BerandaNewsNasionalPemain Naturalisasi Sampah

Pemain Naturalisasi Sampah

Ketika Pencinta Sepak Bola Membumi
MENGAPA PEMAIN NATURALISASI INDONESIA “SAMPAH”?

Oleh : Mbah Cocomeo

Minggu lalu, teman sejawat jurnalis mBah Coco, mampir ke markas “Kandang Ayam”. Namanya Dino Sutan Kerajaan. Entah kerasukan apa, urang awak ujug-ujug mampir di malam gulita?

Dalam workshop tentang dunia sepak bola dan seisinya. Salah satu quote-quote mBah Coco, yang digugat dan dipertanyakan, serta ingin minta penjelasan secara detail,dari Dino Sutan adalah, “Mengapa mBah Coco, terkesan sangat benci, sehingga menulis quote yang isinya, pemain naturalisasi Indonesia, sampah?”

Apakah bisa menjelaskan difinisisi dan mempertangjungjawabkan yang dimaksud “sampah” oleh mBah Coco, sehingga terkesan kejam dan sadis. Demikian, kira-kira salah satu pertanyaan Dino.

Sebelum menjawab pertanyaan Dino. mBah Coco berbilang, bahwa alasan menulis naturalisasi Indonesia ‘sampah”, bisa dijelaskan kepada orang-orang yang berlatar belakang sepak bola, punya literasi sepak bola, pemain sepak bola, dan juga wartawan sepak bola. “Kalau dijelaskan kepada sekadar nitizen, atau generasi Z atau penggemar bola yang buta wawasan, dijamin nggak nyambung, bro!”

mBah Coco, adalah penggemar sepak bola sejati. Artinya, nggak pernah benci, nggak pernah marah, dan nggak mungkin sirik. Karena, profesinya sebagai jurnalis. Maka, tugas pokoknya, adalah mengkritik. Dalam mengkritik, harus kejam dan sadis, serta kadang-kadang wajib humanis. Hanya untuk satu tujuan, agar stakeholder sadar dari belenggu kedunguan yang tak terbatas. Hehehehehe

Alkisah!

Februari 2009, mBah Coco diutus PSSI, bareng empat wartawan di lingkungan PSSI, Mahfudin Nigara (wartawan GO), Yesayas Oktavianus (Kompas), dan Reva Deddy Utama (ANTV), untuk meriset para pemain berdarah Indonesia, di Belanda, selama 20 hari. Seperti Utrecht, Feyenoord, Eindoven, Den Haag, dan beberapa kota-kota kecil.

Selama berhomese di Amsterdam, kami berempat mendapat kesempatan membedah “gudang” klub Ajax Amsterdam, sampai ke akar-akarnya, hingga ke hal-hal yang super private, untuk tidak diambil gambar foto atau pun videonya.

Ajax Amsterdam, adalah klub elit Eropa, yang menjadi pelopor melahirkan pemain-pemain berbakat terbaik di dunia, hingga akhirnya ditularkan ke banyak klub, seperti Barcelona (Spanyol), Benfica (Portugal), Arsenal (Inggris), dan Borrusia Dortmund (Jerman). Yaitu, mencetak pemain bertelante jenius, dan kemudian dijual.

Filosofi sepak bola profesional, pemain adalah barang dagangan. Kapan saja, bisa dijual, atau dibeli atau dibuang, bagaikan barang “rongsokan.”

mBah Coco, akhirnya menemukan formula, dalam buku bertajuk “Parent’s Guide to Football, Basic Referring, Fitness for Football, Psychology for Football, Coaching and club. Enam (6) buku tersebut, ternyata buku panduan, membangun dan mencetak anak-anak, dari usia 8 – 16 tahun.

Ajax Amsterdam, memiliki para pelatih yang dianggap lulus sebagai pelatih dengan meraih sertifikat asli (di Indonesia sertifikat kepelatihan, banyak bodong), untuk usia pembinaan berjenjang, secara sport science. Semua yang terkait dari pemain diteleliti, diriset, didata, dan dinilai. Tak ada data yang ujug-ujug nongol dan ngawur, dalam mengukur teknis dan non-teknis setiap pemain berbakat, dari usia 8 tahun (tabu pemain titipan – zero tolerance).

mBah Coco, juga ingin mengungkap statement, pelatih Persib Bandung, yang baru saja juara BRI Championship Liga 1 Indonesia 2023 – 24, setelah di final mengalahkan Madura United, Bojan Hodak. Arsitek “Maung Bandung” asal Kroasia berbilang, “Pembinaan sepak bola di Indonesia terlambat. Di Kroasia, anak saya, sudah masuk klub usia 8 tahun. Di Indonesia main bola, baru dimulai diusia 14 tahun.”

