BABAK PERTAMA dimulai dengan harapan. Satu gol. Keunggulan 1-0. Rasanya seperti kita bisa pulang dengan 3 poin.
Tapi Singapura bukan Singapura 10 tahun lalu. Di bawah Gavin Lee, The Lions belajar sabar dan disiplin.
Komentar dari kubu Singapura:
Kapten Hariss Harun menegaskan mental timnya sebelum laga:
“Kami bermain untuk mendapatkan hasil positif. Kami menjalankan rencana permainan dengan disiplin dan berhasil mewujudkannya”
Dan setelah menang, Gavin Lee juga memuji progres timnya:
“Dari segi penampilan, ini jauh lebih baik daripada saat melawan Kamboja. Kami mengumpulkan beberapa kemenangan kecil di lapangan… apresiasi untuk para pemain, mereka mengambil peluang dan mencetak dua gol yang bagus”
Menit demi menit mereka menekan. 1-1.
Lalu petaka datang di babak kedua. Satu celah, satu gol. 2-1. Stadion bergemuruh.
Dari kubu Indonesia:
Pelatih John Herdman sebelumnya sudah mengingatkan soal kondisi tim:
“Mereka belum bermain selama 90 menit… Mereka memberikan effort yang luar biasa. Kami akan secara strategis merotasi para pemain”
Bek Shayne Pattynama juga sempat bilang habis lawan Timor Leste:
“Hai guys terima kasih atas dukungan kalian di pertandingan ini” — tapi malam ini dukungan itu belum cukup.
Statistik bilang kita unggul ranking. 118 vs 148. Tapi di lapangan, ranking tidak mencetak gol. Yang mencetak gol adalah disiplin, transisi cepat, dan mental yang tidak kenal lelah.
Lagi-lagi sayap Garuda patah di Singapura. Lagi-lagi kita harus belajar.
Tapi kata Herdman, rotasi dan evaluasi akan jadi kunci menghadapi laga berikutnya.
Garuda belum mati. Cuma istirahat buat terbang lebih tinggi. (Tommy R. Arief)

