BerandaBisnisRyan Kyoto: Menjaga Jati...

Ryan Kyoto: Menjaga Jati Diri di Tengah Dinamika Musik dan Polemik Royalti

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID– Nama Ryan Kyoto bukanlah sosok asing di industri musik Indonesia. Sebagai musisi yang telah puluhan tahun berkarya, ia merasakan pasang surut dunia musik dari era kaset pita, CD, hingga platform digital. Di tengah derasnya arus teknologi, Ryan tetap teguh dengan prinsip: musik harus lahir dari hati, bukan dari tren semata.

Berkarya di Era Teknologi

Ryan menyadari perkembangan teknologi di musik kini begitu pesat. Perangkat lunak, aplikasi, hingga kecerdasan buatan (AI) membuat proses produksi musik jadi lebih cepat dan mudah. Namun baginya, secanggih apa pun teknologi tidak bisa menggantikan jati diri seorang pencipta.

“Kalau ada AI itu bantuan saja. Tapi karya saya tetap utuh jadi karya saya sendiri. Saya tetap jadi diri saya,” ujarnya dengan tenang,saat bincang bincang dirumahnya yg asri di kawasan Condet Jakarta Timur,Senin(18/8)

Menurut Ryan, Indonesia kini sejajar dengan dunia internasional dalam hal kualitas produksi. Apa yang dibuat di Amerika bisa dalam hitungan detik hadir di Indonesia. Namun ia menekankan, musik tidak pernah bisa dinilai dengan ukuran lebih baik atau buruk—karena semua kembali pada selera generasi pendengar.

“Anak-anak sekarang punya selera berbeda dengan kita yang lebih dulu. Jadi jangan dibandingkan lebih baik atau tidak, musik itu soal rasa,” kata Pencipta lagu hits maker “Pasrah” Yang dipopulerkan oleh Penyanyi Jazz Ermy Kulit.

Mandiri di Studio Pribadi

Baca Juga :   Midnight Serenade Band Lahir Dari Film 'Perayaan Mati Rasa'

Berbeda dengan masa lalu ketika label rekaman memegang kendali penuh, kini Ryan memilih jalannya sendiri. Ia mendirikan studio pribadi tempat ia mencipta, mengaransemen, hingga melakukan mixing.

“Saya biasa sendiri. Studio sendiri, musik sendiri, lagu sendiri. Kadang hanya minta bantuan teman untuk rapat materi. Selebihnya mandiri,” jelas Pencipta lagu “Cinta Jangan Kau Bawa Pergi” Sheila Majid dan “Sendiri” Chrisye.

Lebih jauh Ryan menegaskan dirinya tidak akan mengejar tren hanya demi pasar. Jika suatu saat ia menciptakan lagu bernuansa Melayu atau dangdut, itu lahir dari rasa suka, bukan karena ikut-ikutan.

“Kalau saya bikin lagu Melayu, itu bukan pengaruh orang lain. Itu karena saya suka. Jadi karya itu lahir apa adanya, bukan dipaksakan,” ujar Anak Medan yang karyanya sudah dibawakan hampir 100 penyanyi di Indonesia dan Malaysia.

Polemik Royalti: Antara Paham dan Salah Paham

Salah satu isu yang kerap memanas di industri musik adalah soal royalti. Menurut Ryan, banyak musisi maupun masyarakat yang belum memahami secara utuh bagaimana sistem royalti bekerja.

Baca Juga :   Revolusi Royalti Musik: Permenkum No. 27/2025 Siap Ubah Peta Industri Kreatif Indonesia,Musisi Menunggu dengan Pesimis??

“Jangan sampai kita musisi ribut sesama sendiri. Royalti itu sudah ada undang-undangnya. Tinggal transparansi dan pemerintah yang harus tegas. User seperti hotel, restoran, tempat hiburan juga harus disiplin membayar,” tegasnya.

Ryan menyayangkan masih minimnya sosialisasi tentang royalti. Informasi lebih banyak berhenti di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, sementara banyak musisi di daerah justru tidak tersentuh.

“Banyak pencipta di pelosok yang tidak tahu apa itu LMK atau LMKN. Padahal lagu mereka dipakai juga. Sosialisasi jangan hanya di ibukota, harus sampai ke daerah,” tambahnya.

Ryan juga menyoroti sikap sebagian orang yang kerap salah kaprah dalam menanggapi royalti. Misalnya, ketika ada lagu dengan suara burung atau bunyi alam yang dipertanyakan hak ciptanya.

“Kalau sudah diproduksi, dipakai komersial, tentu ada hak penciptanya. Burungnya sendiri kan tidak rekaman. Itu karya manusia, bukan karya burung,” jelasnya sambil tersenyum.

Pentingnya Transparansi

Ryan menggarisbawahi pentingnya transparansi dalam pembagian royalti. Menurutnya, LMK maupun LMKN harus lebih terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan musisi.

Baca Juga :   Kemenkop Perkuat Sosialisasi Operasional Kopdes Merah Putih Melalui Simkopdes di Simalungun

“Kalau semua jelas, kita tenang. Pencipta dapat haknya, aranger dapat porsinya, user juga tahu kewajiban. Jangan sampai ada yang pura-pura tidak mengerti. Itu yang bahaya,” tuturnya.

Ia menambahkan, pencipta dan penyanyi sebaiknya bersatu memperjuangkan hak bersama, bukan terpecah karena perbedaan pemahaman.

“Kalau kita ribut sendiri, siapa yang untung? Justru orang luar yang senang. Jadi mari kita kompak, bicara dengan data, dengan aturan, bukan emosi,” pesan Ryan.

Harapan untuk Musik Indonesia

Di tengah tantangan zaman, Ryan Kyoto tetap optimistis musik Indonesia akan terus bertumbuh. Namun, ia menegaskan ada tiga hal penting yang harus dijaga bersama:

1.Jati diri musisi – jangan terjebak tren, berkaryalah sesuai hati.

2.Transparansi royalti – LMKN dan LMK harus terbuka serta aktif bersosialisasi.

3.Kedisiplinan user – hotel, restoran, kafe, dan tempat hiburan wajib taat membayar royalti.

“Kalau semua berjalan baik, musik Indonesia akan kuat. Musisi bisa hidup dari karyanya, masyarakat pun menikmati musik dengan sehat,” pungkasnya.

Bagi Ryan, musik bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup. Meski industri terus berubah, ia memilih tetap setia pada prinsip: musik lahir dari hati, untuk hati.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img