◾️“Kalau kita bisa kelola ini dengan baik, bukan tidak mungkin Ciliwung bisa menjadi kebanggaan Jakarta seperti Sungai Cheonggyecheon di Seoul”
JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Kamis (31/7), Sungai Ciliwung menjadi jalur inspeksi tak biasa bagi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Dengan mengenakan rompi pelampung dan menaiki perahu karet, ia menyusuri aliran Kanal Banjir Barat dari Pintu Air Manggarai menuju Stasiun BNI City sejauh tiga kilometer dalam waktu 30 menit.
Bukan sekadar peninjauan, perjalanan ini menjadi simbol komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menata ulang wajah sungai sebagai bagian penting dari sistem pengendalian banjir sekaligus ruang publik yang ramah warga. Didampingi sejumlah pejabat, termasuk Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta Afan Adriansyah serta Kepala Dinas Sumber Daya Air Ika Agustin Ningrum, Gubernur Pramono memantau langsung kondisi fisik sungai dan potensi penataan kawasan bantaran.
“Kita ingin lihat secara langsung, apa yang bisa dibenahi saat musim kering. Sungai ini bukan hanya urusan teknis banjir, tapi juga bisa menjadi ruang hidup baru bagi warga,” ungkap Pramono.
Ia menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga untuk memperkuat infrastruktur pengendalian banjir, terutama menjelang musim hujan. Selain fokus pada solusi teknis seperti pengerukan dan normalisasi, Pramono juga mendorong penataan estetika kawasan, khususnya di daerah premium seperti Dukuh Atas.
Jakarta Experience Board (JXB), BUMD yang bergerak di sektor pariwisata, akan dilibatkan dalam transformasi kawasan sungai menjadi ruang publik yang nyaman dan menarik. Harapannya, selain sebagai solusi banjir, area ini juga bisa menjadi destinasi baru bagi warga dan wisatawan.
“Kalau kita bisa kelola ini dengan baik, bukan tidak mungkin Ciliwung bisa menjadi kebanggaan Jakarta seperti Sungai Cheonggyecheon di Seoul,” katanya optimistis.
Di akhir kunjungan, Gubernur Pramono mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga kebersihan dan kelestarian sungai. Ia menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi memerlukan partisipasi aktif warga.
“Kita butuh kolaborasi. Sungai bersih, lingkungan terjaga, dan infrastruktur siap—itulah kunci menghadapi musim hujan,” tutupnya.| Foto : Istimewa.


