JAKARTA,TERMINALNEWS.ID – Rencana penyelenggaraan Mangrove Fest Creative Market 2026 mendapat dukungan penuh dari Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Agenda yang digagas Wali Kota Langsa Jeffry Sentana Putra itu dinilai mampu mempertemukan kreativitas anak muda dengan upaya pelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Dalam pertemuan di Autograph Tower, Thamrin Nine, Kamis (20/11)Menteri Ekraf menilai Mangrove Fest sebagai momentum penting untuk menunjukkan bahwa pelestarian alam dan ekonomi kreatif bisa berjalan beriringan. Ia mendorong agar event tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi daerah, tetapi juga wadah peningkatan kapasitas talenta muda.
“Lapangan kerja berkualitas bisa lahir dari kreativitas. Langsa punya banyak talenta muda dan kekuatan budaya yang bisa diangkat. Perlombaan fotografi, pelatihan pemasaran digital, atau kegiatan kreatif lainnya bisa memperluas akses ekonomi bagi warga,” ujar Teuku Riefky.
Kota Langsa sendiri memiliki kawasan mangrove seluas lebih dari 6.500 hektare yang telah menjadi ikon pariwisata sekaligus benteng ekologi di pesisir Aceh. Potensi tersebut, menurut Menteri Ekraf, dapat diolah menjadi identitas kreatif daerah yang unik dan berkelanjutan.
Staf Khusus Menteri Ekraf Bidang Isu Strategis, Rian Syaf, menambahkan bahwa Langsa memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi kota kreatif. Selain potensi demografi usia produktif yang mencapai 60 persen, IPM Langsa juga menempati peringkat kedua tertinggi di Aceh. “Dengan kekayaan budaya dan talenta digital yang sudah terbentuk, Langsa bisa memetakan ulang subsektor ekonomi kreatif yang paling kuat untuk tampil di level nasional,” ujarnya.
Wali Kota Langsa Jeffry Sentana menegaskan bahwa Mangrove Fest Creative Market 2026 akan dirancang sebagai festival tahunan yang menggabungkan seni budaya, wastra, kuliner, hingga produk kreatif lokal. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga integritas dan kolaborasi lintas sektor agar pengembangan ekonomi kreatif dapat berjalan berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar festival, tapi strategi besar menjadikan mangrove sebagai identitas destinasi dan pusat ekonomi kreatif pesisir. Kami juga tengah mengembangkan wastra khas Aceh yang akan menjadi ciri baru dari Langsa,” jelas Jeffry.
Pertemuan antara pemerintah pusat dan daerah itu turut dihadiri jajaran Kementerian Ekraf serta pejabat Pemerintah Kota Langsa. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat terwujudnya Langsa sebagai kota kreatif berbasis alam, budaya, dan inovasi.|Foto : Istimewa

