Miskin Kompetisi Berjenjang Adalah PR Besar Sepak Bola Indonesia

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Sepak Bola Indonesia kembali menelan pil pahit di level internasional. Itu terjadi saat target medali emas alias juara yang dipatok PSSI di ajang regional SEA Games 2025 Thailand kembali gagal diperoleh.

Alih-alih menjadi pemuncak, masuk tiga besar saja tidak bisa terpenuhi. Jika di level regional saja jadi pecundang, maka jangan harap mimpi berprestasi di level yang lebih tinggi akan tercapai.

Semua itu terjadi karena satu hal, Indonesia melupakan pembinaan di akar rumput. PSSI selaku penanggungjawab bisa dikatakan tak mempedulikan hal tersebut. Mereka sibuk dengan show off dan gimmick-gimmick yang sama sekali menganaktirikan aspek ini.

Padahal semua stake holder itu tahu, pembinaan usia muda merupakan fondasi utama dalam pembangunan prestasi sepak bola sebuah negara. Negara-negara dengan tradisi sepak bola kuat terbukti mampu melahirkan pemain berkualitas karena memiliki kompetisi usia dini yang berjenjang, berkelanjutan, dan kompetitif. Namun di Indonesia, sistem kompetisi usia muda — khususnya U15 hingga U17 — hingga kini masih belum berjalan dalam format liga sejati. Yang terjadi selama dua hingga 3 dekade terakhir adalah ajang jangka pendek dalam format turnamen yang pertandinganya berlangsung maksimal 5-6 kali, itupun dengan rentang waktu yang tidak konsisten.

Baca Juga :   TC di Tiga Negara, Timnas Putri Tak Gentar Uji Coba Lawan Belanda

PSSI sejauh ini mengandalkan Piala Soeratin sebagai kompetisi utama kelompok usia muda. Meski digelar rutin setiap tahun dari tingkat daerah hingga nasional, format Piala Soeratin lebih menyerupai turnamen jangka pendek dibandingkan kompetisi liga yang berkesinambungan.

Pada fase nasional, setiap tim hanya memainkan 2 hingga 5 pertandingan, sehingga jam terbang kompetitif pemain masih sangat terbatas. Kondisi ini dinilai belum ideal untuk membentuk pemain muda yang matang secara teknik, mental, dan fisik.

Kondisi tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan klub, akademi, dan SSB di berbagai daerah. Mereka menilai bahwa tanpa liga usia muda yang berjalan sepanjang musim, proses pembinaan yang dilakukan di level grassroot tidak memiliki muara yang jelas.

Hal inilah yang kemudian berdampak langsung pada kesulitan PSSI dalam menjaring pemain bertalenta tinggi saat membentuk tim nasional kelompok umur U17 hingga U22 untuk menghadapi berbagai event internasional.

Baca Juga :   Simon Tahamata Tegaskan Scouting Bukan Sekadar Cari Pemain, Tapi Bentuk Karakter Timnas Masa Depan

Seperti ditegaskan oleh Direktur PT Gahora Indonesia Football, Taufik Jursal Efendi, kompetisi berjenjang adalah elemen mutlak dalam sistem pembinaan pemain muda. “Kompetisi berjenjang adalah pilar utama lahirnya pemain muda yang handal. Tanpa kompetisi yang rutin, terstruktur, dan berkelanjutan, pembinaan hanya akan berhenti di latihan tanpa pengujian nyata,” ujar Taufik Jursal Efendi di Jakarta, Selasa (15/11/2025).

Menurutnya, turnamen tahunan seperti Piala Soeratin memang penting, namun tidak bisa menjadi satu-satunya rujukan pembinaan usia muda. “Pemain muda membutuhkan jam terbang, bukan sekadar seleksi singkat. Mereka harus terbiasa bermain dalam tekanan kompetisi, menghadapi berbagai karakter lawan, dan berkembang dari satu level ke level berikutnya. Itu hanya bisa didapat dari kompetisi berjenjang,” tambahnya.

Minimnya kompetisi berjenjang membuat proses seleksi pemain nasional menjadi kurang optimal. Banyak talenta potensial di daerah tidak terpantau secara maksimal karena keterbatasan ajang kompetisi yang konsisten.

Akibatnya, saat menghadapi event internasional, tim nasional kelompok umur sering kali kekurangan pemain yang benar-benar siap secara mental dan pengalaman bertanding, meskipun memiliki kemampuan teknik yang baik.

Baca Juga :   Piala Bergilir Ketum KONI Pusat 2025: 1.840 Atlet Siap Berlaga di Bogor

Menurut berbagai pengamat dan pelaku sepak bola usia muda, solusi atas masalah ini hanya bisa dicapai melalui sinergi semua pihak — PSSI, klub/SSB, pelaku industri sepak bola, serta pemerintah pusat dan daerah.

Kompetisi usia muda akan berjalan baik apabila:

Diselenggarakan secara berjenjang dari daerah hingga nasional

Menggunakan format liga atau musim kompetisi panjang

Didukung oleh regulasi yang jelas dan berkelanjutan

Mendapat dukungan pendanaan serta infrastruktur memadai

PSSI saat ini masih menghadapi tantangan besar dalam menghadirkan kompetisi usia muda U15–U17 yang benar-benar mencerminkan esensi sebuah liga kompetitif. Piala Soeratin tetap penting, namun belum cukup untuk menjadi tulang punggung pembinaan nasional.

Seperti ditegaskannya lagi, kompetisi berjenjang adalah kunci lahirnya pemain muda yang tangguh dan siap bersaing di level internasional. Tanpa keberanian membangun sistem kompetisi usia muda yang konsisten dan berkelanjutan, masa depan sepak bola Indonesia akan terus berjalan di tempat.

Related articles

Share article

Latest articles