KAWASAN BENDUNGAN HILIR, Jakarta Pusat, memiliki nama jalan yang memakai nama Danau dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Danau Gelinggang, sebuah Danau yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Jl. Danau Gelinggang memiliki jalan tembus ke Jl. Gatot Subroto, yang berada persis di seberang Gedung DPR / MPR. Jalan tembus itu hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki, dan mungkin juga sepeda motor. Tangganya curam sekitar 45 derajat.
Untuk melihat suasana demo di Gedung DPR, Kamis (22/8/2024) kemarin, saya masuk melalui jalan kecil tersebut. Karena saya datang sudah lewat tengah hari, pukul 15.30 sampai Gedung DPR. Jl. Gatot Subroto depan Gedung DPR arah ke Slipi, sudah dipenuhi oleh pendemo. Kebanyakan mahasiswa yang menggunakan jaket almamater mereka.
Setelah mengambil gambar establish Gedung DPR, saya berjalan menuju tempat demonstran berkumpul melalui tangga penyeberangan yang sudah dipenuhi massa. Sempat mengambil gambar sebentar dari atas jembatan penyeberangan walau pun agak sulit, saya lalu turun menuju depan gedung DPR, tempat mahasiswa berkumpul dan berorasi di atas mobil.
Di jalan persis di ujung jembatan penyeberangan ada poster-poster yang dibakar, di antaranya poster bergambar wajah Presiden Jokowi. Saya mengambil gambar lagi dari dekat kobaran api itu.
Sementara saya mengambil gambar, beberapa pendemo menaiki pagar Gedung DPR, lalu menggoyang-menggoyangkannya. Tidak lama kemudian sejumlah massa pendemo memasuki taman di bagian kanan Gedung DPR, melalui pagar yang roboh.
Mereka langsung melempari aparat yang berada di dalam dengan benda seadanya. Saya kembali naik ke jembatan penyeberangan untuk mengabadikan momen itu.
Awalnya aparat hanya bertahan di balik tameng mereka. Tapi kemudian ada aba-aba untuk menyerang. Seorang petugas menembakkan gas air mata, yang lain langsung menyerbu pendemo yang masuk. Tindakan aparat berhasil menghalau pendemo. Seorang pendemo berhasil ditangkap. Jadi bulan-bulanan aparat.
Ternyata aparat tidak hanya menghalau pendemo yang masuk. Mereka juga melemparkan batu-batu ke arah massa yang ada di jembatan penyeberangan. Untuk menghindari batu-batu yang beterbangan, saya mengambil gambar dari celah-celah besi pagar jembatan penyeberangan. Tetapi suasana makin tidak nyaman, karena banyak pendemo yang berusaha menjauh sambil berdesakan. Sambil membawa kamera, monopod dan tas kamera yang cukup besar, saya juga mengikuti rombongan yang berusaha meninggalkan jembatan penyeberangan, sambil jalan menunduk menghindari batu-batu yang masih beterbangan. Akhirnya dengan susah payah saya sampai di ujung jembatan. Ketika sedang memasukan kamera ke tas, seorang anak muda berkata kepada saya, “Pak di bawah ada gas air mata baru meledak!”. Ternyata benar, mata saya langsung terasa perih. Di bawah jembatan saya basuh mata saya dengan air mineral yang saya bawa. Saya langsung kembali menuju Jl. Gelinggang. Saya makan mie ayam dulu dekat masjid di Jl. Danau Gelinggang. Setelah itu saya kembali ke dekat jalan sempit yang menuju Gedung DPR.
Sambil menunggu keadaan di sekitar Gedung DPR, saya mengupload gambar yang baru saya ambil ke kanal youtube. Cukup lama prosesnya, hampir 2 jam. Banyak warga masyarakat setempat yang keluar dari rumahnya. Di sebuah warung ada beberapa warga perempuan yang berbincang-bincang tentang demonstrasi mahasiswa. Mereka sudah terbiasa menghadapi situasi itu, karena kampung mereka merupakan lalu lintas sebagian pendemo yang menuju Gedung DPR.
