TERMINALNEWS.ID, MANCHESTER – Situasi internal Manchester United kembali menjadi sorotan setelah kapten tim, Bruno Fernandes, mengisyaratkan bahwa para pemain tidak diizinkan berbicara kepada media.
Pernyataan singkat tersebut muncul setelah United bermain imbang melawan Leeds United dan memperpanjang tren negatif mereka.
Hasil imbang di kandang lawan membuat Manchester United belum meraih kemenangan dalam enam pertandingan terakhir. Dari 10 laga pertama di seluruh kompetisi musim ini, Setan Merah hanya mencatatkan dua kemenangan, yakni saat menghadapi FK Sabah di Liga Champions dan Ipswich Town, klub promosi yang mereka kalahkan dengan skor 5-2 di Premier League.
Rentetan hasil buruk tersebut memunculkan kritik terhadap kepemimpinan di tubuh klub. Legenda Manchester United, Roy Keane, menilai kelompok pemimpin tim terlalu pasif dalam upaya mengembalikan kendali dan mentalitas juara klub yang pernah mendominasi sepak bola Inggris.
Kini, persoalan yang dihadapi United dinilai tidak hanya berkaitan dengan performa di lapangan, tetapi juga berpotensi merambah ke hubungan internal klub.
Bruno Fernandes Tidak Boleh Bicara
Fernandes memunculkan tanda tanya setelah memberikan jawaban singkat kepada sejumlah jurnalis yang berusaha meminta keterangannya seusai pertandingan akhir pekan lalu.
“Saya tidak bisa bicara, saya tidak diizinkan,” ujar Fernandes ketika melewati para wartawan di area wawancara.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa para pemain Manchester United mendapat arahan untuk tidak memberikan komentar kepada media.
Menurut laporan The Sun, penyerang Matheus Cunha juga menyampaikan pesan serupa kepada seorang reporter asal Brasil. Meski pemain sepak bola kerap memilih tidak memberikan wawancara di area mixed zone, pernyataan Fernandes dan Cunha menimbulkan dugaan bahwa keduanya bukan sekadar menolak wawancara, melainkan merasa tidak memiliki izin untuk berbicara.
Hingga informasi dalam laporan tersebut, belum ada penjelasan resmi yang memastikan apakah klub memang memberlakukan larangan berbicara kepada media.
Situasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah bek Lisandro Martinez melontarkan kritik terhadap jajaran petinggi klub seusai Manchester United kalah 0-2 dari Atletico Madrid.
Martinez mempertanyakan kebijakan perekrutan pemain pada bursa transfer musim panas. Ia menilai komposisi skuad yang tersedia belum cukup kuat untuk bersaing secara serius di Premier League maupun Liga Champions.
Komentar tersebut dilaporkan berujung pada denda terhadap Martinez. Sang bek kemudian menyampaikan permintaan maaf setelah mengaku telah melakukan pembicaraan positif dengan pihak klub mengenai arah dan masa depan Manchester United.
Bukan Sekadar Taktik Michael Carrick
Persoalan yang dihadapi Manchester United dinilai jauh lebih kompleks daripada sekadar pemilihan pemain dan strategi pelatih Michael Carrick.
Kritik Martinez sebelumnya juga mengarah pada persoalan struktural klub. Menurut pandangan tersebut, pelatih tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan atas kesulitan yang terus berulang apabila masalah mendasar di dalam organisasi belum terselesaikan.
Sejak era Sir Alex Ferguson berakhir, Manchester United telah mengalami pergantian 11 manajer. Tidak satu pun mampu bertahan lebih dari dua musim penuh di Old Trafford. Ole Gunnar Solskjaer menjadi pelatih dengan masa jabatan terpanjang pada periode tersebut, yakni dari 2018 hingga 2021.
Ketidakstabilan di kursi pelatih itu memperkuat kekhawatiran bahwa persoalan United bukan semata-mata soal taktik, melainkan juga menyangkut manajemen, kebijakan transfer, serta kepemimpinan di dalam klub.
Sejumlah pendukung menilai masalah internal yang sempat mereda menjelang akhir musim lalu kini kembali mencuat.
Luapkan Kemarahan
Pernyataan Fernandes juga memancing reaksi keras dari para pendukung Manchester United di media sosial X.
Salah seorang pengguna mengungkapkan kemarahannya terhadap situasi tersebut. Pengguna lain menyebut keadaan itu sebagai sesuatu yang sangat memalukan dan sulit diterima.
Ada pula pendukung yang menilai insiden tersebut menjadi gambaran buruk kondisi klub saat ini. Bahkan, seorang pengguna menyebut Manchester United seolah-olah menerapkan sistem kediktatoran karena pemain diduga tidak bebas berbicara kepada media.
Reaksi tersebut memperlihatkan meningkatnya keresahan suporter terhadap kondisi klub, terutama ketika hasil pertandingan tidak kunjung membaik dan muncul pertanyaan mengenai transparansi manajemen.
Meski demikian, dugaan pembatasan komunikasi pemain kepada media masih perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi klub.
Bagi Manchester United, persoalannya kini bukan hanya bagaimana mengakhiri tren tanpa kemenangan, tetapi juga bagaimana memulihkan kepercayaan suporter dan memastikan seluruh elemen klub bergerak ke arah yang sama.
Jika persoalan internal terus menjadi sorotan, tekanan terhadap manajemen dan jajaran pelatih diperkirakan akan semakin besar.

