OLEH: Tommy R. Arief
Bukti bahwa membangun grassroot / akademi yang baik jauh lebih penting dari pada sekadar membangun timnas yang hebat.
Piala Dunia 2026 selesai. Tiga negara, satu pelajaran: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Dan buat Indonesia, ini tamparan keras.
Kalau mau lolos ke Piala Dunia, jawabannya cuma satu: kembali ke grassroot.
Lihat Spanyol. Luar biasa. Dan layak.
Mereka menang bukan karena 11 pemain. Tapi karena 11 ribu anak di akademi yang dilatih dengan cara yang sama sejak umur 8 tahun.
Argentina habis. Speed-nya kalah. Tenaganya habis di menit 70.
Padahal stok pemain mudanya ada: Nico Paz yang bawa Como ke Liga Champions. Garnacho dari MU. Almada, Echeverri… namanya bejibun.
Tapi kok nggak nyetel? Karena mereka ditempa di klub yang beda-beda, sistem yang beda-beda. Pas ketemu, ibarat 11 solois, bukan 1 orkestra.
Sementara Spanyol? Muda-muda semua.
Lamine Yamal
Sekarang Juli 2026, anak yang sama udah main di final Piala Dunia senior dan jadi pembeda.
Itu bukan ajaib. Itu sistem. Itu grassroot.
Pelajarannya buat kita:
Stadion megah tanpa akademi = panggung tanpa aktor.
Timnas kuat tanpa liga kelompok umur = gelembung sabun.
Cuan dari event boleh besar, tapi kalau akar rumputnya kering, pohonnya nggak akan pernah tinggi.
Mau ke Piala Dunia 2030, 2034?
Mulainya bukan dari naturalisasi.
Mulainya dari Manahan, dari Sleman, dari Gelora Delta, dari lapangan tanah di kampung.
Bangun lapangan. Bayar pelatih usia dini. Bikin liga U-12, U-15 jalan terus.
Karena Yamal hari ini, adalah bukti.
Tahun 2026 guncang dunia.
Mari kita jaga silaturahmi sesama anak bangsa pecinta sepak bola.
Menang kalah itu biasa. Tapi membangun dari bawah, itu wajib.
#GrassrootsAdalahJawaban #GarudaMendunia #PialaDunia2026
*Tommy R. Arief, Jurnalis senior



