JAKARTA, TERMINALNEWS.ID — Sejak dipercaya sebagai talent scouting PSSI pada 26 Mei 2025, Simon Tahamata menjadi sosok sentral dalam upaya membangun fondasi jangka panjang sepak bola Indonesia.
Mantan pemain Ajax Amsterdam dan eks bintang timnas Belanda itu kini bekerja di balik layar, memantau dan menilai bibit-bibit muda terbaik dari seluruh pelosok Tanah Air.
Dalam wawancara bersama media resmi PSSI, Simon memaparkan pandangannya tentang sistem pencarian pemain muda, tantangan pembinaan usia dini, hingga visi membentuk karakter generasi baru Timnas Indonesia, khususnya kelompok umur U17.
Menurut Simon, langkah awal scouting di Indonesia sudah berjalan cukup baik. Namun, ia menegaskan pentingnya observasi langsung untuk menilai kemampuan dan karakter pemain muda.
“Saya bilang ke Pak Erick, jangan kasih saya laptop atau komputer, tapi kasih saya bola, karena di bola saya punya kehidupan,” ujar Simon, dalam rilis Jumat (7/11/2025). “Untuk menilai pemain, saya harus lihat sendiri bagaimana mereka bermain dan berinteraksi di lapangan.”
Simon menyebut banyak pemain muda Indonesia yang memiliki kemampuan teknis mumpuni, cepat, dan kreatif.
Namun, menurutnya, aspek mental dan disiplin masih perlu ditingkatkan. “Bakat itu penting, tapi tanpa karakter, pemain akan cepat hilang,” tegasnya.
Ia menilai bahwa kemauan, keteguhan hati, dan rasa percaya diri merupakan modal utama seorang pemain muda untuk berkembang.
Simon menyoroti bahwa Indonesia sebagai negara besar memiliki tantangan besar dalam mencari dan membina pemain usia muda.
Menurutnya, scouting tidak sekadar menemukan pemain, tetapi memastikan mereka mendapat pembinaan berkelanjutan.
“Anak-anak di Indonesia banyak yang berbakat dan mau bermain bola, tapi mereka perlu ditanamkan kerja keras dan kecerdasan bermain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perbedaan besar antara pembinaan di Eropa dan Indonesia terletak pada usia awal seleksi pemain. Di Belanda, proses seleksi dilakukan sejak usia delapan tahun.
“Di Indonesia, kita baru mulai di usia 13-14 tahun. Seharusnya lebih dini. Itu butuh waktu dan kesabaran,” kata Simon.
Ia menilai kerja sama dengan sekolah sepak bola dapat menjadi solusi agar pemain sudah terbentuk secara teknik dan karakter sejak usia dini.
Dalam sejumlah kunjungan ke daerah, Simon menemukan banyak talenta potensial di luar radar akademi besar.
Ia menyebutkan contoh anak-anak di Maluku, Sulawesi, dan Yogyakarta yang menunjukkan bakat alami luar biasa.
“Saya pernah melihat pemain kecil di Palu yang mampu melewati lawan yang lebih besar. Artinya, ia punya akal dan mental bagus. Tugas kita adalah memastikan mereka mendapat kesempatan yang sama,” tuturnya.
Simon menjelaskan, dirinya mencari pemain di semua posisi — mulai dari striker, gelandang, sayap, hingga bek. Ia ingin menemukan pemain yang berani berduel satu lawan satu, tidak mudah menyerah, dan mau belajar dari kesalahan.
“Kalau hilang bola, coba lagi. Itu karakter yang penting,” ujarnya.
Meski baru enam bulan bekerja, Simon menyebut PSSI sedang membangun national talent map sebagai peta sebaran talenta nasional.
Data ini nantinya akan menjadi acuan bagi pelatih timnas dari level U13 hingga senior.
“Kami ingin sistem yang menyatu dari akar rumput sampai elite. Scouting bukan hanya cari pemain, tapi membangun karakter sepak bola nasional,” tegasnya.
Simon juga mendukung integrasi dengan Elite Pro Academy agar pemain muda mendapatkan jam terbang kompetitif.
“Kalau usia 15–16 tahun tidak bermain di kompetisi, kemampuan mereka akan hilang. Latihan harus diimbangi pertandingan,” katanya.
Menyambut persiapan menuju Piala Dunia U17 berikutnya, Simon menegaskan fokus pencarian pemain akan diarahkan pada usia 16 tahun yang memiliki kemampuan bermain cepat, berani mengambil keputusan, serta kuat secara mental.
“Kami mencari pemain dengan teknik dasar kuat dan mental baja. Itulah pondasi tim masa depan,” jelasnya.
Ia memuji kinerja pelatih Timnas U17, Nova Arianto, yang dinilai berhasil memberi contoh disiplin dan kerja keras kepada para pemain.
“Coach Nova bekerja bagus. Ia menunjukkan bahwa untuk jadi pemain timnas, harus kerja keras dan terus belajar,” kata Simon.
Selama karier panjangnya di Eropa, Simon membawa pelajaran berharga tentang disiplin dan sistem.
Menurutnya, di Belanda semua terencana — dari latihan hingga nutrisi. Indonesia, katanya, perlu membangun budaya serupa agar potensi besar anak muda bisa tersalurkan maksimal.
“Di Eropa, semuanya sistematis. Di sini, kita punya semangat besar, tapi harus diarahkan dalam sistem yang kuat,” ujarnya.
Menutup wawancara, Simon menyampaikan pesan bagi pemain muda Indonesia. “Jangan hanya bermimpi jadi pemain timnas. Jadilah profesional sejati: kerja keras, rendah hati, dengar pelatih, dan selalu ingin belajar. Di lapangan, hanya pelatih yang berhak membimbing. Orang tua cukup mendukung dari luar,” ujarnya dengan senyum khasnya.
Dengan visi jangka panjang dan dedikasi tinggi, Simon Tahamata berharap sistem scouting yang sedang dibangun PSSI dapat melahirkan generasi emas sepak bola Indonesia yang bukan hanya berbakat, tapi juga berkarakter kuat di dalam dan luar lapangan.