Baca Juga :   Eggi Sudjana Beberkan Pembekuan TPUA Yang Dilakukan Rizieq Shihab

Di Ajax Amsterdam, klub elit dunia ini, memiliki enam dokter, yang digaji bulanan oleh klub, sebagai pengajar di bidang enam buku yang disebutkan mBah Coco di atas, yaitu dokter psikologi, dokter gizi, dokter anatomi, dokter olahraga (fisik – stamina).

Sampai di sini, mBah Coco bertanya kepada Dino Sutan. ‘Apakah dari 18 klub anggota Liga 1, atau 24 anggota Liga 2, atau pun 64 anggota Liga 3, sudah memenuhi syarat-syarat yang mirip Ajax Amsterdam? Apakah, anggota Liga 1, mampu membayar bulanan para dokter yang bisa memberi laporan harian, mingguan, bulanan kepada pelatih kepala?

Dino Sutan, berjawab, ‘Ya nggak adalahhhhhh, mana mampu 18 klub punya anggaran sebesar itu?”

Saat di ruang privet Ajax Amsterdam, sang direktur PR menjelaskan, kepada mBah Coco, Nigara, Yesayas dan Reva Deddy Utama. Bahwa, setiap murid, yang sudah lulus bergabung dengan sistem pembinaan, setiap hari memiliki standart barometer nilai – ponten – dari hasil latihan tiap hari, bersama para pelatihnya, yang sudah jadi laporan pelajaran.

Ada penilaian, jika seorang pemain, bertarung dalam formasi 2 vs 2, 3 vs 3, 4 vs 4, 6 v 2 hingga 11 pemain versus 11 pemain. Semua ilmu kepelatihan yang diajarkan, selalu punya nilai, dari ponten 5 hingga 10 (excellent). Dari passing, heading, ball control, dribbling atau apa saja yang diajarkan para pelatih, dipastikan ada nilai. Semua berdasarkan sport science, serba ilmiah, sekaligus presisi.

Dalam jurusan “Psychology for Football”, adalah workshop antara orangtua pemain bareng dokter psikolog, di saat anak-anak sedang bertanding atau berujicoba, Sabtu atau Minggu. Dokter spikolog ngumpul bareng arang tua pemain. Dipastikan, akan bertanya kepada masing-masing orangtua satu persatu. “Apakah, di rumah, anak-anak nonton cabang olah raga di luar sepak bola? Apakah, anak-anak baca buku sepak bola atau cabang olahraga lainnya?”

Intinya, dokter spikolog, akan memwanti-wanti, agar anak-anaknya, sudah di doktrin, untuk fokus melihat, mendengar dan membaca apa saja yang terkait sepak bola. Orang tua harus control anak-anaknya, agar jangan pernah pindah ke hobi lain, di luar sepak bola.

Dokter “Fitness for Football”, dalam workshop bareng orang tua anak-anak, juga wajib mendapatkan laporan dari ortu-nya. Apa saja makanan yang diasup anak-anaknya, yang rata-rata tiap hari wajib bergizi 3000 kalori, yang terdiri dari daging, telur, susu, vitamin, dan buah-buahan?

Dalam workshop, tujuan akhirnya adalah penilaian setiap anak-anak klub, dari teknis hingga masalah non-teknis, yang dilaporkan para dokter klub ke masing-masing pelatih pembinaan berjenjang, dari usia 8 – 10, 10 – 12, 12 – 14 dan 14 – 16 tahun.

mBah Coco, lagi-lagi bertanya kepada Dino Sutan, ‘Apakah di klub-klub anggota Liga 1, 2 dan 3 Indonesia, ada yang sudah mencapai sistem penilaian mirip Ajax Amsterdam?” Dan, belum sampai dijawab Dino, mBah Coco menjawab sendiri, “Dijamin, bahwa klub-klub sepak bola di Indonesia, tidak pernah mampu seperti konsep sport science milik Ajax Amsterdam?

Puncaknya, ada dari pembelajaran buku panduan. Dari enam (6) metode pembinaan, yaitu
“Parent’s Guide to Football, Basic Referring, Fitness for Football, Psychology for Football, Coaching and club. Kesimpulan, direktur teknis (dirtek) Ajax Amasterdam, adalah intelegensia alias IQ, saat bertanding dalam kompetisi.

