pembalasan yang tidak perlu dlsb. Itu bukan untuk meredam amarah teman-teman, tapi lebih ditujukan pada aparat supaya mereka senang, tenang. Saya meneteskan air mata. Keluarga Madiun menyerahkan semuanya pada saya dan teman-teman Jakarta bagaimana baiknya. Endro itu anak tunggal, keponakan Mas Tri Besek Kecik Boys. Rumahnya di Jln. Bali, Madiun. Sampai 28 hari setelah Endro dimakamkan, keadaan baik-baik saja. Tapi, saya tahu Anto. Teman-teman seniman Bulungan tahu Anto. Begitu juga teman-teman jalanan di penjuru Jakarta.
Jalanan adalah “kantor” terpanjang di dunia. Segala jenis usaha ada di jalanan, termasuk pengamen. Dulu, teman-teman mengamen di Pasar Kaget, Blok M. Sesekali saya ikut ngamen sebentaran, 15 menit, buat beli susu anak. Anto, saya dan temen lain, sampai hari ini tetap menghormati jalanan, menghargai mereka yang “berkantor” di situ.
Minggu malam, 23 Juni 2004, Anto dan Dik Tuning mantu, menikahkan putrinya, Jingga. Saya pasti hadir bersama istri. Dengan kepala tegak dan kaki terseret pincang, saya akan menjabat tangan Anto. Menikmati getaran kesetiakawanan yang sudah kami pelihara selama 45 tahun lebih. Kini, meski tidak pernah kami keluhkan, saya dan Anto sudah tua, punya cucu, tidak dan jangan lagi “kesurupan”. Sekarang kami bisa memandang: alangkah indah hidup ini. Dengan stroke atau apapun, saya akan teguh menjalaninya. ***
Hartjah 22062024
Foto: Harry Tjahyono bersama Anto Baret. (Dok. Pribadi)
Harry Tjahyono adalah seorang wartawan dan seniman kelahiran Madiun. Pernah bekerjadi Majalah Zaman, Sarinah, Tabloid Bintang Indonesia; mencipta lagu, menulis novel, menulis skenario film dan sinetron, juga menjadi penyair.


