MIAMI, TERMINALNEWS.ID – Emma Heming Willis mengaku menghadapi banyak tantangan selama mendampingi perjalanan suaminya, Bruce Willis, melawan demensia dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, keputusan paling berat baginya adalah saat harus memindahkan aktor legendaris berusia 70 tahun itu ke rumah terpisah.
“Itu adalah hal tersulit,” ungkap Emma, 49 tahun, kepada majalah PEOPLE. Ia menjelaskan bahwa kondisi Bruce yang mengalami demensia frontotemporal progresif membutuhkan suasana yang tenang dan damai.
Rumah satu lantai yang mereka sebut sebagai “rumah kedua” dipilih karena lebih sesuai dengan kebutuhan Bruce—lingkungan yang nyaman, aman, dan mendukung perawatan penuh waktu.

Keputusan ini juga memberi ruang bagi kedua putri mereka, Mabel (13) dan Evelyn (11), untuk tetap bisa menikmati masa kanak-kanak dengan normal.
“Kami punya dua anak kecil, jadi penting bagi mereka memiliki rumah yang mendukung kebutuhan mereka, sementara Bruce juga memiliki tempat yang mendukung kebutuhannya,” jelas Emma.
“Anak-anak bisa kembali mengadakan playdate, pesta menginap, dan bermain tanpa harus selalu menjaga suasana tetap hening.”
Emma mengaku bersyukur karena keluarganya memiliki kemampuan untuk menata kehidupan baru ini. “Sekarang semuanya terasa lebih tenang, lebih nyaman,” tambahnya.

Namun, keputusan tersebut juga menuai reaksi beragam dari publik. Melalui unggahan Instagram, Emma menanggapi komentar yang mempertanyakan pilihannya.
Ia menegaskan bahwa setiap keluarga memiliki cara berbeda dalam menghadapi situasi serupa.
“Yang saya tahu, dengan berbagi cerita pribadi, akan selalu ada dua kubu: mereka yang hanya punya opini dan mereka yang benar-benar punya pengalaman,” tulis Emma.
“Inilah yang sering dihadapi para caregiver—penilaian dan kritik dari orang lain.”
Bagi Emma, keputusan itu adalah bentuk dukungan terbaik untuk keluarganya sekaligus membuka “dunia baru” bagi Bruce. “Ini menyakitkan bagi saya, tapi inilah cara kami bisa mendukung seluruh keluarga,” ujarnya.

Dengan pengaturan baru ini, Emma bisa kembali menikmati momen sebagai istri, sementara anak-anak tetap bisa menjadi anak-anak.
“Ada keindahan di dalamnya, dan saya sangat bersyukur,” katanya.
Emma, yang juga menulis buku The Unexpected Journey: Finding Strength, Hope and Yourself on the Caregiving Path untuk para caregiver, menegaskan pentingnya berbagi pengalaman nyata.
“Opini orang memang keras dan berisik. Tapi kalau mereka tidak menjalani pengalaman ini, mereka tidak berhak menilai,” tulisnya di Instagram.
Buku tersebut akan resmi dirilis pada 9 September mendatang dan sudah bisa dipesan di toko buku.

