OLEH: Nabil M. Salim
DI TENGAH RIMBUNNYA hutan Halmahera, Maluku Utara, hidup seekor “bidadari” yang bikin siapa saja terpana. Bukan manusia, tapi seekor burung. Namanya Bidadari Halmahera Semioptera wallacii.
Burung endemik ini belakangan viral lagi di media sosial karena bulu jantannya disebut-sebut mirip warna bendera Palestina: hijau, putih, hitam, dan semburat merah.
Penampilan yang “Cetar Membahana”
Jangan bayangin burung biasa. Bidadari Halmahera jantan punya paket lengkap:
– Dada hijau zamrud metalik yang mengkilap kena sinar matahari
– Mahkota ungu berkilau
– 4 helai bulu putih panjang menjulang dari sayapnya seperti selendang
– Badan cokelat zaitun dengan ukuran sekitar 28 cm
Saat musim kawin, jantan akan menari di ranting. Dadanya dikembangkan, bulu putihnya dikibaskan. Gerakannya lincah sampai-sampai kadang jatuh ke tanah. Suaranya? “Kekekek… krrr…” khas dan membahana ke seluruh hutan.
Data & Fakta Penting
Nama Ilmia ‘Semioptera wallacii’
Status Endemik Halmahera & Bacan, Maluku Utara
Habitat Hutan dataran rendah, Taman Nasional Aketajawe-Lolobata
Populasi Diperkirakan 50 – 354 ekor di alam liar
Status IUCN Least Concern, tapi di Indonesia dilindungi PP No. 7 Tahun 1999
Penemu burung ini Alfred Russel Wallace, 1858 di Pulau Bacan
Keunikan Satu-satunya jenis cenderawasih yang hidup di luar Papua
Terancam karena Hutan Habis
Ironisnya, kecantikan ini terancam. Menurut data, penurunan populasi bukan karena ditangkap, tapi karena penebangan dan penjarahan hutan, terutama pohon matowa yang jadi habitatnya.
“Akibatnya, si Bidadari kehilangan rumah dan banyak yang mati,” tulis laporan dari Kehati.
Upaya konservasi sudah dilakukan. Pada 2004, pemerintah menetapkan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata seluas 167.300 hektar untuk melindungi burung ini dan 23 spesies endemik Maluku Utara lainnya.
Warisan Wallace
Burung ini pertama kali ditemukan oleh naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, pada 1858. Karena saking cantiknya, Wallace menyebutnya bird of paradise. Nama wallacii di nama latinnya juga sebagai penghormatan untuknya.
Hingga kini, Bidadari Halmahera jadi maskot wisata alam Maluku Utara. Kementerian Pariwisata bahkan menggandeng Pemkab Halmahera Barat untuk mengekspos keindahan tariannya.
Di era hutan makin menyempit, keberadaan Bidadari Halmahera jadi pengingat: menyelamatkan hutan berarti menyelamatkan “bidadari” yang menari di dalamnya.
*Nabil M. Salim, Pemerhati Lingkungan Hidup

Editor: Tommy RmArief

