TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Musik dan seni pertunjukan malam itu tidak sekadar menjadi hiburan. Di Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, panggung justru menjadi ruang untuk merawat kepedulian terhadap anak-anak penyintas kanker.
Konser amal bertajuk “Untuk Indonesia” digelar pada Kamis (27/8/2026) sebagai bagian dari penggalangan dana bagi anak-anak penyintas kanker. Kegiatan tersebut digagas Elang Production bersama Yayasan Gema INDONESIA Jaya, dengan menggandeng Yayasan Kanker Anak Indonesia serta Celltech Stem Cell Centre yang dipelopori Prof. Dr. Deby Vinski, MScAA, PhD.
Pesan kemanusiaan terasa kuat sejak pertunjukan dimulai. Bagi penyelenggara, kanker boleh menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang anak, tetapi tidak semestinya menghapus kesempatan mereka untuk bermimpi.

Ketika Panggung Menjadi Ruang Kepedulian
Konser “Untuk Indonesia” mempertemukan musik, tari, budaya, dan aksi sosial dalam satu pergelaran. Sejumlah seniman lintas generasi tampil membawa pesan tentang kecintaan terhadap Indonesia sekaligus pentingnya empati kepada sesama.
Salah satu sosok yang menjadi pusat perhatian adalah Guruh Sukarno Putra. Melalui musik dan koreografi, ia menghadirkan gambaran Indonesia yang kaya akan tradisi dan kebudayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Guruh menekankan bahwa mencintai Indonesia tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar.
“Mencintai Indonesia tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Kecintaan itu dapat dimulai bagaimana seseorang melihat dan menghargai lingkungan serta kehidupan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Pesan tersebut kemudian diperluas melalui pertunjukan yang kental dengan nuansa Nusantara. Unsur budaya Bali, mulai dari gamelan, gong kebyar hingga gerak tari, berpadu dengan elemen seni lainnya. Keberagaman itu menjadi gambaran tentang Indonesia yang hidup dari perbedaan.
Bagi Guruh, persoalan kebudayaan bukan sekadar menjaga warisan masa lalu. Ia juga menyoroti masih banyak anak Indonesia yang belum cukup mengenal negeri dan kebudayaannya sendiri.
“Saya menyadari begitu banyak anak Indonesia tidak mengenal Indonesia, budaya Indonesia. Kita perlu sadari bersama,” katanya.
Dari Musik ke Aksi Nyata
Konser tersebut tidak berhenti pada pesan moral. Kepedulian diwujudkan melalui penggalangan dana dan lelang amal.
Sejumlah wastra karya Guruh Sukarno Putra, karya wastra anak-anak penyintas kanker, serta karya dari Ndara Pearls dilelang kepada para tamu. Dari kegiatan tersebut terkumpul dana sekitar Rp200 juta yang kemudian disumbangkan kepada Yayasan Kanker Anak Indonesia.

Aksi tersebut menunjukkan bagaimana panggung seni dapat bergerak lebih jauh: bukan hanya membangun kesadaran, tetapi menghasilkan dukungan yang dapat dirasakan langsung oleh penerima manfaat.
Konser juga menjadi momentum peluncuran Paduan Suara Gema Indonesia binaan Guruh Sukarno Putra. Pergelaran dipandu Soraya Haque dan Ai Syarief, dengan dukungan penata musik Willy Aviantara, musisi dan produser yang telah lama berkarya di dunia pertunjukan, teater, dan perfilman.
Sejumlah nama turut mengisi panggung, di antaranya Marcell Siahaan, Kinarya GSP, Putri GSP, Gema Indonesia, serta I Ketut Gunawan Sandika.
Penampilan juga melibatkan para gadis sampul seperti Starrisya Andhita, Fae Bernice Robin, Jane Callista, dan Kacamelyv Prakaca. Sementara itu, Melvina Patricia, yang merupakan penyintas kanker dan telah pulih, hadir memberikan warna tersendiri dalam acara tersebut.
Mengubah Empati Menjadi Gerakan
Ketua Panitia Pelaksana Konser Amal “Untuk Indonesia”, Ai Syarief, mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya untuk mengumpulkan bantuan biaya medis.

