JAKARTA,TERMINALNEWS.ID Legenda sepak bola Indonesia, Berti Tutuarima, yang kini bertugas sebagai pemandu bakat di kompetisi Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026, melontarkan kritik tajam terhadap kualitas pembinaan di ajang tersebut. Dalam wawancara khusus di sela-sela pertandingan di lapangan PSF, Minggu (23/8), eks kapten timnas era 1970-an-1980-an itu menyoroti dua masalah utama: dominasi permainan individu dan lemahnya peran pelatih dalam mengarahkan anak asuhnya.
Berti mengungkapkan keprihatinannya melihat rata-rata pemain di kompetisi ini masih bermain egois dan mengandalkan kemampuan individu. “Sepak bola modern adalah tentang kerja sama. Mestinya main umpan-umpan pendek, cepat kirim bola ke depan, tidak ditahan-tahan,” ujarnya tegas. Menurutnya, di usia U-15 yang merupakan fase krusial perkembangan pemain, pemahaman taktik kolektif seharusnya sudah mulai tertanam. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan kebalikannya.
Ia menilai akar masalah utama terletak pada kualitas pelatih. “Pelatih yang pintar akan bisa mengarahkan cara bermain anak asuhnya saat di lapangan,” katanya. Namun, Berti menyayangkan bahwa sebagian besar pelatih di kompetisi ini bukanlah mantan pemain, sehingga pemahaman mereka tentang dinamika pertandingan dan pengambilan keputusan taktik sangat terbatas. “Pemahamannya tidak sampai ke sana,” sindirnya.
Dari 16 tim yang berlaga, Berti memberikan contoh dua tim dengan progres yang sangat kontras. Tim Maesa Parariders disebutnya sebagai contoh positif. “Mereka yang awalnya saya lihat masih berantakan, seiring waktu mulai memperlihatkan peningkatan, mulai dari team work, antar pemain ada pengertian. Mereka yang paling maju dibanding tim-tim lain,” paparnya.
Sebaliknya, ia mencela habis-habisan Real Jakarta yang dinilainya tidak menunjukkan perbaikan sama sekali. “Mereka tidak ada progres di segala aspek, perorangan, tim, strategi, dan taktik permainan,” ujar Berti. Ia mencontohkan kekalahan memalukan 0-5 dari Bina Mutiara pada pertandingan terakhir, di mana Real Jakarta justru datang lebih dulu dan lebih siap, sementara lawan datang terlambat. “Ini menunjukkan mereka sangat kurang di hampir semua aspek, terutama fisik. Di pertandingan-pertandingan mendatang, mereka sebaiknya perbaiki fisik dulu sebelum bicara aspek teknis,” sarannya.
Berti juga menyoroti dampak jadwal kompetisi yang padat dan berpindah tempat. “Sangat mempengaruhi, penampilan mereka di kompetisi ini jadi naik turun dan itu tidak bagus untuk talent scouting, karena permainan tidak konsisten. Kualitas boleh bagus tapi buat apa jika tidak konsisten, karena ini balik lagi ke daya tahan fisik,” jelasnya.
Meski mengkritik, Berti mengakui bahwa event ini sangat bermanfaat bagi pemain muda yang jam terbangnya masih sedikit. “Apalagi jika ketemu tim-tim berkualitas bagus, maka lewat itu pemain yang tadinya biasa-biasa saja punya peluang untuk memperbaiki cara permainan, mengetahui cara permainan lawan, sehingga dari sana mereka bisa belajar dan tumbuh sebagai pemain yang paham teknik dan permainan secara lebih dalam,” ujarnya.
Legenda yang lahir pada 9 Desember 1957 ini berharap para pelatih segera introspeksi dan meningkatkan kapasitas mereka. Menurutnya, pembinaan usia muda tidak bisa setengah-setengah. Jika masalah ini dibiarkan, maka siklus kegagalan pembinaan pemain muda akan terus berulang dan generasi emas yang diidam-idamkan hanya akan tinggal angan-angan. “Ini tergantung kepada pelatih,” pungkas Berti, menekankan bahwa masa depan sepak bola Indonesia ada di tangan para pendidik di lapangan.

