BerandaNewsEsai & OpiniBerkunjung ke Bengkel dan...

Berkunjung ke Bengkel dan Galeri Nyoman Nuarta di Bandung

Awal April 2023, tepatnya tanggal 8, saya diajak Mbah Cocomeo mengunjungi Nu Art Studio di Ciwaruga, Parompong, Bandung.

Kedatangan kami ke tempat tersebut sebenarnya bukan tujuan utama ke Bandung, karena rencana awal dari Jakarta adalah ingin mewawancarai 2 legenda Persib Bandung, Ajat Sudrajat dan Robby Darwis, untuk podcast Cocomeo Channel.

Wawancara Ajat Sudrajat dilakukan di Stadion Siliwangi, yang saat itu sedang dilakukan persiapan Konser Ahmad Dhani. Tetapi oleh pengelola lapangan, kami diijinkan melakukan wawancara di dalam stadion. Stadion Siliwangi kini dikontrak oleh Pancoran Soccer Field, milik pengusaha Gede Widiade yang kenal dekat dengan Mbah Coco.

Hari berikutnya, menjelang kembali ke Jakarta, kami mewawancarai Robby Darwis di sebuah kafe dekat Kampus ITB.

Sehari sebelum mewawancarai Robby Darwis, kami datang ke Nu Art Sculpture / Bengkel dan Studio milik Nyoman Nuarta di Parompong.

Tempatnya sejuk dan asri. Di gerbang masuk tertulis Nuart. Banyak mobil-mobil di parkir. Ada satpam yang menjaga dan mengatur kendaraan ke luar / masuk. Di tempat itu juga membuka pelatihan membuat patung. Ada ekspatriat yang mengantar anaknya untuk belajar.

Begitu melewati pintu gerbang, kami sudah disambut oleh berbagai patung karya seniman terkenal tersebut. Ada patung Kepala wanita sangat besar yang menghadap ke bangunan utama yang artistik, patung kuda jingkrak di depan bangunan; dan patung-patung lain yang tersebar di halaman kiri/kanan bangunan. (Semua saya ambil gambarnya dan ditayangkan di kanal youtube saya: matabento).

Baca Juga :   Euforia Kemenangan Indonesia Atas Bahrain di Pokja PWI Jakarta Selatan

Saya masuk ke bagian depan bangunan. Ada patung Bung Karno sangat besar yang dicat putih, dan beberapa patung besar lainnya. Mata sangat dimanjakan dengan patung-patung yang indah dan jumlahnya sangat banyak. Mulai dari depan, samping, di dalam bangunan, hingga ke halaman belakang. Di belakang juga ada kafe dan restoran, yang tentunya juga dipercantik dengan patung-patung karya sang mastro.

Nyoman Nuarta jelas seniman besar. Karya-karyanya sudah tersebar di mana-mana, mulai dari tempat bersejarah, obyek pariwisata bahkan perumahan. Patung Sukarno – Hatta di Jl. Proklamasi Jakarta adalah karya beliau. Nyoman Nuarta memenangkan sayembara pembuatan patung tersebut ketika masih kuliah di ITB. Dia bahkan mengalahkan dosennya dalam sayembara tersebut. Karyanya spektakuler lainnya adalah Patung Garuda Wisnu Kencana di Bali. Hanya kaum intoleran dan tidak memahami senilah yang membenci karyanya.

Ketika kami datang ke Nuart, Mbah Coco sudah meminta waktu wawancara dengan sang maestro. Permintaan wawancara tersebut disetujui atas bantuan Ipong Witono, kerabat Mbah Coco yang tinggal di Bandung. Tetapi Nyoman Nuarta meminta agar menunggu agendanya selesai. Kami ngopi di kafe yang terletak di bagian belakang komplek Nu Art. Untuk sampai ke sana, kami sempat melewati sebuah Aula berbentuk oval, dan melihat sekelompok orang berbaju putih sedang rapat. Rupanya itu orang-orang dari IKN yang sedang rapat dengan Nyoman Nuarta.

Baca Juga :   Persaingan Ketat, Juara Baru Muncul di MilkLife Soccer Challenge Bandung–Yogyakarta

Rapat berlangsung sampai sore. Nyoman Nuarta mengirim pesan, tidak bisa diwawancarai hari itu. Akhirnya kami meninggalkan Nu Art.

Akhir-akhir ini sedang ramai diributkan soal patung Garuda di IKN. Itu karya Nyoman Nuarta. Rupanya kedatangan orang-orang IKN ke Nu Art, April 2023 lalu itu untuk membahas Patung Garuda karya Nyoman Nuarta yang akan dipasang di IKN.

Banyak yang menilai patung itu tidak menampilkan sosok burung garuda yang sebenarnya. Gelap dan terkesan mistis. Ada pula yang membandingkan patung tersebut dengan arsitektur rumah makan Padang. Macam-macamlah orang menafsirkan. Orang hanya menafsirkan berdasarkan apa yang dilihat dengan matanya. Tidak peduli dengan aspek teknis, desain yang disepakati oleh pembuat dan pemesan, dan proses kimiawi yang akan merubah warna patung, seiring perjalanan waktu.

Baca Juga :   Joe Biden Kesulitan Dongkrak Kampanyenya di Debat Pertama

Katanya, karena proses oksidasi, dalam dua tahun patung akan berwarna hijau sesuai rancangan. Tetapi menurut hemat saya, burung elang itu kebanyakan berwarna hitam kecoklatan, atau ada yang berwarna putih di bagian leher sampai kepala. Tidak ada elang berwarna hijau. Kecuali burung nuri atau lovebird. Namun demi estetika, terlihat indah oleh mata, patung garuda di IKN itu diharapkan berwarna hijau. Harus menunggu setidaknya dua tahun agar berubah.

Mengapa Patung Garuda di IKN itu kelihatan menunduk dan tampak seram? Begitulah posisi burung garuda ketika akan mendarat di dahan atau sarangnya. Kalau bentuknya kemudian tidak sesuai dengan gambaran patung burung garuda yang kita lihat sebelumnya, ya itu bukan sepenuhnya salah Nyoman Nuarta. Dia menerima pesanan, menyodorkan disain, menyampaikan alasan-alasan logis, baik dari aspek teknis maupun estetika. Dan disetujui oleh pemesannya.

Makanya yang mesan juga kudu pintar-pintar sedikit, orientasinya seni, bukan proyek. Sekarang semua sudah terjadi. Kita nikmati sajalah, sampai nanti garuda itu berwarna hijau. (hw)

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Kapal Pesiar ‘Anthem of the Seas’ Merapat ke Bali

BENOA, TERMINALNEWS.ID - Indonesia semakin diperhitungkan sebagai destinasi kapal pesiar global....

Kisah Inspiratif! Bripda Zainal, Santri yang Kini Jadi Anggota Brimob

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID  – Bripda Muhammad Zainal Fajar, anggota Brimob Polda Metro...

Optimalisasi Penyidikan TPPU Dan Restorative Justice, Bareskrim Polri Gelar Asistensi Di Polda Metro Jaya

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Dalam rangka mengoptimalkan penyidikan Tindak Pidana Pencucian Uang...

Artis Cilik asal Malaysia Al Mishary Gandeng Penyanyi Dangdut Indonesia Khairat KDI

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID - Artis Cilik asal Malaysia Al Mishary gandeng penyanyi...

- A word from our sponsors -