JAKARTA, TERMINALNEWS.ID. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jakarta, Kesit Budi Handoyo, mengatakan bahwa kompetisi sepak bola Liga Soeratin U-15 dan Liga Jakarta U-17 tahun 2026 bisa menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun masa depan sepak bola Indonesia.
Karena fokus untuk pembinaan usia dini, pihaknya siap berperan aktif dalam mendukung keberlangsungan kompetisi yang pelaksanannya memasuki tahun ke dua itu.
Untuk musim tahun 2026 ini. Kick off Liga Soeratin U-15 dan Liga Jakarta akan bergulir pada Sabtu-Mingu 4-5 April 2026 di lapangan sintetis PSF Pancoran.
Dalam pandangan Kesit, peran aktif dan keterlibatan berbagai pihak, termasuk insan pers itu sangat dibutuhkan untuk memastikan ekosistem pembinaan sepak bola usia muda terus berkembang.

“PWI DKI mencoba berperan dan berkontribusi dalam sepak bola junior. Kami ingin ikut aktif mengampanyekan pentingnya pembinaan ini, termasuk menggugah sponsor dan donatur agar mau terlibat,” ujar Kesit di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia menilai, keberadaan wadah kompetisi seperti Liga Jakarta menjadi faktor krusial bagi perkembangan pemain muda. Tanpa kompetisi yang berkesinambungan, potensi besar yang dimiliki anak-anak Indonesia akan sulit berkembang secara maksimal.
“Anak-anak ini butuh perhatian dan dukungan. Bagaimana mereka bisa berkembang kalau tidak ada wadah kompetisi? Untuk menciptakan itu tentu dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik federasi maupun sektor swasta,” katanya.
Lebih lanjut, Kesit yang juga jadi komentator sepak bola di berbagai stasiun televisi nasional juga menyoroti masih minimnya perhatian terhadap pembinaan usia dini di Indonesia. Ini terlihat dimana kompetisi kelompok umur kerap kurang mendapatkan prioritas dibandingkan level senior.
Padahal, menurutnya, pembinaan di level grassroot justru menjadi kunci utama dalam menciptakan pemain berkualitas di masa depan.
“Kompetisi usia muda ini sangat penting sebagai cikal bakal pembangunan sepak bola nasional. Talenta muda kita banyak, tapi tanpa kompetisi yang rutin dan terstruktur, mereka tidak akan berkembang maksimal,” ujarnya.
Di tahapan ini, dirinya uga mendorong federasi untuk lebih serius memperhatikan pembinaan usia dini, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di seluruh daerah di Indonesia. Ia menilai Jakarta bisa menjadi barometer yang menunjukkan betapa pentingnya kompetisi usia muda.
“Jangan hanya fokus di level atas. Grassroot juga harus mendapatkan perhatian serius. Kita tidak bisa terus mengandalkan cara instan, karena pemain berkualitas itu lahir dari proses panjang sejak usia muda,” tegasnya.
Dalam konteks ini, peran Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI dinilai sangat strategis. Kesit menekankan bahwa insan pers tidak hanya bertugas meliput, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong perkembangan olahraga nasional, khususnya sepak bola usia dini.
“Wartawan olahraga punya peran besar dalam mendukung pembinaan. Salah satunya dengan terus menyosialisasikan pentingnya kompetisi usia muda dan menanamkan nilai-nilai sportivitas kepada para pemain,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemberitaan yang konsisten dan berkelanjutan terkait kompetisi usia dini dapat membantu meningkatkan kesadaran publik sekaligus menarik perhatian sponsor untuk terlibat.
“Banyak cara yang bisa dilakukan, termasuk memberikan informasi secara terus-menerus tentang pembinaan usia muda. Ini penting agar perhatian terhadap sektor ini tidak pernah putus,” katanya.
Pelaksanaan Liga Jakarta 2026 sendiri dinilai menjadi momentum yang tepat di tengah meningkatnya antusiasme publik terhadap sepak bola nasional. Kesit melihat euforia terhadap tim nasional saat ini harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi yang lebih kuat di level usia muda.
“Ketika timnas sedang mendapat perhatian besar, justru di saat itulah kita harus memperkuat pembinaan di bawahnya. Liga Jakarta ini bisa menjadi trigger untuk membangkitkan gairah pemain muda,” ujarnya.
Ia berharap kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang rutin, tetapi juga mampu melahirkan talenta-talenta baru yang siap mengisi kebutuhan tim nasional Indonesia di masa depan.
“Liga Jakarta harus benar-benar berdaya guna, bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi tempat lahirnya pemain-pemain masa depan Indonesia,” tutup Kesit.
