BerandaNewsEsai & Opini"Papa Bilang, Satu Frame...

“Papa Bilang, Satu Frame Lagi”: Menunggu Kepulangan Para Perekam Sejarah di Selat Sunda

OLEH: Tommy R. Arief

LAUT SELAT SUNDA sore itu tidak tenang. Dari kejauhan, Gunung Anak Krakatau memuntahkan abu setinggi ratusan meter. Langit menghitam. Ombak memukul lambung kapal kecil yang ditumpangi 5 orang.

Mereka bukan nelayan. Bukan wisatawan.
Mereka adalah orang-orang yang dikejar deadline.

M. Bagus Khoirunnas menggenggam kameranya erat. Pewarta foto LKBN Antara ini sudah hafal bau belerang. Dia tahu, satu jepretan yang bagus bisa menjelaskan letusan lebih dari 1000 kata.

“Mas Bagus itu kalau udah pegang kamera lupa waktu. Pernah 3 hari nggak pulang pas banjir. Katanya: ‘Nanggung, momennya belum dapet'”

Itu kata Rina, editor foto di Antara yang sudah 7 tahun satu meja dengannya. Di meja Bagus sekarang masih ada tumbler dan charger. Belum sempat dibawa pulang.

Di sebelahnya, Arie Basuki dari http://Merdeka.com menutup lensa dengan kain. Debu vulkanik tidak boleh masuk.

“Arie tuh bapaknya dua anak. Sebelum berangkat dia video call dulu. Bilang ke anaknya: ‘Doain papa ya, papa cari gambar bagus'”

Cerita itu dari Dita, rekan di http://Merdeka.com. Arie memang dikenal paling cerewet soal angle. “Harus beda dari yang lain,” katanya.

Baca Juga :   Di Atlanta, Saat Mick Jagger Bergoyang, Beckham Bersorak, Inggris Menggigit, Argentina Menang

Di buritan, Yudhis – Yudistiro Pranoto dari http://iNews.id – merekam video. Suaranya tertelan angin, tapi matanya fokus. Di ruang redaksi dia dipanggil “Mas Anteng”. Nggak banyak ngomong, tapi hasil kerjanya bicara.

“Chat terakhir dia ke grup: ‘Sinyal jelek ya. Nanti aku kirim pas udah deket'”
Kata itu sekarang di-screenshot dan disimpan timnya.

Firdaus Wajidi alias Daus dari Anadolu Agency adalah satu-satunya yang sering liputan ke luar negeri. Bahasa Inggrisnya lancar, logat Jakartanya kental.

“Dia bangga banget bisa bawa nama Indonesia. Bilangnya: ‘Biar dunia tau kita juga punya jurnalis bencana,” ujar Alif, teman satu almamaternya.

Dan Donal Husni, freelancer. Tidak ada kantor besar di belakang namanya. Tidak ada BPJS. Tidak ada asuransi. Yang ada hanya dirinya, kamera, dan keberanian.

“Donal tuh tipe yang kalau ada bencana, dia yang pertama nanya: ‘Butuh foto nggak?’ Dia nggak pernah minta dibayar duluan,” kata seorang fotografer lepas yang sering bareng dia.

Baca Juga :   Catatan Olimpiade, Paris 2024 Terima Kasih Veddriq Leonardo, Terima Kasih Panjat Tebing, Terima Kasih Kalbar

Bersama 3 kru kapal, mereka melaut sore itu. Misinya satu: mendekat agar kita bisa melihat dari jauh.

Wartawan memang begitu. Saat semua orang disuruh menjauh dari bencana, merekalah yang maju. Bukan karena nekat. Tapi karena ada tanggung jawab yang tidak tertulis: kalau bukan kami yang merekam, siapa lagi?

Lalu radio sunyi. Sinyal hilang.

Berita terakhir yang masuk hanya potongan: “Erupsi makin besar. Kami coba…”
Setelah itu tidak ada lagi.

Hari ini, di kantor PWI Jaya DKI Jakarta, layar monitor menampilkan foto-foto mereka. Tidak ada headline. Tidak ada klik. Hanya ada nama-nama yang ditulis dengan huruf tebal di sebuah poster doa:

Pengurus dan anggota PWI Jaya mendoakan yang terbaik untuk rekan-rekan wartawan dan 3 kru kapal yang dilaporkan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Di akhir poster tertulis satu kalimat: “Doa kami menyertaimu. Pulang dalam keadaan selamat. Aamiin YRA.”

Di rumah Bagus, mungkin istrinya masih menyiapkan makan malam.
Di rumah Arie, anaknya mungkin bertanya: “Papa kapan pulang?”

Baca Juga :   HANTU 2004! GARUDA SIAP LUNASIN UTANG LAWAN SINGAPURA

Di redaksi iNews, kursi Yudhis masih kosong dengan jaket tergantung di belakangnya.

Di meja Daus, ada draft berita setengah jadi.

Dan Donal? Mungkin HP-nya masih menyala, menunggu panggilan masuk.

Mereka pergi untuk menceritakan kisah orang lain. Tentang ibu yang menggendong anaknya lari dari abu. Tentang nelayan yang kehilangan perahu. Tentang laut yang marah.

Sekarang, giliran kita yang menceritakan kisah mereka.

Karena bencana akan selalu ada. Gunung akan selalu meletus. Tapi yang membuat kita tetap manusia adalah ketika kita berhenti sejenak, dan mendoakan orang-orang yang memilih berada di garis paling depan.

Jurnalisme bukan cuma soal berita. Jurnalisme adalah tentang manusia yang rela basah, dingin dan takut demi memastikan kebenaran sampai ke kamu.

Kepada Bagas, Arie, Yudhis, Daus, Donald, dan para kru, pulanglah. Kamera boleh ketinggalan. Cerita boleh nanti, yang penting orangnya.

*Tommy R. Arief, wartawan senior dan anggota Siwo PWI Jaya

4c295701 8056 46a6 a5ac 64f2f7d3b398
Tommy R. Arief

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Mauricio Pochettino Minta Gelar Premier League Chelsea Dicabut, Klaim Tottenham Layak Jadi Juara

TERMINALNEWS.ID, LONDON – Mauricio Pochettino melontarkan pernyataan mengejutkan terkait kasus pelanggaran...

Bus Timnas Basket Indonesia Terlambat 41 Menit Jelang Lawan Jepang di Asian Games 2026

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Timnas Basket Putra Indonesia 5x5 menghadapi kendala nonteknis...

Mitsubishi Destinator Rayakan Satu Tahun di Indonesia, Gelar Gebyar Auto Show di 19 Kota

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI)...

Film Semua Akan Baik-Baik Saja Raih Empat Nominasi, Baim Wong: Apresiasi Kerja Keras Kami

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Kabar membanggakan datang dari film Semua Akan Baik-Baik...

- A word from our sponsors -