JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Nama James F. Sundah sudah lama melegenda lewat karya abadi “Lilin-Lilin Kecil”. Kini, hampir lima dekade setelah lagu itu pertama kali menggetarkan hati jutaan pendengar, sang maestro kembali menyalakan cahaya baru lewat karya istimewa berjudul “Seribu Tahun Cahaya.”
Yang membuatnya berbeda, lagu ini dirilis serentak dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris, Jepang) dan dari tiga benua sekaligus (Asia, Amerika, Eropa) — sebuah rekor yang bahkan diakui MURI.
Lagu Persembahan untuk Sang Istri
Di balik gemerlap musik dan teknologi, Seribu Tahun Cahaya lahir dari tempat yang sangat personal: cinta James untuk sang istri, Lia Sundah Suntoso.
“Lagu ini sebenarnya sudah saya tulis dua puluh tahun lalu. Setelah melewati masa kritis dan merasakan kasih luar biasa dari istri dan anak saya, saya sadar lagu ini harus segera dirilis,” tutur James dengan nada haru.
Lagu bergenre Pop/EDM ini diproduksi di New York dan bahkan didaftarkan langsung di US Copyright Office, sebagai bentuk kepercayaan diri sekaligus kritik halus terhadap lemahnya sistem perlindungan hak cipta di Indonesia.
Dari Meilody ke Claudia: Dua Generasi, Satu Cahaya
Perjalanan lagu ini dimulai jauh sebelum EDM jadi tren di Indonesia. Pada 2007, James mulai menggarap proyeknya bersama penyanyi Meilody Indreswari, juara Bintang Radio RRI 2007. Meilody bahkan merekam versi lagu ini dalam lima bahasa!
“Setiap versi punya tantangan sendiri. Bahkan untuk versi Jepang, kami sampai minta bantuan native speaker,” kenangnya.
Kini, giliran Claudia Emmanuela Santoso, pemenang The Voice of Germany 2019, yang membawa Seribu Tahun Cahaya ke panggung global. Ia mengisi versi Indonesia dan Inggris dengan warna vokalnya yang lembut dan berkarakter.
“Aku merinding waktu pertama kali dengar lagu ini,” ungkap Claudia. “Liriknya dalam banget, melodinya puitis dan penuh rasa.”
Musik yang Menyatukan Cinta dan Budaya
James menambahkan sentuhan khas pada tiap versi: angklung dan kolintang untuk versi Indonesia, koto dan shakuhachi di versi Jepang, serta efek outer space synth di versi Inggris. Hasilnya, lagu ini bukan sekadar karya cinta, tapi juga simbol kolaborasi lintas budaya dan generasi.

Pelajaran untuk Industri Musik
Bagi James, Seribu Tahun Cahaya bukan hanya lagu, tapi pesan edukatif bagi industri musik Indonesia.
“Banyak pihak masih belum memahami hak ekonomi di balik sebuah karya. Padahal, composer, arranger, musisi, hingga produser — semua punya hak yang harus dihormati,” tegasnya.
Dalam proyek ini, James mencatatkan dirinya memegang semua peran penting dalam rantai produksi musik: dari pencipta, penulis lirik, arranger, produser, hingga videografer.Melalui karya ini, ia berharap generasi muda lebih melek soal hak cipta dan keadilan ekonomi kreatif.
Dari “Lilin-Lilin Kecil” ke “Seribu Tahun Cahaya”
Nama James F. Sundah identik dengan melodi dan lirik yang mengalun lembut tapi bermakna dalam. Sejak “Lilin-Lilin Kecil” memenangkan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada 1977, karya-karyanya tak pernah padam dari ingatan publik.
Kini, dengan Seribu Tahun Cahaya, sang maestro membuktikan bahwa cinta dan integritas dalam musik adalah cahaya yang tak akan pernah padam — bahkan setelah seribu tahun.