Menurutnya, anak-anak yang menjalani perjuangan melawan kanker membutuhkan dukungan dalam berbagai aspek, termasuk secara psikologis. Karena itu, penguatan budaya filantropi menjadi bagian penting dari kegiatan.
“Acara ini tidak hanya bertujuan mengumpulkan dana medis, tetapi juga memberikan dukungan psikologis dan membangun kesadaran filantropi,” ujar Ai Syarief.
Ia juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi keluarga pasien kanker anak, terutama terkait tingginya biaya pengobatan serta belum meratanya fasilitas dan tenaga dokter spesialis kanker anak di berbagai daerah.
Ketika layanan belum tersedia secara memadai di daerah, pasien kerap harus dirujuk ke rumah sakit di kota-kota besar. Kondisi itu membuat keluarga menghadapi tambahan beban berupa biaya perjalanan, tempat tinggal, hingga kebutuhan sehari-hari selama menjalani pengobatan.
Ribuan Anak Masih Membutuhkan Dukungan
Urgensi persoalan tersebut semakin terlihat dari jumlah kasus kanker anak di Indonesia. Mengacu pada data Kementerian Kesehatan RI dan Global Cancer Observatory (Globocan) yang disebut dalam kegiatan tersebut, sekitar 11.000 hingga 11.156 anak di Indonesia didiagnosis kanker setiap tahun, sementara tingkat keberhasilan pengobatan masih disebut berada di bawah 30 persen.

Di tengah kondisi itu, berbagai yayasan dan komunitas sosial terus bergerak memberikan dukungan, mulai dari penyediaan donor darah, bantuan biaya, rumah singgah hingga pendampingan psikososial.
Konser “Untuk Indonesia” mencoba mengambil bagian dalam gerakan tersebut dengan pendekatan yang berbeda: menjadikan seni sebagai pintu masuk untuk menggerakkan kepedulian.
Lebih dari 200 Tokoh Hadir
Dewan Pengawas Yayasan Gema INDONESIA Jaya, Gamal Putra, menyebut lebih dari 200 tokoh publik dan berbagai elemen filantropi hadir menyaksikan konser tersebut.
Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai acara sesaat, tetapi berkembang menjadi gerakan kepedulian yang berkelanjutan.
“Melalui langkah nyata yang konsisten, dampak yang dihasilkan tidak hanya dirasakan sesaat, tetapi mampu membawa perubahan jangka panjang bagi pihak yang membutuhkan,” kata Gamal.
Menurutnya, kehadiran Yayasan Gema INDONESIA Jaya merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan sosial.
“Menggerakkan potensi bersama untuk menyelesaikan masalah sosial di lingkungan sekitar berdasarkan prinsip keikhlasan, pengabdian, bekerja tanpa pamrih demi kepentingan bangsa dan masyarakat luas,” ujarnya.
Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain Sallyana Sorongan selaku Ketua Yayasan Kanker Anak Indonesia, Prof. Dr. Deby Vinski, Dr. Kun Wardana Abyoto, Debby Sahertian, dan Reza Headline.

Hadir pula sejumlah tokoh masyarakat, artis, selebritas, seniman, wartawan, budayawan serta filantropis, di antaranya Widiyono, Tania, Meggy Awaloedin Djamin, Martina, Meiske, dan Patria Mulyadi.
Konser tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk Deheng House, Viva Cosmetics, Batik Chic, Ai Syarif 1965, PT Kara Santan Pertama, Vivi Nici, Al Hayyu Carpets, MW Music Studio, Quantum Group, Ndara Pearls, serta berbagai lembaga donor.
Pada akhirnya, “Untuk Indonesia” tidak hanya berbicara tentang bagaimana mencintai negeri melalui seni. Panggung malam itu juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada Indonesia dapat diwujudkan dengan hal yang sederhana namun berdampak: melihat penderitaan orang lain, membuka ruang bagi mereka untuk berharap, lalu hadir memberikan bantuan.

