OLEH: Nabil M. Salim
Kejadiannya Senin siang kemarin.
Di Gedung DPD, Purbaya Yudhi Sadewa sedang memaparkan angka dan masa depan ekonomi. Di tengah paparannya, di tempat lain sebuah telepon berdering. Isinya singkat: Anda diberhentikan.
Selesai.
Tanpa ruang tanya. Tanpa alasan yang harus didengar. Se-efisien seperti di Amerika, tempat Purbaya lama tinggal — memberhentikan orang cukup lewat telepon.
Kita ini bangsa yang unik. Di atas podium, salam pembuka bisa sampai delapan macam. Semua disebut, semua dihormati. Begitu penuh basa-basi. Tapi untuk mengakhiri jabatan seseorang, kita bisa sesingkat itu.
Padahal ceritanya bisa dibuat lebih manusiawi.
Cukup selipkan memo kecil ke pimpinan sidang: “Tolong Pak Purbaya persingkat paparan, diminta segera ke Istana.” Sidang selesai terhormat. Purbaya meluncur 30 menit ke Istana, bertemu lima menit, dijelaskan baik-baik, SK diserahkan. Hanya tertunda satu jam, tapi martabatnya tetap terjaga.
Tapi ya sudahlah. Kesan sering dianggap sekadar basa-basi.
Yang justru menarik adalah cara Purbaya meresponsnya.
Tidak ada drama. Tidak ada konferensi pers berurai air mata. Purbaya yang biasanya ceplas-ceplos itu justru menjadi sangat pelit bicara setelah diberhentikan.
Yang bersuara malah sebuah akun fanbase-nya.
Sore itu, akun tersebut mengunggah foto Purbaya — senyum tipis, batik, celana hitam. Tanpa pidato panjang. Captionnya hanya tiga kata: “Sudah siap belum?”
Netizen langsung menyerbu. Saat ditanya, “Siap kasih kejutan, Pak?” Akun itu hanya menjawab: “hehehe.”
Hanya dalam hitungan jam, 4 juta orang melihatnya. Hampir 20 ribu komentar membanjir. Daya tarik Purbaya masih begitu kuat.
Di balik unggahan itu ada backsound yang bikin penasaran: Wasap Mamen dari DJuamputh dan Andi Mbendol, lagu koplo remix yang lagi hype.
Liriknya seperti curhat:
“Jane pengen sambat karo kancaku, tak rewangi mburuh nganti raono wektu.”
Sebenarnya ingin curhat ke teman, kubela-belain jadi buruh sampai tak punya waktu.
“Wes rausah kakean protes, maju terus.”
Sudahlah tak usah banyak protes, maju terus.
Entah disengaja atau tidak, lirik itu terasa sangat Purbaya.
Keesokannya di acara serah terima jabatan dengan penggantinya, Prof. Suahasil Nazara, Purbaya kembali jadi dirinya sendiri. Teks pidato resmi yang sudah disiapkan tidak ia baca. Ia hanya mengucapkan terima kasih, singkat, lalu menyerahkan panggung sepenuhnya.
Di mata publik, Purbaya pulang tanpa noda. Jujur, bersih, tidak korupsi, tidak hedon — begitu juga keluarganya. Tidak ada aib yang harus dipikul meski diberhentikan mendadak.
Dan kalau kabar yang beredar itu benar — ia dicopot bukan karena gagal menjaga pertumbuhan ekonomi, bukan karena Danantara, melainkan karena kalah adu kuat dengan dua dirjennya sendiri, dirjen pajak dan dirjen bea cukai — maka namanya justru akan semakin harum.
Di negeri ini, kadang orang yang paling jujur memang harus siap menerima telepon yang mengakhiri segalanya.
Dan menjawabnya dengan senyum tipis: hehehe.
*Nabil M. Salim, Pemerhati Politik

Editor : TOMMY R.ARIEF

