TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Memahami demokrasi tidak cukup hanya dari buku pelajaran. Generasi muda juga perlu mengenal perjalanan pemilu di Indonesia agar mampu melihat bagaimana sistem demokrasi berkembang dan apa yang bisa diperbaiki ke depan.
Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan peningkatan kapabilitas demokrasi bagi sekitar 80 pelajar SMA dan SMK se-Jakarta Timur di Kantor Sekretariat KPU Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Kamis (29/10/2026). Kegiatan tersebut dibuka Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin.
Dalam kegiatan ini, para pelajar diajak mengunjungi Museum Perjalanan Pemilu untuk menelusuri sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia, mulai dari pemilu pertama pada 1955 hingga perkembangan sistem kepemiluan di era modern.

Melalui koleksi dokumentasi dan informasi sejarah yang disajikan, peserta dapat mengenal perubahan regulasi, kelembagaan, serta mekanisme pemilu dari masa ke masa. Pengalaman tersebut diharapkan membantu mereka memahami demokrasi bukan sekadar sebagai konsep, melainkan proses yang terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat.
Bagi para peserta, kunjungan tersebut juga membuka ruang untuk melihat pemilu dari sudut pandang yang lebih luas.
Dzakwan Mahib, siswa SMAN 36 Jakarta, mengaku memperoleh wawasan baru setelah melihat langsung berbagai dokumentasi perjalanan pemilu di Indonesia. Menurut dia, perubahan yang terjadi dalam penyelenggaraan pemilu dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mendorong perbaikan demokrasi pada masa mendatang.
“Kita jadi lebih terbuka pikirannya. Pemilu itu berjalan sangat lama dan mengalami banyak perubahan. Ada banyak hal yang bisa kita sampaikan dan pelajari dari perubahan-perubahan tersebut, sehingga ke depannya bisa menjadi bahan untuk meningkatkan kualitas pemilu,” ungkap Dzakwan.

Pengalaman serupa dirasakan Abdilah dari SMK Angkasa I Halim Perdanakusuma Jakarta dan M. Umar Karim dari SMAN 14 Jakarta. Keduanya mengaku senang dapat melihat secara langsung berbagai rekam jejak sejarah pemilu melalui koleksi dan penyajian informasi di museum.
Museum Perjalanan Pemilu menjadi salah satu sarana edukasi untuk memperkenalkan sejarah kepemiluan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Penyajian artefak, dokumentasi, dan narasi visual membantu pengunjung memahami dinamika pemilu sekaligus nilai-nilai demokrasi yang perlu dijaga.
Lebih dari sekadar mengenal masa lalu, pembelajaran tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pemilu merupakan instrumen kedaulatan rakyat yang membutuhkan partisipasi masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab.
Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, berharap pengetahuan yang diperoleh para peserta tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Ia mendorong para pelajar untuk membagikan pengalaman dan pemahaman mereka kepada teman-teman sebaya di sekolah masing-masing.
“Mudah-mudahan dengan diundangnya para perwakilan siswa, kurang lebih 80 siswa, mereka mendapatkan bekal keilmuan tentang kepemimpinan demokrasi dan bisa menularkannya kepada teman-teman lainnya di sekolah,” ujar Munjirin.

Menurut dia, pelajar memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman demokrasi di lingkungan sekolah. Dengan berbagi pengetahuan kepada teman sebaya, informasi mengenai sejarah pemilu dan nilai-nilai demokrasi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak siswa.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari pendidikan politik bagi pemilih pemula agar mereka semakin memahami hak, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Melalui kegiatan tersebut, para pelajar diharapkan tidak hanya mengenal perjalanan pemilu di Indonesia, tetapi juga mampu menjadi penggerak literasi demokrasi di lingkungan masing-masing.
Dengan demikian, pemahaman mengenai demokrasi dapat tumbuh melalui proses belajar dan berbagi, bahkan sebelum mereka terlibat langsung dalam pemungutan suara.

