JAKARTA,TERMINALNEWS.ID-| Sebuah film tak sekadar ditonton, melainkan dirasakan. Itulah yang terjadi pada pemutaran film Na Willa di Surabaya, ketika kenangan lama menjelma menjadi pertemuan yang mengharukan.i sebuah studio di Tunjungan Plaza, Surabaya, penulis sekaligus sumber inspirasi cerita, Reda Gaudiamo, duduk berdampingan dengan sahabat masa kecilnya, Farida. Keduanya dipertemukan kembali setelah puluhan tahun terpisah sebuah perjumpaan yang bukan hanya personal, tetapi juga menjadi bagian dari kisah yang kini hidup di layar lebar.
Na Willa sendiri lahir dari ingatan masa kecil Reda di Krembangan, Surabaya. Di sanalah persahabatan sederhana, penuh tawa dan kehangatan, tumbuh tanpa disadari akan menjadi cerita yang menyentuh banyak orang di kemudian hari.
Saat adegan demi adegan bergulir, emosi pun tak terbendung. Farida berkaca-kaca ketika menyaksikan potongan kenangan yang terasa begitu dekat momen mengaji bersama, kebersamaan yang dulu terasa biasa, kini hadir sebagai fragmen berharga dari masa lalu.
Dalam film tersebut, sosok Farida kecil dihidupkan oleh Freya Mikhayla, sementara tokoh Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena. Keduanya menghadirkan potret masa kanak-kanak yang jujur tentang persahabatan, kepolosan, dan kehangatan yang sering kali luput dari perhatian saat dijalani.
Bagi Reda, kembali ke Surabaya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin. Ia kembali mengunjungi Krembangan, menyusuri jejak masa kecil, hingga akhirnya memeluk kembali sahabat yang pernah ia tinggalkan dengan janji akan segera pulang.
Janji itu, yang dulu terasa sederhana, baru terwujud setelah lebih dari enam dekade. Waktu boleh berjalan jauh, tetapi kenangan tetap tinggal menunggu untuk dipertemukan kembali.
Film Na Willa pun melampaui fungsi hiburan. Ia menjadi ruang untuk pulang ke masa kecil, ke keluarga, dan ke relasi yang pernah menghangatkan hidup. Tak heran jika film ini mendapat apresiasi luas, termasuk dari Ernest Prakasa, yang menilai Na Willa berhasil memadukan kekuatan cerita dan visual dengan pendekatan yang peka dan jujur.
Pada akhirnya, Na Willa bukan hanya kisah tentang Reda atau Farida. Ia adalah cermin bagi banyak orang tentang persahabatan yang tulus, janji yang tertunda, dan kerinduan yang akhirnya menemukan jalannya pulang.