“Kolo ini mah belum seberapa ya. Kolo tahun sembilan delapan, rame kali di depan itu. Sekarang ini kan sebenarnya mahasiswa memprotes Si Jokowi yang mau menjadikan anaknya jadi gubernur, tapi mereka demonya ke DPR,” kata seorang perempuan berlogat Batak.
Sehabis maghrib, sementara saya masih mengupload gambar, muncul rombongan pelajar. Jumlahnya diperkirakan lebih dari seratus. Sebagian masih menggunakan pakaian abu-abu putih. Kedatangan mereka disambut tepuk tangan masyarakat yang ada di situ.
“Lah kok baru pada datang?” seseorang bertanya kepada mereka.
“Kita tadi ulangan dulu di sekolah,” jawab seorang pelajar.
Rombongan pelajar itu langsung menuju depan Gedung DPR melalui gang di ujung Jl. Gelinggang.
Sehabis mengupload gambar, sekitar pukul 19.00 saya kembali ke gang di Jl. Danau Gelinggang yang penuh dengan massa. Saya tidak bisa melihat suasana di depan gedung DPR, karena hari sudah gelap. Beberapa kali terdengar ledakan gas air mata. Ada juga massa yang memasang petasan.
Tiba-tiba suasana menjadi kacau sejumlah anak muda berusaha menaiki tangga sambil berteriak-teriak minta air, karena terkena gas air mata. Di jalanan yang sempit itu kami berebut jalan untuk menghindari kekacauan. Walau pun agak repot karena masih memegang HP, monopod dan tas kamera, saya berhasil keluar dari kerumunan, lalu berjalan menuju warung di atas.
Ternyata ruangan kecil di dekat warung tersebut sudah dijadikan posko untuk merawat para demonstran — mayoritas pelajar sekolah kejuruan — yang jadi korban bentrokan dengan aparat. Kebanyakan terkena gas air mata.
Seorang gadis dan seorang pemuda gedung yang memegang tabung oksigen portable dengan gesit memberikan pertolongan pertama — memberikan oksigen kepada para pendemo yang nyaris pingsan. Ada pula yang kepalanya berdarah, seorang mengalami luka parah di paha sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Korban terus berdatangan. Saya terus merekam suasana tersebut. Ada beberapa orang juga melakukan hal yang sama.
Sementara perawatan terhadap korban berlangsung, tiba-tiba terdengar beberapa ledakan, di sekitar kami. Salah satunya hanya satu setengah meter dari tempat saya berdiri.
Rupanya itu ledakan gas air mata yang ditembakkan aparat. Kami berhamburan menyelamatkan diri. Di ujung jalan dua pemuda tengah duduk di aspal, berusaha menghilangkan rasa perih di matanya. Lalu ada seorang pemuda yang berteriak-teriak minta air sambil memegangi mata. Saya memberikan sisa air mineral yang saya bawa, walau pun mata saya juga terasa perih.
Dari situ saya berjalan terus hingga sampai di Jl. Danau Tondano. Saya masuk ke indomart yang pagar halamannya tertutup tapi dijaga oleh seorang petugas keamanan. Ternyata indomart itu tetap buka. Saya membeli plester untuk membungkus siku saya yang lecet, dan sebotol air mineral. Saya lalu memesan ojek online menuju Stasiun Karet untuk pulang. Agak sulit mendapatkan ojek online, karena jalan di seputar Benhil macet total.
Akhirnya ada ojek online yang nyangkut. Saya berhasil menuju Stasiun Karet. Di kereta saya membaca berita, “Revisi UU Pilkada di DPR Dibatalkan. Pendaftaran Calon Kepala Daerah menggunakan putusan No.60 dan 70 Mahkamah Konstitusi”.
Para mahasiswa, buruh, pelajar, dan juga masyarakat termasuk kaum intelektual yang kemarin melakukan demonstrasi di berbagai kota di Indonesia, adalah para pejuang yang berhasil membebaskan Indonesia dari tiran yang haus kekuasaan. (herman wijaya)


