OLEH: Ir. Nabil M. Salim
JANGAN CARI Maluku Utara di pinggiran peta. Cari dia di tengah sejarah dunia.
Lima abad lalu, dunia tidak berputar di London atau Paris. Dunia berputar di Ternate dan Tidore. Di dua pulau gunung berapi itulah cengkeh dan pala tumbuh. Dan karena dua biji kecil itu, armada-armada terbesar bumi berlayar, perang meletus, dan peta dunia digambar ulang.
Itulah kita. Moloku Kie Raha. Empat Gunung: Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan. Sejak abad ke-13, mereka bukan kerajaan kecil. Mereka adalah bandar global. Arab, Persia, India, Tiongkok datang bukan untuk menjajah, tapi untuk mengantri.
Orang Eropa menyebut kita The Spice Islands. Mereka berperang bukan untuk merebut tanah kita, tapi untuk merebut aroma kita. Portugis datang. Spanyol datang. Belanda datang. Inilah kutukan pertama Maluku Utara: terlalu kaya untuk dibiarkan merdeka.
Lima abad kemudian, sejarah mengulang dirinya dengan kostum baru.
Dunia kembali datang ke pulau yang sama. Bukan lagi mencari cengkeh. Tapi mencari nikel dan emas.
Di Halmahera Utara, Gosowong. Kontrak Karyanya 1997, produksi 1999. Hari ini setelah dikelola PT Indotan, ia menyimpan 1,4 juta ounces cadangan emas. Lubang yang sama, pemburu yang berbeda.
Di Halmahera Tengah, Weda. IWIP. Dibangun 2018, kini menjadi salah satu pabrik nikel terbesar di planet ini. Jika dulu cengkeh kita menggerakkan kapal layar VOC, kini nikel kita menggerakkan Tesla di California, BYD di Beijing, dan BMW di Berlin.
Pergantian dari rempah ke nikel bukan sekadar ganti komoditas. Ini cermin yang harus kita berani tatap.
Pelajaran 1: Penjajahnya Ganti Baju.
Dulu datang dengan meriam dan perjanjian monopoli. Sekarang datang dengan MoU, investasi, dan janji hilirisasi. Dulu rebutan bandar, sekarang rebutan smelter. Posisi Maluku Utara tetap sama: di peta kita pinggiran, di perut bumi kita pusat dunia.
Pelajaran 2: Ini Tabungan Sekali Pakai.
Ini yang sering dilupakan orang Jakarta. Cengkeh bisa ditanam lagi. Pala bisa panen tiap musim. Nikel dan emas tidak. Sekali keruk, hilang selamanya. Yang tinggal hanya lubang raksasa, tailing, dan sungai yang keruh. Jangan pernah perlakukan tambang seperti kebun. Ini brankas, bukan kebun.
Pelajaran 3: Siapa Bosnya Sekarang?
Sultan Ternate dulu masih bisa berunding, menolak, bahkan melawan. Sekarang siapa yang berunding? Konsorsium global, BUMN, swasta nasional, dan negara. Pertanyaannya tetap sama persis seperti 400 tahun lalu, dan belum terjawab: Siapa yang menentukan harga? Siapa yang menikmati untung? Dan siapa yang menanggung rusak?
Jujur saja. Jika nikel keluar mentah-mentah, duitnya parkir di luar, dan Halmahera hanya dapat debu dan banjir, maka kita tidak sedang hilirisasi. Kita sedang mengulang VOC dengan seragam baru, helm proyek, dan bahasa ESG.
Rempah membuat Maluku Utara DIKENAL dunia.
Nikel dan emas membuatnya DIBUTUHKAN dunia.
Antara dikenal dan dibutuhkan, ada jurang yang namanya TANGGUNG JAWAB.
Tugas kita bukan hanya membangun smelter. Tugas kita adalah memastikan anak cucu di Sofifi dan Weda masih bisa minum dari sungai yang sama, yang diminum kakek mereka saat memanen cengkeh.
Jangan sampai 100 tahun dari sekarang, orang menulis lagi: “Dulu di sini ada nikel.”
*Ir. Nabil M. Salim, Pemerhati Politik

Editor: Tommy