Baca Juga :   Kebijakan Gratiskan Biaya Sewa Rusun untuk Warga Eks Kebakaran Manggarai Dapat Dukungan Pj. Gubernur Teguh

Apakah setiap pemain, yang dididik, IQ-nya dikeluarkan dan dipraktikan, saat bertanding. Yaitu, memiliki kreatifitas, punya mental bertanding, memiliki balls skill (mampu menghadapi dan melewati tiga atau empat pemain, yang menghadang), dan mampu menjaga stamina yang sudah diemban, mampu menjaga bola berlama-lama, atau secepat kilat oper bola ke teman, karena temannya dalam posisi bebas?

Dari hasil literasi mBah Coco di Ajax Amsterdam. Jika, ada yang mendaftarkan diri sebagai anggota klub Ajax, dari usia 8 – 10 tahun, yang terpilih umpamanya 200 pemain, tapi yang terpilih seleksi sesuai enam 960 kriteria dari buku di atas, ternyata ada 60 pemain.

Selanjutnya, dalam pembinaan berjenjang, di usia 10 – 12 tahun, saat di seleksi, ternyata hanya tinggal 40 pemain. Memasuki usia 12 – 14 tahun, ternyata tinggal 24 pemain. Saat masuk di usia krusial, apakah pemain yang terseleksi, mampu sebagai pemain profesional, dari 14 – 16 tahun, hanya tinggal 10 sampai 15 pemain.

Dari konsep pembinaan berjenjang, Irfan Bachdim, yang pernah di Ajax Amsterdam 1996 -2000) dari usia 16 tahun, sudah tergusur. Dan, kemudian hijrah ke Argon (2003 – 2006), serta saat sebelum masuk Persema Malang (2010), juga sudah tergerus ke klub Utrecht (2003 – 2007). Walaupun, sempat kembali ke formula terbaiknya di Haarlem (2009 – 2010).

Artinya, apa?

Artinya, menurut mBah Coco, detik-detik pemilihan, dari semua unsur hasil teknis, non-teknis dan intelegensia di Ajax Amsterdam, Irfan Bachdim, sudah dianggap “sampah” dari klut elit dunia yang pernah juara UEFA Champions League 1971, 1972, 1973 dan 1994 – 95. Cup Winner Cup 1988, UEFA Cup 1992, serta Super Cup 1973 dan 1995.

Irfan Bachdim, sudah dinilai tidak mampu memenuhi standart pemain profesional versi Ajax Amsterdam, menuju jenjang ke Eredevise.

Saat ini, sudah tercatan oleh mBah Coco, ada 13 pemain naturalisasi asal Belanda, yang sudah berpassport WNI, yang direkrut Shin Tae-yong (STY).

mBah Coco, mencoba mengklasifikasinya dari 13 pemain naturalisasi yang rata-rata sebagai “sampah” saat memperkuat tim nasional Indonesia.

Yaitu, Elkan Baggott (21, Ipwich Town, Inggris), Jordi Amat (32, Johor Darul Ta’zim, Malaysia), Sandy Walsh (29 Mechelen, Belgia), Marc Klok (31, Persib Bandung) dan Shayne Pattinama (25, Eupen, Belgia). Rafael Struick (21, ADO Den Haag, Belanda), Jay Idzes (24, Venezia, Italia), Nathan Tjoe -A-On (22, Swansea City, Inggris), Ivar Jenner (20, Jong Utrecht, Belanda), Justin Hubner (20, Cerezo Osaka, Jepang), Thom Haye (29, Heerenveen, Belanda), dan Ragnar Oratmangoen (26, Groningen, Belanda), Calvin Verdonk (27, NEC, Belanda).

Di luar contoh Irfan Bachdim, ada contoh yang paling mutakhir. Yaitu Ragnar Oratmangoen, yang sudah disuruh keluar, karena kontraknya sudah habis, dan tak diperpanjang. Sehingga, sampai tulisan ini diturunkan, belum punya klub. Dan, baru diancer-ancer akan dilirik dan direkrut Bali United.

Baca Juga :   PMI DKI Jakarta Berikan Penghargaan Untuk 81 Pendonor Darah

Jika, mental organisasi PSSI, tidak mampu menganyomi pemain yang sudah dijadikan warga negara republik “plekutus”, untuk tetap berkiprah bermain di klub-klub di luar Indonesia. Maka, nasibnya “sami mawon’, dengan para pemain naturalisasi, yang nyaman bermain di Liga 1 Indonesia, sebagai wadah kompetisi yang paling sontoloyo di kawasan Asia Tenggara.

