LIVERPOOL, TERMINALNEWS.ID – Dua kali juara Liga Inggris, Liverpool, dikenal sebagai klub yang sarat tradisi dan sejarah. Klub dari separuh merah Merseyside itu juga memiliki budaya kuat dalam membina talenta generasi kedua.
Nama-nama seperti Jayden Danns, putra Neil Danns, serta Lewis Koumas, anak dari Jason Koumas, menjadi contoh bagaimana akademi The Reds terus melahirkan pemain muda potensial.
Kini, sorotan mengarah pada Prince Kobe Cisse, putra mantan penyerang Liverpool, Djibril Cisse. Remaja berusia 17 tahun itu digadang-gadang memiliki potensi besar untuk meniti karier profesional dan mengikuti jejak sang ayah.
Prince Cisse merupakan bagian dari akademi Liverpool F.C. sejak usia enam tahun. Pada musim 2024/2025, saat tim senior Liverpool sukses meraih gelar liga ke-20 mereka—menyamai rekor sepanjang sejarah klub—di bawah asuhan Arne Slot, perjalanan karier Prince juga memasuki fase penting.
Ia sempat tampil untuk tim U-18 Liverpool saat masih menjadi scholar tahun pertama. Debutnya terjadi dalam kemenangan 3-1 atas ISI Academy ketika usianya baru 15 tahun, menunjukkan kematangan bermain di atas rata-rata usianya.
Menariknya, Prince memilih membela Wales di level internasional U-18, mengikuti garis keturunan sang ibu, alih-alih memperkuat Prancis seperti ayahnya. Hingga kini, ia telah mencatat dua penampilan bersama tim U-18 Wales.
Awalnya, Prince dikenal sebagai pemain depan atau gelandang serang di level akademi. Namun menjelang musim 2025/2026, ia mengalami perubahan posisi signifikan. Kini, ia dimainkan sebagai bek tengah.

Perubahan ini dinilai cukup jarang terjadi di akademi Liverpool, mengingat pelatih jarang menggeser posisi pemain secara drastis. Namun performa Prince di lini belakang justru menunjukkan perkembangan positif. Energi besar serta naluri menyerangnya membuat ia kerap maju membantu serangan dari lini belakang.
Perubahan posisi ini mengingatkan publik pada perjalanan karier Jamie Carragher, yang juga memulai karier sebagai penyerang sebelum akhirnya menjadi pilar pertahanan Liverpool.
Nama Djibril Cisse tentu tak asing bagi publik Anfield. Ia membela Liverpool dalam 79 pertandingan sepanjang 2004 hingga 2007. Salah satu momen paling ikonik adalah perannya dalam final UEFA Champions League Final 2005 melawan AC Milan di Istanbul.
Final yang dikenal sebagai “Miracle of Istanbul” itu berakhir dramatis. Liverpool bangkit dari ketertinggalan 0-3 sebelum menang lewat adu penalti. Cisse, yang baru pulih dari cedera patah kaki parah dan bahkan nyaris mengalami amputasi, masuk sebagai pemain pengganti di lima menit terakhir laga.
Dalam adu penalti, ia sukses menaklukkan kiper AC Milan, Dida, dengan tenang. Momen tersebut menjadi bagian penting dari sejarah panjang Liverpool di Eropa.
Sepanjang kariernya bersama Liverpool, Cisse mencatatkan 24 gol dan lima assist, atau total 29 kontribusi gol. Setelah masa pinjaman ke Olympique Marseille pada musim panas 2006, ia hengkang secara permanen ke klub Prancis tersebut pada 2007.
Sebelumnya, bersama AJ Auxerre, Cisse mencetak 90 gol dalam 169 pertandingan, menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah klub tersebut.
Prince bukan satu-satunya anak Djibril yang terjun ke dunia sepak bola profesional. Kakaknya, Cassius Cisse, kini berusia 19 tahun dan terdaftar sebagai pemain Notts County serta sudah mencatat dua penampilan di tim utama.
Kini, publik Anfield menantikan apakah Prince Cisse mampu menorehkan kisah sukses seperti ayahnya. Waktu akan menjawab, namun tanda-tanda potensinya sudah terlihat jelas di akademi Liverpool.


