OLEH: Eddie Karsito
KETERBATASAN ekonomi tak menyurutkan semangat Suriah untuk menyekolahkan anaknya. Di tengah perjuangan mencari nafkah sebagai pemulung, perempuan yang kini menjadi orang tua tunggal itu tetap menggantungkan harapan pada pendidikan demi masa depan anak-anaknya yang lebih baik.
Selama lebih dari 15 tahun, Suriah bersama suaminya, Thoyib Abdullah Said, tinggal di kawasan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi. Pasangan yang berasal dari Dusun IV, RT 001/RW 008, Desa Pakusamben, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, itu menjalani kehidupan dengan mengais rezeki dari barang-barang bekas.
Kini, Suriah harus berjuang sendiri menghidupi kedua anaknya, Wiwit Rifia Ningsih (10) dan Muhammad Fauzan Asaid (5). Kondisi tersebut terjadi setelah suaminya menjalani perawatan di rumah sakit jiwa di kampung halaman mereka, Cirebon.

Di tengah segala keterbatasan, Suriah tetap berupaya agar Wiwit bisa mengenyam pendidikan. Saat ini, Wiwit duduk di kelas III SD Negeri VI Jatisampurna, Kota Bekasi.
Bagi Suriah, sekolah bukan sekadar tempat anaknya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan adalah jalan untuk membuka peluang kehidupan yang lebih baik, sekaligus harapan agar kelak anak-anaknya dapat memperbaiki nasib keluarga.
Setiap kali melihat Wiwit berangkat sekolah, Suriah menyimpan harapan besar. Di balik lelahnya mengais rezeki, ia percaya bahwa setiap huruf yang dipelajari anaknya merupakan bekal untuk menjemput masa depan yang lebih cerah.
Harapan itu pula yang membuatnya terus bertahan, meski kehidupan sehari-hari tidak selalu mudah. Ia rela mengesampingkan lelah dan menghadapi keterbatasan demi memastikan anaknya tetap bersekolah.
Buku dan alat tulis untuk melanjutkan mimpi
Jumat pagi (23/10/2026), Wiwit datang ke Sanggar Humaniora sebelum berangkat sekolah. Ia meminta buku dan alat tulis karena perlengkapan belajarnya hampir habis.
Kedatangan Wiwit menjadi potret sederhana tentang semangat seorang anak untuk terus belajar, sekaligus menggambarkan perjuangan sebuah keluarga yang berusaha mempertahankan harapan di tengah kesulitan ekonomi.

Wiwit merupakan satu dari 94 anak yang menjadi Pangamong Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan. Melalui pendampingan tersebut, anak-anak seperti Wiwit diharapkan tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih cita-cita, meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Bagi Wiwit, buku dan alat tulis mungkin merupakan perlengkapan sekolah biasa. Namun, bagi Suriah, keduanya memiliki arti yang jauh lebih besar: kesempatan bagi anaknya untuk terus melangkah menuju masa depan.
Sebab, di tengah kerasnya kehidupan, ada mimpi yang tak boleh berhenti tumbuh. Dan bagi seorang ibu yang berjuang dari hasil memulung, melihat anaknya tetap bersekolah adalah salah satu alasan terkuat untuk terus bertahan.
*Eddie Karsito, Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan


