SURAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di halaman Keraton Kasunanan Surakarta, tradisi kembali dipanggil untuk hadir. Bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai ingatan kolektif yang terus dirawat. Grebeg Syawal, yang digelar setiap Idulfitri, sekali lagi memperlihatkan bagaimana budaya Jawa menegosiasikan makna antara sakralitas, kekuasaan, dan partisipasi publik.
Gunungan tumpukan hasil bumi yang diarak oleh abdi dalem menjadi pusat perhatian. Ia bukan hanya simbol kemakmuran, tetapi juga representasi dari konsep kesejahteraan yang “diturunkan” dari pusat kekuasaan kepada rakyat. Dalam konteks historis, tradisi ini berakar dari masa Sultan Agung, ketika kerajaan tidak hanya berfungsi sebagai entitas politik, tetapi juga sebagai penjaga harmoni kosmis.
Namun, di titik inilah Grebeg menjadi menarik untuk dibaca ulang.
Prosesi perebutan isi gunungan oleh masyarakat kerap dimaknai sebagai perburuan berkah. Warga percaya, apa pun yang didapat dari gunungan akan membawa keberuntungan. Tetapi di balik itu, tersimpan lapisan makna lain: tentang bagaimana distribusi simbolik kesejahteraan dipertontonkan secara terbuka dan diterima tanpa banyak pertanyaan.
Ada relasi kuasa yang bekerja secara halus. Keraton memberi, rakyat menerima. Dalam bingkai tradisi, relasi ini tampak harmonis. Namun dalam perspektif yang lebih kritis, ia juga bisa dibaca sebagai bentuk legitimasi kultural atas struktur sosial yang sudah lama mengakar.
Di sisi lain, Grebeg Syawal juga telah bertransformasi. Ia tidak lagi berdiri semata sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai komoditas pariwisata. Ribuan orang datang ke Surakarta, bukan hanya untuk mencari berkah, tetapi juga untuk menyaksikan “peristiwa budaya” yang unik dan fotogenik.
Transformasi ini membawa konsekuensi: sakralitas yang perlahan berdampingan dengan spektakel.
Pertanyaannya, apakah ini bentuk pelestarian atau justru reproduksi makna yang semakin menjauh dari akar filosofisnya?
Di tengah arus modernitas dan industri wisata, Grebeg Syawal tetap bertahan. Ia menjadi bukti bahwa tradisi tidak pernah benar-benar statis. Ia selalu bergerak, bernegosiasi, dan membuka ruang tafsir baru.
Mungkin, justru di situlah kekuatannya.
Bahwa di antara riuh perebutan gunungan, ada narasi panjang tentang sejarah, kuasa, dan harapan yang terus hidup menunggu untuk dibaca, bukan sekadar dirayakan.|Foto : Istimewa


