JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Menjelajahi keindahan gunung memang memukau, namun risiko selalu mengintai.
Eka Bama Putra, salah satu pendiri Elpala SMAN 68 Jakarta dan pendaki berpengalaman sejak 1986, membagikan kiat-kiat krusial untuk bertahan hidup jika tersesat di alam bebas. Ketenangan dan perencanaan adalah kunci utama, yang ia rangkum dalam prinsip sederhana namun vital: S.T.O.P.
Prinsip S.T.O.P.: Ketenangan Adalah Kunci Utama
Bama menekankan bahwa kepanikan adalah musuh terbesar pendaki yang tersesat. “Kalau tersesat, jangan panik. Duduk dulu, pikirkan langkah berikutnya, amati sekitar, lalu rencanakan jalan keluar,” jelas Bama.
Prinsip S.T.O.P. (Sit, Thinking, Observation, Planning) menjadi panduan esensial bagi setiap petualang gunung. Duduk sejenak untuk menenangkan diri, memikirkan opsi terbaik, mengamati lingkungan sekitar untuk mencari petunjuk, dan merencanakan langkah selanjutnya adalah urutan yang harus diikuti untuk meningkatkan peluang keselamatan.
Selain itu, Bama menyarankan agar pendaki yang kehilangan arah untuk selalu kembali ke arah puncak. Menurutnya, jalur utama atau titik orientasi lebih mudah ditemukan dari ketinggian dibandingkan nekat turun ke jurang atau lembah yang justru bisa memperparah keadaan dan menyulitkan proses evakuasi.
Batas Daya Tahan Manusia di Alam Liar: Pentingnya Persiapan Fisik dan Mental
Eka Bama Putra juga menyoroti pentingnya memahami batas daya tahan tubuh manusia di alam liar. Secara umum, seseorang dapat bertahan:
•Tiga hari tanpa air: Dehidrasi adalah ancaman serius dan paling cepat menyebabkan kematian di gunung.
•Lebih dari seminggu tanpa makanan: Asalkan ada sumber air yang cukup, tubuh masih bisa bertahan lebih lama tanpa asupan makanan padat.
Namun, kondisi ini bisa berubah drastis jika pendaki mengalami cedera parah, seperti patah tulang. Bama menjelaskan bahwa daya tahan tubuh dapat menurun hingga 30 persen per hari dalam kondisi luka serius.
“Dengan kondisi luka serius, apalagi di pegunungan yang ekstrem, peluang bertahan hidup hanya hitungan hari jika tak segera mendapat bantuan,” tegasnya. Hal ini menggarisbawahi betapa krusialnya pertolongan pertama dan evakuasi cepat dalam situasi darurat.
Kisah Nyata: Pengalaman SAR Elpala Tahun 1990 dan Pelajaran Berharga
Bama bukan hanya seorang teoritikus; ia adalah praktisi yang telah merasakan pahitnya kehilangan di gunung. Ia terlibat langsung dalam operasi pencarian anggota Elpala, Yudha Sentika, yang hilang pada tahun 1990.
Dalam operasi tersebut, Bama dipercaya menjadi koordinator pencarian bersama pendaki legendaris Mapala UI, Norman Edwin.
“Pencarian kami berlangsung lebih dari sebulan, tapi sayangnya Yudha tak pernah ditemukan. Itu jadi pengalaman pahit, sekaligus pelajaran penting soal pentingnya persiapan dan kewaspadaan,” kenang Bama.
Kisah ini menjadi pengingat nyata bahwa keindahan gunung selalu diiringi risiko yang tidak bisa diremehkan.
Oleh karena itu, pengetahuan navigasi, survival, dan kesiapan mental adalah hal mutlak bagi siapa pun yang ingin menikmati alam bebas dengan aman dan bertanggung jawab.
Kesimpulan: Keamanan di Gunung Dimulai dari Diri Sendiri
Pesan utama dari Eka Bama Putra sangat jelas: persiapan adalah segalanya. Keindahan alam pegunungan memang memikat, tetapi tanpa bekal pengetahuan yang memadai, risiko yang dihadapi bisa sangat fatal.
Mempelajari teknik navigasi, memahami dasar-dasar survival, dan melatih kesiapan mental adalah investasi terbaik bagi setiap pendaki. Dengan demikian, petualangan di gunung tidak hanya menjadi pengalaman yang tak terlupakan, tetapi juga aman dan bertanggung jawab.