Para naturalisasi yang ogah bermain di luar Indonesia, rata-rata mental dan ball skill-nya nggak nambah hebat, tapi semakin hancur. Karena, wadah kompetisi Liga 1 Indonesia, rata-rata mudah diatur bandar, mudah diatur kalah menang oleh pemilik klub, dan dijamin mBah Coco, semua klub tidak profesional.

Makanya, para pemain naturalisasi yang sudah berlaga di wadah kompetisi Liga Indonesia, rata-rata sudah jadi ‘sampah”. Hanya sekadar ada, dan tak ada gunanya lagi bagi prestasi tim nasional Indonesia. Karena, saat direkrut, selain tidak istimewa di klub lamanya di belanda, juga sudah berumur.

Ada beberapa versi mBah Coco, agar penggemar tim nasional, tidak baperan, tidak marah, mengapa pemain naturalisasi timnas Indonesia, harus dibilang “sampah”.

PERTAMA
Dari 13 pemain naturalisasi yang memperkuat timns Indonesia, tidak ada yang berada di tiga klub elit Belanda, Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven dan Feyenoord. Artinya, dari standart pemain berbakat dan pemain yang berpotensi sebagai pemain yang cerdas dan jenius, otomatis gugur. Walau pun, masih ada pemain yang berusia 20 tahun, misalkan Iver Janner dan Rafael Struick. Kecuali, Elkan Baggott.

KEDUA
Dari 13 pemain naturalisasi yang memperkuat timnas Indonesia, selain tidak ada yang memperkuat kasta tertinggi klub elit Belanda, juga saat di klub-klub di luar Belanda, bukan sebagai pilihan utama, sebagai starter eleven, dalam musim 2023 – 24. Artinya, hanya sebatas pemain biasa-biasa saja. Sumpeh!

KETIGA
Dari 13 pemain naturalisasi yang memperkuat timnas, selain tidak ditaksir klub elit Belanda, rata-rata, mereka sejatinya sudah diusia puncak, dan ada yang sudah expired alias sudah kadaluwarasa. Hanya, tinggal sisa-sisanya doang, alias “ampas”. Piye, jal? Baca saja, Misalkan, Jordi Amat (32 tahun), Sandy Walsh (29), Marc Klok (31) Thom Haye (29), dan Calvin Verdonk (27).

KEEMPAT
Saat 13 pemain naturalisasi yang memperkuat timnas Indonesia, selain tidak di klub elit Belanda, juga bukan sesuai kebutuhan utama dari taktik dan strategi STY. Karakter STY, sebagai mantan pemain belakang, cenderung mengutamakan dan perekrut pemain belakang. Sehingga, filosofi sepak bola, adalah menyerang, dan mencetak gol, serta mampu meraih juara, dinomorduakan. Mbelgedes, bukan?

KELIMA
Dari 13 pemain naturalisasi yang memperkuat timnas Indonesia, selain bukan dari tim elit Belanda. Bukan pilihan utama dari klub-klubnya. Yang paling miris, bukan keinginan para pemainnya. Tapi, lembaga PSSI justru sebagai “pemulung”, untuk mencari barang “rongsokan” ke Belanda. Mendatangi, dan menawarkan ke pemain-pemain naturalisasi. Entah itu sesuai keinginan taktik dan strategi STY atau tidak. PSSI tidak peduli. Brengsek, bukan?

KESIMPULAN
Karena, PSSI sebagai federasi sepak bola yang amburadul, versi mBah Coco, hanya terkesan sebagai “pemulung”. Maka, tugas sebagai “pemulung”, terbukti hanya mencari barang “rongsokan” di “sampah-sampah”, dari hasil barang-barang “rongsokan” yang bukan miliknya.

Cocok, dengan judul di atas. Ngerti, kan Son?

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Catatan Politik : Bambang Soesatyo

Aspirasi tentang Fokus Pada ...

Keprihatinan Penulis Satu Pena

Keprihatinan Penulis SATUPENA/ PERNYATAAN KEPRIHATINAN HATI NURANI RAKYAT Jakarta.TerminalNews.Co.Id - Negara Indonesia...

Nurdin dan Mr.T Disegani di Negeri Ini

Nurdin dan Mr. T Disegani di Negara Ini. ...

Ketua Umum IMI Bamsoet Apresiasi Penyelenggaraan Fun Rally Mercedes Benz W202 Club Indonesia

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID - Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo...

- A word from our sponsors -