JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah gelombang warga yang memadati Taman Margasatwa Ragunan pada puncak libur Idulfitri, negara tak absen. Kehadiran aparat menjadi penanda bahwa keramaian bukan sekadar euforia, melainkan ruang publik yang harus dijaga bersama.
Minggu (22/3), Kasatgas Humas Operasi Ketupat 2026, Tjahyono Saputro, turun langsung ke lapangan. Ia tidak hanya memantau, tetapi menyapa, berdialog, dan memastikan denyut wisata Lebaran tetap berada dalam ritme aman dan tertib.
“Liburan adalah hak masyarakat. Tugas kami memastikan hak itu bisa dinikmati tanpa rasa khawatir,” ujarnya.
Lebaran memang selalu identik dengan mobilitas. Jalanan ramai, destinasi wisata penuh, dan ruang publik menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat. Di Ragunan, hingga pukul 12.00 WIB, lebih dari 43 ribu pengunjung tercatat memadati kawasan tersebut—angka yang menggambarkan antusiasme sekaligus tantangan.
Namun di balik kepadatan itu, situasi tetap terkendali. Tidak ada laporan insiden menonjol. Tidak ada anak hilang. Tidak ada kepanikan. Sebuah indikator bahwa sistem pengamanan dan pengelolaan berjalan efektif.
Bagi Kepolisian Negara Republik Indonesia, kehadiran di titik-titik keramaian bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk nyata pelayanan publik. Tjahyono menegaskan, keselamatan tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja.
Orang tua diminta lebih waspada, terutama di tengah kerumunan. Pengunjung diimbau menjaga kondisi fisik, tidak memaksakan diri, dan tetap mematuhi aturan. Sementara pengelola destinasi terus didorong menjaga standar pelayanan, termasuk bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.
Menariknya, Ragunan juga menerapkan sistem pengendalian kapasitas berbasis kategori suasana hijau, kuning, hingga merah. Sebuah pendekatan yang mencerminkan kesadaran baru dalam mengelola keramaian secara adaptif.
Di sisi lain, suara pengunjung menguatkan narasi yang sama. Iqbal (20), salah satu wisatawan, merasakan langsung kehadiran negara di ruang rekreasi.
“Masuknya tertib, petugasnya banyak dan sigap. Jadi kami merasa lebih aman,” katanya.
Pernyataan sederhana itu menjadi cermin penting: rasa aman adalah fondasi dari kebahagiaan publik.
Libur Lebaran bukan hanya soal pulang kampung atau berkumpul bersama keluarga. Ia juga tentang bagaimana ruang-ruang publik dikelola dengan empati dan tanggung jawab. Di Ragunan hari itu, keramaian tidak berubah menjadi kekacauan justru menjadi perayaan yang terjaga.
Dan di situlah makna kehadiran negara menemukan bentuknya: tidak mencolok, tetapi terasa.


