Contohnya di Korea Selatan, dimana ada sebuah asosiasi bisnis yang mampu melayani kebutuhan usaha para anggotanya dari A sampai Z.
“GKN harus mampu memfasilitasi kebutuhan akan temu bisnis atau business matching, atau layanan bisnis lainnya. GKN harus mengacu ke arah sana,” kata Budi.
Budi juga melihat peran lain yang bisa dilakukan GKN, seperti pengembangan konsep dan model bisnis yang dapat diterapkan pada anggota GKN.
“Di sini pentingnya memanfaatkan teknologi digital dalam pengembangan kewirausahaan di Indonesia,” ucap Budi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) Indonesia Awang Dody Kardeli menjelaskan, sejak terbentuknya pada 2011, GKN terus berupaya menyebarkan virus kewirausahaan, khususnya bagi kalangan generasi muda dan mahasiswa.
“Gaung kewirausahaan akan terus didengungkan sampai sekarang ke seluruh Indonesia,” kata Awang.
Awang menyebutkan, GKN akan terus meningkatkan pelayanan dan pendampingan bagi pengembangan kualitas produk dan daya saing UMKM.
Sejumlah program yang masih berjalan dan akan terus dilanjutkan adalah terkait kelas kemasan, PIRT, legalitas usaha, perluasan pasar, hingga business matching.
“Kami akan terus berkolaborasi dengan seluruh stakeholder untuk membentuk ekosistem UMKM dan kewirausahaan yang kuat,” kata Awang.
Dengan begitu, Awang meyakini organisasi yang dipimpinnya itu semakin matang dan kuat, baik dari sisi kelembagaan maupun SDM.
“Ke depan, kami akan terus mengawal program pengembangan kewirausahaan dari KemenkopUKM,” ucap Awang.
Awang pun merujuk kiprah GKN Subang yang terus melakukan pembinaan dan pendampingan bagi para mantan TKI dan TKW. “Mereka kami dampingi untuk menjadi wirausaha mandiri dan tangguh,” kata Awang.
Naik Kelas
Salah satu narasumber diskusi tersebut, Direktur Lapenkop Dekopin Arifuddin menekankan, pengembangan bisnis saat ini tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi digital.


