Lelaki Baja di Pinggiran Kota
Matahari boleh membakar kulitku, waktu boleh mengikis angka usiaku. Namun, jauh di lubuk dada ini, tak pernah tumbuh kata uzur, tak pernah bersemi kata menyerah.
Aku lelaki yang tetap tegak berdiri, menyusuri jalanan, mengais sisa kehidupan, memungut yang terbuang di antara puing-puing, menjadi pemulung di tengah hiruk-pikuk kota, menjadi buruh kasar yang memikul beban, dengan tangan legam dan punggung yang kian membungkuk.
Semua kulakoni tanpa banyak bicara, sebab hidup tak cukup hanya dengan keluh kesah. Ada keluarga yang menanti di rumah, ada harapan yang harus terus kuhidupi, dan ada martabat yang tak boleh kubiarkan runtuh.
Gubukku kecil di pinggiran kota, beratap rumbia, berdinding papan yang mulai lapuk. Saat hujan turun, angin menyelinap dari celah dinding, saat malam tiba, dingin datang tanpa permisi. Namun, di rumah sederhana itu, tak pernah kubiarkan harga diriku ikut rapuh, tak pernah kubuka pintu bagi keputusasaan.
Bagiku, keringat adalah mahkota kehormatan, dan setiap rupiah hasil jerih payah adalah bukti bahwa aku masih sanggup berdiri di atas kaki sendiri, tanpa harus menadahkan tangan demi belas kasihan orang lain.
Aku tak malu pada baju yang lusuh, tak gentar pada telapak tangan yang mengeras. Sebab kemuliaan bukan terletak pada pakaian, bukan pula pada megahnya rumah dan gemerlap harta, melainkan pada keberanian menjalani hidup, pada kejujuran dalam mencari nafkah, dan pada keteguhan menjaga kehormatan.
Biarlah tubuh ini dipagut lelah, biarlah malam hanya berselimut angin pinggiran. Esok, ketika fajar kembali menyingsing, aku akan bangkit dan melangkah lagi, menyambut hari dengan sisa tenaga, menghadapi hidup dengan dada terbuka.
Sebab aku lelaki baja yang ditempa kerasnya kehidupan, yang tak tunduk pada nasib, yang tak menyerah pada keadaan.
Aku mungkin tinggal di pinggiran kota, jauh dari gemerlap dan kemewahan dunia. Namun, selama masih ada keringat yang bisa kuteteskan, selama kedua tangan ini masih mampu bekerja, aku akan tetap berdiri dengan kepala tegak.
Dan ketika malam menutup hari, aku merebahkan tubuh di gubuk yang sederhana, dengan lelah sebagai saksi perjuangan, dengan doa sebagai teman kesunyian, dan dengan hati yang tenteram karena tak pernah menjual harga diri.
Sebab bagiku, menjadi lelaki bukan sekadar tentang kuatnya tubuh, melainkan tentang keteguhan hati, kejujuran dalam bekerja, dan keberanian untuk tetap bermartabat di tengah kerasnya kehidupan.
— Sanggar Humaniora Kamis, 22 Oktober 2026

