SAN DIEGO, TERMINALNEWS.ID – Aksi protes terhadap lembaga Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) mewarnai laga pembuka musim klub MLS, San Diego FC, pada Sabtu (22/2/2026) waktu setempat.
Dalam pertandingan yang digelar di Snapdragon Stadium, San Diego, klub yang baru memasuki musim keduanya di Major League Soccer (MLS) itu tampil dominan dan menghancurkan CF Montreal dengan skor telak 5-0.
Gol-gol kemenangan dicetak oleh Christopher McVey, Amahl Pellegrino, Onni Valakari, serta dua gol dari Marcus Ingvartsen.
Namun, sorotan tak hanya tertuju pada kemenangan besar tersebut. Menjelang kick-off, sejumlah suporter memanfaatkan momen laga pembuka musim untuk menyampaikan pesan politik.
Saat lagu kebangsaan Amerika Serikat dinyanyikan oleh seorang penyanyi wanita sebelum pertandingan dimulai, sebagian besar penonton berdiri dan bersorak ketika kembang api dinyalakan.

Akan tetapi, sekelompok suporter di tribun memilih membelakangi lapangan dan menghadap ke arah lain sebagai bentuk protes.
Video aksi tersebut diunggah oleh akun X @SanDiego_Futbol dengan keterangan bahwa sebagian kelompok suporter resmi San Diego FC, Frontera San Diego, sengaja membelakangi bendera saat lagu kebangsaan dikumandangkan sebagai bentuk protes terhadap operasi ICE.
Sebelumnya, pada Juli lalu, kelompok ultras tersebut juga membentangkan tifo bernada kritik terkait isu yang sama. Salah satu spanduk bertuliskan “We stay, we stand, we all belong” (Kami tetap di sini, kami berdiri, kita semua berhak), sementara spanduk lainnya berbunyi “No borders within our hearts” (Tak ada batas di hati kami).
Kota San Diego di negara bagian California menjadi salah satu wilayah yang terdampak operasi ICE dalam kebijakan penindakan imigrasi besar-besaran dan agresif di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam perkembangan lain, dua warga bernama Renee Nicole Good dan Alex Pretti dilaporkan tewas akibat penembakan oleh petugas ICE di Minneapolis.
Gelombang protes anti-ICE juga terdengar di berbagai ajang olahraga lain di Amerika Serikat. Dalam sejumlah pertandingan NBA hingga acara gulat AEW, penonton terdengar meneriakkan slogan “F*** ICE!” secara lantang, bahkan tanpa sensor dalam siaran langsung.
Menurut laporan Cal Matters, jumlah penangkapan terkait imigrasi di San Diego melonjak hingga 1.500 persen dalam periode Mei hingga Oktober 2025. Pada periode yang sama di 2024, tercatat sekitar 300 penangkapan, sedangkan setahun kemudian angkanya meningkat menjadi sekitar 4.500 kasus.
Penolakan terhadap ICE di San Diego juga datang dari kalangan tenaga medis. Baru-baru ini, para perawat di sejumlah rumah sakit wilayah San Diego menggelar aksi protes terhadap upaya ICE. Anggota organisasi National Nurses United melakukan aksi di UC San Diego Health’s Hillcrest dan La Jolla Medical Centers, serta Palomar Medical Center Poway.
Seorang perawat terdaftar, Kendle Hargrove, menyatakan bahwa tujuan aksi tersebut adalah untuk mengedukasi publik dan “membela pasien kami dari ICE.”
Ia juga menambahkan bahwa banyak pasien merasa takut mencari layanan kesehatan karena khawatir harus keluar rumah dan berpotensi menghadapi risiko terkait operasi imigrasi.

