BerandaKesehatanDi Balik Tenda Pengungsian,...

Di Balik Tenda Pengungsian, Anak-Anak Berjuang Melawan Lapar yang Tak Terlihat

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Air berlumpur memang mulai surut di sejumlah wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat. Namun bagi ratusan ribu warga yang masih bertahan di pengungsian, bencana belum benar-benar berakhir. Di balik tenda-tenda darurat dan dapur umum, ada persoalan lain yang perlahan mengintai: lapar yang tak selalu terlihat, tetapi berdampak panjang krisis gizi anak.

Hingga 17 Desember 2025, sekitar 577.600 warga terpaksa mengungsi akibat banjir bandang dan longsor. Hari-hari mereka diisi antrean logistik, keterbatasan air bersih, serta ruang hidup yang sempit. Dalam kondisi ini, balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui menjadi kelompok yang paling rentan.

Di pengungsian, orang tua sering kali harus memilih dari apa yang tersedia, bukan dari apa yang ideal. Makanan dibagi rata, bantuan datang tak selalu terjadwal, sementara kebutuhan gizi anak tetap berjalan tanpa bisa ditunda.

Saat Niat Baik Berujung Salah Asupan

Dalam situasi darurat, keputusan kecil bisa berdampak besar. Salah satunya ketika kental manis kembali dianggap sebagai pengganti susu. Produk ini kerap masuk dalam paket bantuan karena mudah disimpan dan dibagikan. Bagi sebagian orang tua, kental manis menjadi solusi praktis saat pilihan lain tidak ada.

Baca Juga :   Rumah Sakit Pendidikan Kemenkes Mulai Berikan Insentif bagi PPDS Berbasis Universitas

Namun, di balik rasa manis itu, tersimpan risiko yang kerap luput disadari. Kental manis bukan susu. Kandungan gulanya tinggi, sementara protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan anak justru minim. Di lingkungan pengungsian yang rawan penyakit, salah asupan bisa melemahkan daya tahan tubuh anak, membuat mereka lebih mudah sakit.

Bagi balita, gizi bukan sekadar urusan kenyang hari ini, tetapi fondasi tumbuh kembang mereka di masa depan. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi, dampaknya bisa tertinggal jauh lebih lama dibanding genangan banjir.

Peringatan dari Akademisi: Luka yang Bisa Menetap

Persoalan ini bukan hanya cerita di lapangan. Sepanjang 2025, isu pangan anak menjadi perbincangan luas, mulai dari polemik susu dalam program pemerintah hingga masih kuatnya persepsi keliru tentang kental manis.

Baca Juga :   Medistra Hospital Resmikan Oncology Center, Terobosan Baru Dalam Pelayanan Kanker di Indonesia

Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta menunjukkan praktik pemberian kental manis kepada balita masih terjadi di berbagai daerah.

Guru Besar Ahli Gizi UMJ, Dr. Tria Astika Endah Permatasari, mengingatkan bahwa kesalahan konsumsi di usia dini dapat membawa dampak jangka panjang, termasuk meningkatnya risiko penyakit tidak menular di kemudian hari.

“Jika tidak ditangani dengan serius melalui edukasi dan kebijakan yang tegas, generasi manis hari ini bisa berujung pada masa depan yang pahit,” ujarnya.

Ketika Pendampingan Mengubah Kebiasaan

Di tengah keterbatasan dan perdebatan kebijakan, sejumlah inisiatif masyarakat bergerak langsung ke akar persoalan. Majelis Kesehatan PP Aisyiyah menjalankan program pendampingan gizi kepada 72 ibu balita di Pamijahan, Kabupaten Bogor; Muaro Jambi; dan Kupang.

Selama dua bulan, para ibu tidak hanya menerima materi, tetapi didampingi secara langsung: memantau pola makan anak, mengenal prinsip Isi Piringku, mencoba alternatif pengganti kental manis, hingga memasak dari bahan yang mudah dijangkau.

Baca Juga :   Program Pendampingan Keluarga Tuntas, PP Aisyiyah Harapkan Semangat Mengonsumsi Makanan Sehat Dapat Menular

Hasilnya, kebiasaan perlahan berubah. Anak-anak mulai terbiasa dengan menu yang lebih seimbang, orang tua pun lebih percaya diri memilih pangan yang tepat.

Koordinator Divisi Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat MaKes PP Aisyiyah, Dr. dr. Ekorini Listiowati, MMR, menyebut perubahan perilaku sebagai capaian terpenting dari program ini.

“Harapannya, praktik baik ini bisa direplikasi oleh masyarakat lain, terutama di wilayah yang rentan bencana,” katanya.

Setelah Air Surut, Tanggung Jawab Belum Usai

Bencana alam mungkin datang tiba-tiba, tetapi dampaknya bisa berlangsung lama. Di pengungsian, satu gelas minuman manis yang keliru diberikan kepada anak bisa menjadi awal dari masalah kesehatan yang tak langsung terlihat.

Ketika bantuan pangan disalurkan, pertanyaannya bukan hanya apakah perut terisi, tetapi apakah masa depan anak-anak tetap terlindungi. Sebab banjir bisa surut dalam hitungan hari, namun krisis gizi jika diabaikan bisa menetap jauh lebih lama.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img