OLEH: Nabil M. Salim
PARC DES PRINCES seharusnya menjadi panggung bola. Akhir pekan lalu, jalan-jalan menuju stadion itu justru menjadi panggung barikade.
Prancis dilanda gelombang demonstrasi terbesar dalam beberapa dekade. Aksi yang awalnya digerakkan mahasiswa dan warga menolak kenaikan biaya hidup pada Sabtu, 17 Oktober, berubah menjadi kerusuhan masif di Paris, Lille, Lyon, hingga Marseille. Mobil dibakar, etalase toko dijarah, dan lebih dari 2.000 orang ditangkap dalam dua hari.
Di tengah asap itu, pertanyaan besar muncul: apakah sepak bola masih bisa dimainkan?
Polisi Minta Tunda, Pemerintah Menolak
Serikat kepolisian Prancis secara resmi meminta Kementerian Dalam Negeri untuk menunda laga akbar Liga Champions Paris Saint-Germain vs Barcelona yang dijadwalkan 20-21 Oktober.
Alasannya logis: polisi kelelahan menjaga demo, tidak cukup personel untuk mengamankan 48.000 penonton.
Namun jawaban pemerintah mengejutkan. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez tampil di TV nasional dan berkata tegas:
“Tidak ada rencana untuk membatalkan pertandingan besok antara PSG dan Barcelona. Pertandingan tersebut tidak terancam.”
Keputusan politik. Pemerintah tidak ingin menunjukkan bahwa negara kalah oleh jalanan.
Jam Malam Terbatas, Stadion Tetap Terang
Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengumumkan opsi baru: jam malam terbatas di wilayah yang rusuh, bukan jam malam nasional. Artinya, sepak bola boleh jalan, tapi dengan pengawalan lapis tiga.
Laporan kantor berita EFE menyebut laga PSG vs Barcelona tidak dikategorikan sebagai laga berisiko tinggi, meski polisi tetap mengerahkan unit anti-huru-hara di sekitar stadion.
Nasib serupa dialami Lille vs Galatasaray di utara Prancis. Kota Lille termasuk yang paling parah dijarah, tapi laga tetap dipaksakan berjalan.
Bukan Pertama Kali
Ini bukan kali pertama demokrasi jalanan mengganggu Ligue 1. Pada 2018, saat gerakan Rompi Kuning menolak kenaikan BBM, laga PSG vs Montpellier dan Lyon vs Toulouse terpaksa ditunda karena prefektur tidak mengeluarkan izin keamanan.
Sejarah berulang. Bedanya, kali ini taruhannya lebih besar: Prancis sedang berusaha memulihkan citra setelah kerusuhan.
Pelatih PSG Luis Enrique menanggapinya dengan dingin: “Saya tidak takut dan berharap pertandingan bisa berjalan dalam kondisi seperti biasa.”
Dan benar, bola tetap bergulir. PSG mengalahkan Barcelona 2-1 di tengah kota yang masih menyisakan bau ban terbakar.
Pelajaran untuk Indonesia?
Apa yang terjadi di Prancis adalah cermin. Ketika aksi demokrasi berubah menjadi kerusuhan, yang pertama dikorbankan adalah ruang publik – termasuk stadion.
Di Indonesia, kita juga pernah melihat laga ditunda karena demo. Pesannya sama: sepak bola tidak hidup di ruang hampa. Ia hidup di tengah masyarakat yang sedang marah, lapar, atau kecewa.
Jika jam malam akhirnya diberlakukan luas akhir pekan ini, maka laga Ligue 1 PSG vs Lyon pada 26 Oktober bisa menjadi korban pertama yang benar-benar ditunda.
Bola mungkin bundar, tapi barikade selalu persegi. Dan ketika keduanya bertemu di jalan yang sama, pemerintah harus memilih: memadamkan api atau tetap menyalakan lampu stadion.

