TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Tepat pada Sabtu, 19 September 2026, legenda sepak bola Indonesia Yudo Hadianto genap berusia 85 tahun. Di usia senja, mantan kiper tim nasional Indonesia itu masih menunjukkan kecintaannya terhadap sepak bola. Lapangan dan stadion tetap menjadi tempat yang tak pernah membuatnya bosan.
Perjalanan Yudo di sepak bola Indonesia menyimpan banyak cerita. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika pria kelahiran Solo tersebut memperkuat tim Sumatera Utara pada Pekan Olahraga Nasional (PON) VII di Sumatera Utara pada 1969. Saat itu, Yudo berhasil ikut mempersembahkan medali emas bagi Sumut.
Yudo tampil untuk Sumatera Utara karena ketika itu dirinya dikontrak klub Perdetex Medan. Klub tersebut memiliki peran penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. Pada akhir 1960-an, Perdetex menjadi salah satu klub yang menghimpun banyak pemain bintang nasional, jauh sebelum era Galatama.
Pemilik klub, TD Pardede, ketika itu disebut berhasil merekrut sejumlah pemain tim nasional, di antaranya Yudo Hadianto, Iswadi Idris, Abdul Kadir, Jacob Sihasale, Max Timisela, M. Basri, Sinyo Aliandu, Mulyadi alias Fam Tek Fong, dan Soetjipto Soentoro.

Dijuluki “Harimau Tangkap Kelinci”
Dalam catatan mBah Coco, Yudo merupakan salah satu kiper Indonesia yang memiliki gaya bermain khas. Jika Lev Yashin dikenal dengan julukan “The Black Spider”, Yudo memiliki julukan yang tak kalah unik, yakni “Harimau Tangkap Kelinci.”
Julukan itu menggambarkan gerakan Yudo ketika berada di bawah mistar. Ia dikenal memiliki kemampuan terbang dan refleks yang sulit ditebak lawan.
Meski memiliki postur yang relatif kecil untuk ukuran seorang penjaga gawang, Yudo mampu menghadapi sejumlah pemain dunia yang datang ke Indonesia dalam berbagai pertandingan dan tur internasional pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an.
Nama-nama besar seperti Pele, Johan Cruyff, Franz Beckenbauer, hingga Socrates pernah menjadi bagian dari lawan-lawan yang dihadapi tim Indonesia dalam pertandingan melawan klub-klub besar dunia.
Medali Asian Games 1962 yang Tak Terlupakan
Salah satu bagian terpenting dalam karier Yudo adalah ketika memperkuat tim nasional Indonesia di Asian Games 1962 di Jakarta.
Ketika itu, Yudo tampil di Stadion Utama Senayan—yang kini dikenal sebagai Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ia menjadi bagian dari skuad Indonesia yang berhasil meraih medali perunggu.
Menurut Yudo, kesempatan menjadi kiper utama tim nasional saat itu tak lepas dari situasi yang dialami Maulwi Saelan.
“Maulwi kasih posisi kiper ke saya. Dengan pemain gabungan senior dan yunior, akhirnya tim nasional Asian Games 1962 meraih medali perunggu,” ujar Yudo mengenang masa tersebut.
Skuad Indonesia saat itu dihuni sejumlah pemain terkenal, antara lain Tan Liong Houw, Iswadi Udin, Fatah Hidayat, Emen Sumawarman, Hengki Timisela, dan sejumlah pemain dari berbagai klub besar Indonesia.
Yudo menilai skuad tersebut sebenarnya memiliki potensi besar.
“Umpama tidak ada skandal Senayan, tim nasional dipersiapkan untuk meraih medali emas. Karena banyak pemain-pemain skill tinggi dan cerdas, seperti Omo Suratmo, Wowo Sunarto, Ade Dana, Anjik Ali Nurdin, yang rata-rata dari Persib Bandung, tersandung kasus skandal Senayan,” katanya.
Medali perunggu Asian Games 1962 tersebut hingga kini menjadi salah satu pencapaian bersejarah sepak bola Indonesia di ajang Asian Games.
Kisah Sepak Bola yang Berlanjut hingga Generasi Ketiga
Ada pula kisah unik yang membuat Yudo selalu teringat pada perjalanan panjangnya di dunia sepak bola.
