ACEH TAMIANG,TERMINALNEWS.ID -| Setelah bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025, banyak warga Kecamatan Rantau yang terisolasi. Aliran listrik dan jaringan komunikasi terputus, meninggalkan mereka dalam kegelapan, baik harfiah maupun figuratif. Namun, di luar area Rig PDSI#19.1, sebuah harapan tetap menyala setiap malam, memberi sedikit cahaya bagi mereka yang terdampak bencana.
Sejak aliran listrik padam, warga dari enam desa sekitar rig, seperti Desa Alur Batu, Alur Cucur, dan Alur Manis, berdatangan setiap malam untuk mengisi daya ponsel, powerbank, dan lampu darurat. Dengan penuh kesabaran, mereka mengantri di luar area Rig PDSI#19.1, tempat mereka berharap bisa kembali terhubung dengan keluarga, mengabarkan kondisi mereka, dan memastikan keselamatan.
“HP saya sudah mati dua hari. Kami tidak bisa hubungi saudara sama sekali,” kata Siti (38), warga Desa Alur Cucur, sambil tersenyum lega. “Begitu dengar bisa ngecas di sini, rasanya seperti mendapat kabar baik.”
Inisiatif dari Rig PDSI#19.1
Kondisi di sekitar rig memang sulit. Sejak bencana, listrik dan jaringan komunikasi terputus total, menyisakan warga yang hampir sepenuhnya terisolasi. Rig PDSI#19.1, yang merupakan fasilitas milik Pertamina Drilling, sempat shutdown sejak 26 November dan baru kembali beroperasi pada 16 Desember 2025. Namun, meskipun rig tidak beroperasi penuh, inisiatif untuk membuka akses pengisian daya menjadi prioritas utama.
Surya Budiman, Rig Superintendent Pertamina Drilling, menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak warga yang memerlukan akses komunikasi untuk mengabarkan kondisi mereka kepada keluarga.
“Sejak bencana, warga sangat membutuhkan ponsel untuk berkomunikasi, apalagi dalam kondisi darurat seperti ini. Kami hanya berusaha membantu sebisanya dengan menyediakan fasilitas pengisian daya di luar kawasan kerja rig,” kata Surya.
Lebih dari Sekadar Pengisian Daya
Setiap malam, lebih dari seratus orang datang mengantre untuk mengisi daya. Mereka tidak hanya membawa ponsel, tetapi juga powerbank, senter, dan lampu darurat. Sejumlah warga bahkan membawa anak-anak untuk menunggu bersama sambil duduk di pinggir area. Kehadiran cahaya dari lampu darurat yang terisi penuh memberi rasa aman, terutama bagi anak-anak yang takut dengan kegelapan.
“Kalau malam gelap sekali, anak-anak jadi takut. Lampu darurat ini sangat membantu,” ujar Rahmad (45), warga Desa Alur Manis, sambil memegang lampu yang baru saja terisi penuh.
Bantuan Kemanuasiaan dan Kebutuhan Dasar
Selain membuka akses untuk pengisian daya, Pertamina Drilling juga memberikan bantuan kemanusiaan berupa makanan siap saji dua kali sehari, sembako, air bersih, dan air minum kemasan. Hal ini sangat berarti bagi warga yang terdampak, seperti yang diungkapkan oleh Yuliana (41), warga Desa Landu.
“Bantuan makanan dan air sangat berarti bagi kami di tengah keterbatasan ini. Setidaknya kami merasa ada yang peduli dan tidak merasa sendirian,” katanya.
Menjadi Simbol Harapan
Rig PDSI#19.1 kini bukan hanya sekadar fasilitas industri. Ia telah bertransformasi menjadi simbol harapan, tempat singgah bagi warga yang membutuhkan dukungan. Setiap malam, warga yang datang dengan harapan bisa mengisi daya, tidak hanya mendapat cahaya untuk ponsel mereka, tetapi juga mendapatkan secercah harapan di tengah bencana yang belum sepenuhnya berlalu.[]Sumber PT Pertsmina.

