TERMINALNEWS.ID, MANCHESTER – Manchester City terancam menerima hukuman berat terkait dugaan pelanggaran aturan finansial Liga Inggris pada periode 2009–2018. Klub berjuluk The Citizens itu disebut menghadapi kemungkinan pengurangan poin dalam jumlah besar hingga degradasi jika upaya banding mereka tidak membuahkan hasil.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari GiveMeSport dan Daily Mail dalam naskah sumber, Premier League disebut berupaya mengumumkan sanksi sebelum proses banding Manchester City berakhir. Proses tersebut dikabarkan akan mencapai tahap akhir paling lambat pada 25 Desember, sementara keputusan final komisi diperkirakan keluar pada pertengahan Januari.
Salah satu skenario hukuman yang disebut dalam laporan tersebut adalah pengurangan poin besar yang dapat membuat Manchester City terdegradasi. Klub itu bahkan berpotensi kembali menerima pengurangan poin pada musim berikutnya sehingga kesulitan promosi dari Championship, kasta kedua sepak bola Inggris.
Selain itu, Manchester City juga dikabarkan berpotensi dikenai denda dalam jumlah besar.
Meski demikian, skenario hukuman tersebut masih berupa laporan dan spekulasi. Kepastian sanksi harus menunggu proses hukum serta keputusan resmi dari pihak berwenang.
Chelsea Lebih Layak Disorot
Di tengah sorotan terhadap Manchester City, mantan pemilik Crystal Palace sekaligus presenter talkSPORT, Simon Jordan, turut melontarkan kritik kepada Chelsea.
Jordan menilai Chelsea seharusnya mendapat sorotan yang sama, bahkan lebih besar, dibandingkan Manchester City terkait persoalan aturan finansial dan pengeluaran klub.
Dalam acara Piers Morgan’s Sports Uncensored, Jordan mempertanyakan mengapa Chelsea tidak menuai kemarahan publik sebesar yang dialami Manchester City.
“Jika Anda percaya pada keadilan dan menganggap skuad Manchester City dibangun dengan cara yang tidak adil, hal menarik bagi saya adalah ketika aturan yang tidak adil diterapkan, jangan heran jika orang bertindak dengan cara yang tidak adil,” ujar Jordan.
Ia kemudian menyinggung sejarah pengeluaran Chelsea dan menilai klub asal London tersebut telah mendapat keleluasaan lebih dahulu dalam membangun kekuatan finansialnya.
Jordan juga menuding Chelsea melakukan pelanggaran dalam periode yang lebih panjang. Namun, pernyataan tersebut merupakan pendapat dan tudingan Jordan, bukan keputusan resmi yang menyatakan Chelsea melakukan pelanggaran yang sama dengan Manchester City.
Chelsea Pernah Didenda Rp220 Miliar
Chelsea sendiri pernah menerima sanksi dari Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) setelah penyelidikan terhadap 74 dugaan pelanggaran peraturan.
Dalam laporan yang dikutip GiveMeSport, Chelsea dijatuhi denda sebesar £10 juta atau sekitar Rp220 miliar, dengan asumsi kurs £1 setara Rp22.000.
Selain denda, Chelsea juga menerima larangan bersyarat untuk mendaftarkan pemain baru selama dua jendela transfer. Sanksi tersebut berkaitan dengan pelanggaran aturan mengenai pembayaran kepada agen dalam periode 2009–2022.
Kasus tersebut berbeda dari perkara finansial Manchester City yang menjadi sorotan dalam laporan ini.
Belanja Manchester City dan Chelsea
Besarnya pengeluaran kedua klub turut menjadi perhatian. Berdasarkan angka yang tercantum dalam naskah sumber, Chelsea menjadi klub dengan total belanja terbesar dalam sejarah Premier League, disusul Manchester City.
Berikut perbandingan pengeluaran kedua klub:
| Klub | Total belanja | Perkiraan dalam rupiah |
|---|---|---|
| Chelsea | £3,89 miliar | Rp85,58 triliun |
| Manchester City | £3,27 miliar | Rp71,94 triliun |
Konversi menggunakan asumsi kurs £1 = Rp22.000. Angka belanja mengikuti naskah sumber dan bukan nilai yang diverifikasi secara independen.
Dengan selisih sekitar £620 juta atau Rp13,64 triliun, Chelsea tercatat mengeluarkan dana lebih besar daripada Manchester City berdasarkan angka tersebut.
Meski begitu, besarnya pengeluaran tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran. Penilaian harus didasarkan pada aturan yang berlaku, bukti, serta hasil pemeriksaan resmi.
Kasus Manchester City kini menjadi perhatian besar karena potensi dampaknya terhadap persaingan di Premier League. Sementara itu, pernyataan Simon Jordan kembali memicu perdebatan mengenai konsistensi penerapan aturan finansial terhadap klub-klub besar Inggris.