Yudo memiliki hubungan panjang dengan keluarga Darmadi, striker Persis Solo yang juga pernah menjadi seniornya di tim nasional dan Indonesia Muda.
Dua putra Darmadi, Didik dan Adityo Darmadi, kemudian juga berkiprah di kompetisi sepak bola Indonesia. Bahkan, beberapa tahun lalu, Yudo turut melatih Adixi Lenzivio, putra Adityo Darmadi, yang berposisi sebagai kiper.
“Lucu ya, satu keluarga dari bapak, anak sampai cucunya, semuanya bareng-bareng di lingkungan bola dengan saya,” ujar Yudo sambil tertawa.
Yudo dan Darmadi sama-sama berasal dari Solo. Yudo sendiri merupakan putra Kampung Laweyan, kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra batik di Solo.

Yudo Dorong Pembinaan Sepak Bola dari Usia Dini
Di usia 85 tahun, perhatian Yudo terhadap sepak bola usia muda juga tidak berkurang.
Ketika ditanya mengenai kompetisi grassroots yang dibangun mBah Coco bersama sejumlah wartawan veteran, Yudo menekankan pentingnya pembinaan pemain sejak usia dini.
“Diakui atau tidak oleh PSSI, menurut saya, membangun bola itu ya dari usia muda. Mereka adalah penerus kami-kami ini,” tuturnya.
Menurut Yudo, anak-anak harus mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus dibentuk dengan nilai kerja keras, kejujuran, sportivitas, dan kesehatan.
Ia juga menilai komunikasi antara orang tua dan pelatih sangat penting agar pemain muda tidak cepat merasa besar kepala ketika mendapatkan pujian.
Yudo memberikan perhatian khusus terhadap peran talent scouting dalam kompetisi usia muda. Ia menyebut sejumlah mantan pemain nasional seperti Berti Tutuarima, Maman Suryaman, Patar Tambunan, dan Tias Tono Taufik sebagai sosok yang memiliki pengalaman untuk membantu menemukan talenta-talenta muda.
Kritik Yudo: “PSSI Tak Punya Kantor Permanen”
Pada usia 85 tahun, Yudo juga masih menyimpan sejumlah kritik terhadap pengelolaan sepak bola nasional.
Salah satu yang menjadi sorotannya adalah persoalan kantor PSSI.
Dalam perbincangan tersebut, Yudo menyebut bahwa sepanjang pengalamannya mengikuti sepak bola Indonesia, PSSI belum memiliki kantor permanen milik sendiri.
“Pasalnya, sampai hari ini, PSSI tak punya kantor secara permanen. Sejak dulu, sampai saya umur 85, hanya nyewa kantor,” kata Yudo.
Menurutnya, keberadaan kantor permanen merupakan salah satu bagian dari keseriusan sebuah organisasi dalam membangun sepak bola secara berkelanjutan.
“Bagaimana mau ngurus bola dengan serius, kalau selama saya di sepak bola, nggak pernah ada kantor permanen. Gimana mau serius membangun prestasi?” ujarnya.
Kritik tersebut disampaikan Yudo sebagai bagian dari refleksi panjangnya setelah lebih dari enam dekade berada di lingkungan sepak bola Indonesia.
Sepak Bola Adalah “Obat” di Usia 85 Tahun
Perayaan ulang tahun ke-85 Yudo Hadianto berlangsung sederhana di Lapangan PSF MBAU, Pancoran, Jakarta Selatan. mBah Coco mengundang Yudo bersama keluarga untuk merayakan hari istimewa tersebut.
Yang menarik, meski telah berusia 85 tahun, Yudo mengaku tidak pernah kehilangan keinginannya untuk datang ke lapangan maupun stadion.
Ketika ditanya apa resepnya sehingga masih bersemangat menyaksikan sepak bola, jawabannya sederhana.
“Hidup saya sudah selesai. Nggak ada lagi yang mau saya cari. Makanya, nonton bola adalah obat, vitamin dan hiburan saya di usia 85 tahun,” kata Yudo.
Pada hari ulang tahunnya, Yudo datang bersama istri, anak, menantu, dan cucu. Sebuah gambaran bahwa sepak bola bukan sekadar perjalanan profesi bagi dirinya, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan dan keluarganya.
Selamat ulang tahun ke-85, Papi Yudo Hadianto
Di usia 85 tahun, kecintaan kepada sepak bola ternyata masih terus menyala.

