LONDON, TERMINALNEWS.ID – Mantan striker Arsenal, Nicklas Bendtner, mengungkapkan bahwa dirinya pernah terlibat pertikaian sengit dengan rekan setimnya sendiri, Emmanuel Adebayor.
Meski hanya terpaut satu tahun usia, keduanya kerap bersaing untuk satu posisi di lini depan The Gunners. Rivalitas mereka memuncak dalam laga Carling Cup tahun 2008 melawan rival sekota, Tottenham Hotspur.
Bendtner, yang membela Arsenal dari tahun 2005 hingga 2014 dengan catatan 171 penampilan dan 47 gol, menceritakan kembali insiden panas tersebut dalam wawancaranya pada tahun 2020. Pemain asal Denmark itu menyebut bahwa Adebayor adalah satu-satunya rekan setim yang benar-benar tidak pernah akur dengannya.
Insiden terjadi pada Januari 2008 dalam laga semifinal Carling Cup melawan Tottenham. Saat itu, Arsenal tengah tertinggal 4-1 dan bersiap menghadapi situasi tendangan sudut. Ketegangan memuncak ketika Bendtner—yang sebelumnya mencetak gol bunuh diri—beradu fisik dengan Adebayor di tiang jauh.

Pertikaian keduanya semakin panas dan disebut-sebut melibatkan aksi headbutt dari Adebayor, sebelum akhirnya William Gallas turun tangan memisahkan mereka. Gallas bahkan sempat memarahi Bendtner, sementara Eduardo da Silva dan Bacary Sagna menenangkan Adebayor. Arsenal akhirnya tersingkir dari kompetisi usai kalah telak 5-1, hasil yang semakin memperburuk suasana.
Statistik Bendtner vs Adebayor di Arsenal
| Pemain | Penampilan | Gol | Assist |
|---|---|---|---|
| Nicklas Bendtner | 171 | 47 | 22 |
| Emmanuel Adebayor | 142 | 62 | 18 |
Bendtner: “Kami Tidak Pernah Bisa Akur”
Dalam podcast resmi Arsenal bertajuk In Lockdown, Bendtner menjelaskan bagaimana konflik itu bermula. “Dia bukan tipe orang yang cocok dengan saya,” ujar Bendtner. “Saya cukup akrab dengan sebagian besar pemain di tim, tapi dengan dia? Tidak.”
“Saat itu dia masuk sebagai pemain pengganti, dan ada momen di mana saya merasa dia tidak diberi umpan. Kami adu mulut, lalu saling berhadapan. Dia mendorong kepala saya dan mengenai hidung saya. Lalu Gallas datang dan memisahkan kami.”
Bendtner juga mengakui bahwa pertandingan itu menjadi salah satu momen terburuk dalam kariernya. “Kami tampil sangat buruk. Saya kecewa dengan performa tim dan diri sendiri. Insiden itu jelas membuat semuanya jadi lebih buruk.”

Keesokan harinya, keduanya dipanggil ke ruang pelatih dan dikenai denda. Sejak saat itu, mereka memilih menjaga profesionalisme di lapangan, meski hubungan pribadi mereka tak pernah pulih.
“Kami tidak pernah berusaha memperbaiki hubungan,” ujar Bendtner. “Tapi kami belajar untuk tetap respek terhadap klub dan tim. Kami akan bermain untuk satu tujuan saat di lapangan, tapi kami bukan teman. Kalau dia punya peluang emas, tentu saya akan tetap mengoper bola. Itu tidak pernah berubah.”
Dalam wawancara lainnya bersama TalkSPORT, seperti dilansir Daily Mail, Bendtner menambahkan bahwa insiden tersebut menjadi pelajaran berharga dalam dunia profesional. “Itu adalah cara belajar bagaimana bekerja sama dengan orang yang tidak kita sukai,” katanya.


