Baggio dikenal sebagai salah satu pemain paling berbakat pada masanya. Namun, setelah pensiun dari aktivitas sepak bola pada 2013, pria yang dijuluki The Divine Ponytail tersebut lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, mengurus lahan pertanian, memelihara hewan, serta mendalami ajaran Buddha.
Menurut laporan media Italia, Il Messaggero, Baggio tinggal di kawasan perbukitan Altavilla Vicentina, Provinsi Vicenza, Italia. Rumahnya berada jauh dari pusat kota, pertokoan, dan keramaian.
Di tempat tersebut, Baggio tinggal bersama istrinya, Andreina, dan kedua putra mereka. Kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk sepak bola menjadi pilihan mantan bintang Italia itu setelah puluhan tahun berada di bawah sorotan publik.
Bersinar di Juventus dan Meraih Ballon d’Or
Nama Baggio melejit berkat kemampuannya mengolah bola, visi permainan, serta ketajamannya di depan gawang. Puncak kejayaannya terjadi pada 1993 ketika ia meraih Ballon d’Or setelah tampil impresif bersama Juventus dan tim nasional Italia.
Dalam pemungutan suara yang melibatkan jurnalis UEFA, Baggio memperoleh 142 dari total 150 poin. Ia mengungguli Dennis Bergkamp dan Eric Cantona dalam perebutan penghargaan individu paling bergengsi di sepak bola tersebut.
Sepanjang 1993, Baggio mencetak 39 gol di seluruh kompetisi, termasuk 23 gol di Serie A, delapan gol di kompetisi Eropa, tiga gol di Coppa Italia, serta lima gol bersama tim nasional Italia. Ia juga mencatatkan 17 assist.
Bersama Juventus, Baggio berperan penting dalam keberhasilan klub menjuarai Piala UEFA. Ia mencetak gol-gol krusial, termasuk saat menghadapi Paris Saint-Germain pada semifinal dan Borussia Dortmund pada final.
Penampilannya bersama tim nasional Italia juga menjadi salah satu faktor penting yang mengantarkan Gli Azzurri ke Piala Dunia 1994. Italia kemudian melaju hingga partai final sebelum kalah dari Brasil melalui adu penalti.
Meski memiliki karier individu yang gemilang, Baggio tidak pernah meraih gelar Piala Dunia ataupun Liga Champions sepanjang kariernya.
Memilih Kehidupan Pedesaan setelah Pensiun
Keputusan Baggio meninggalkan dunia sepak bola profesional tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada 23 Januari 2013, ia mengakhiri tugasnya sebagai presiden Sektor Teknik Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).
Setelah itu, ia memilih mengalihkan perhatiannya ke kehidupan pribadi dan kecintaannya terhadap alam.
Baggio memang dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap alam dan kehidupan di luar sepak bola. Selain mengurus pertanian, ia juga memiliki properti berupa peternakan di Rivera, Argentina.
Hubungannya dengan Argentina terbilang dekat. Ia bahkan pernah mengungkapkan ketertarikannya terhadap klub Boca Juniors karena atmosfer dan fanatisme para pendukungnya.
Baggio juga memiliki hubungan erat dengan Jepang, salah satunya karena keyakinan spiritual yang dianutnya. Ia diketahui memeluk Buddhisme Nichiren setelah mengalami cedera serius yang mengancam kariernya pada 1985.
Sebelumnya, Baggio dibesarkan dalam tradisi Katolik Roma. Ia kemudian menjadi anggota organisasi Buddhis Soka Gakkai International.
Pengaruh keyakinannya bahkan terlihat dalam detail kecil sepanjang kariernya. Ban kapten yang dikenakannya memiliki warna biru, kuning, dan merah, serta tulisan berbahasa Jepang yang bermakna, “Kita menang. Kita harus menang.”
Tetap Menarik Perhatian Penggemar
Meski tidak lagi aktif di dunia sepak bola, Baggio tetap menjadi sosok yang menarik perhatian para penggemarnya. Ia sesekali membagikan potret kehidupannya melalui akun Instagram.
Salah satu unggahannya sempat memicu perbincangan karena penampilannya terlihat berbeda dari sosok yang dikenal publik. Namun, perubahan tersebut ternyata merupakan hasil penyuntingan foto yang sengaja dilakukan untuk mengecoh para pengikutnya.
Kini, Baggio lebih memilih menikmati kehidupan sederhana bersama keluarga dan menjalankan berbagai kegiatan di luar sepak bola. Sosok yang dahulu menjadi pusat perhatian di stadion itu seolah menemukan kebahagiaan melalui kedekatannya dengan alam dan kehidupan spiritual.
Berapa Nilai Penghargaan dan Prestasi Baggio dalam Rupiah?
Ballon d’Or merupakan penghargaan individu, bukan hadiah uang dengan nilai tetap yang diumumkan kepada setiap pemenang. Karena itu, tidak ada nominal resmi penghargaan Ballon d’Or 1993 yang dapat dikonversi ke rupiah.
Sementara itu, prestasi Baggio pada 1993 lebih tepat diukur melalui catatan gol, assist, dan keberhasilannya bersama Juventus serta tim nasional Italia, bukan berdasarkan nilai transfer tertentu.
Baggio meninggalkan warisan besar sebagai salah satu pesepak bola paling berbakat yang pernah dimiliki Italia. Meski tidak mengangkat trofi Piala Dunia, kehebatannya di lapangan membuat namanya tetap dikenang lintas generasi.
Kini, kehidupan Baggio menjadi gambaran bahwa setelah mencapai puncak karier dan merasakan popularitas dunia, seorang legenda sepak bola tetap dapat memilih jalan hidup yang lebih sederhana, jauh dari tekanan kompetisi dan sorotan publik.

