JAKARTA,TERMINALNEWS.ID –KTT ASEAN 2023 yang berlangsung di Jakarta telah menandai pentingnya sentralitas ASEAN dan Outlook on Indo-Pacific (AOIP) dalam menghadapi dinamika kompleks di kawasan Asia Timur. Sebagai salah satu forum dengan jumlah anggota terbanyak dalam serangkaian KTT, East Asia Summit (EAS) menjadi spotlight karena menghimpun negara-negara dengan beragam kepentingan dan menghadirkan potensi kerentanan di tengah rivalitas kekuatan global yang kian meruncing.
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, rivalitas antara kekuatan global lama, yang diwakili oleh Amerika Serikat dan Eropa, dengan China yang mendapatkan momentum sebagai penyeimbang, membuat ASEAN dan kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan harus memilih dengan hati-hati posisi yang akan diambil. Indonesia, yang saat ini memegang Keketuaan ASEAN, telah secara tegas menyuarakan komitmennya untuk menjaga ASEAN tetap independen dan tidak terperangkap dalam dinamika yang dikendalikan oleh pihak luar.
Mengusung ide “ASEAN Matters, Epicentrum of Growth,” Indonesia dengan jelas ingin menegaskan bahwa ASEAN adalah sebuah kawasan yang bebas dari campur tangan kekuatan global, bebas dari senjata nuklir, dan hanya diarahkan untuk kesejahteraan bersama. EAS menjadi platform unik yang menghadirkan berbagai aktor penting seperti China, India, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN dalam satu forum dialog. Hal ini menjadi penting karena EAS adalah forum tertinggi dalam kawasan untuk membahas isu-isu penting yang saat ini berkembang dan memberikan kontribusi nyata dalam pencarian solusi untuk permasalahan yang ada.
Inisiatif ini pertama kali muncul pada tahun 2005 dan telah berkembang menjadi ASEAN Plus Eight dengan penambahan Rusia dan Amerika Serikat pada tahun 2011. Pertemuan KTT ASEAN 2023 ini menunjukkan komitmen para pemimpin negara anggota dan mereka yang mewakilinya dalam memperkuat kolaborasi dan kerja sama di kawasan, bukan memperdalam rivalitas yang sudah ada.
Komitmen yang paling mencolok dari pertemuan ini adalah kesepakatan mengenai sentralitas ASEAN dan implementasi AOIP dalam menghadapi berbagai isu yang kini menghantui kawasan, termasuk ketegangan di Semenanjung Korea, Selat Taiwan, dan Laut China Selatan, serta rivalitas antara negara-negara besar di kawasan. Forum ini menekankan pentingnya komunitas internasional yang berbasis pada aturan dan dialog yang konstruktif sebagai cara untuk menyelesaikan konflik.
Dengan Indonesia sebagai Ketua saat ini dan Laos yang akan menggantikannya untuk tahun 2024 mendatang, kawasan ini memiliki harapan besar untuk tetap menjadi pusat pertumbuhan dunia. Presiden Joko Widodo mengajak para pemimpin EAS untuk terus menjadikan Asia Timur sebagai “epicentrum of growth” dan berusaha untuk menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua dengan menjaga stabilitas dan perdamaian sebagai kunci untuk mencapai kemakmuran.
Pentingnya kerja sama dan komitmen bersama dalam menciptakan kawasan Indo-Pasifik yang damai, stabil, dan sejahtera harus terus dikedepankan. KTT Asia Timur harus tetap menjadi bagian penting dalam upaya ini. Dalam konteks ini, para pemimpin KTT Asia Timur telah sepakat untuk mendukung terwujudnya kawasan ini sebagai pusat pertumbuhan dunia, dengan diadopsinya “East Asia Summit Leaders’ Statement on Maintaining and Promoting the Region as an Epicentrum of Growth.”
Secara keseluruhan, KTT ASEAN 2023 menegaskan kembali pentingnya ASEAN dalam dinamika kawasan Asia Timur. Sentralitas ASEAN dan implementasi AOIP menjadi landasan bagi kolaborasi dan kerja sama yang lebih erat antara negara-negara di kawasan ini. Dengan situasi global yang terus berubah, tindakan ini menunjukkan bahwa ASEAN bersama dengan mitra-mitra regionalnya siap untuk menghadapi tantangan yang ada dan memajukan stabilitas dan kemakmuran di Asia Timur.


