DALLAS, TERMINALNEWS.ID – Luka Doncic menjalani tahun yang penuh gejolak. Setelah membawa Dallas Mavericks ke Final NBA untuk pertama kalinya dalam 13 tahun, bintang Slovenia itu sempat menuai kritik tajam karena kondisi fisik dan pertahanannya saat timnya kalah. Namun, pada 2025, Doncic kembali dengan semangat baru.
Kejutan besar datang pada Februari lalu ketika manajer umum Nico Harrison secara mengejutkan menukar Doncic ke Los Angeles Lakers di tengah malam.
Langkah itu disebut-sebut sebagai salah satu transfer terburuk dalam sejarah olahraga Amerika, namun pada saat yang sama mempertemukan Doncic dengan idolanya, LeBron James. Kini keduanya menjadi salah satu duet paling legendaris dalam sejarah NBA.
Kepindahan Doncic ke klub paling bersejarah di NBA membuat perdebatan soal siapa pemain terbaik sepanjang masa (GOAT) kembali mencuat.

Pertanyaan klasik ini menempatkan Michael Jordan dan LeBron James sebagai kandidat utama. Menariknya, meski ia kini satu tim dengan LeBron, Doncic sudah pernah menyatakan pilihannya jauh sebelum berseragam Lakers.
Luka Doncic Pilih Michael Jordan
Dalam wawancara pada Oktober 2023 sebelum laga pramusim melawan Minnesota Timberwolves, Doncic dengan tegas menyebut Michael Jordan sebagai pemain terbaik sepanjang masa.
Meski mengidolakan LeBron sejak kecil dan bahkan mengaku gaya bermainnya banyak dipengaruhi oleh sang megabintang, Doncic tetap memberikan penghormatan tertinggi kepada Jordan.

“Sejak kecil saya selalu mengidolakan LeBron, cara dia bermain, profesionalismenya. Saat saya datang (ke Lakers), dia menerima saya dengan tangan terbuka. Luar biasa bisa jadi rekan setimnya,” ujar Doncic setelah resmi bergabung dengan Lakers.
Pernyataan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan, apakah akan ada ketegangan di ruang ganti Lakers mengingat Doncic lebih memilih Jordan ketimbang James. Namun sejauh ini, hubungan keduanya terlihat solid.
Gaya Main Doncic Lebih Mirip LeBron
Meski memilih Jordan sebagai GOAT, gaya bermain Doncic justru lebih menyerupai LeBron James. Keduanya sama-sama berperan sebagai inisiator utama serangan dengan gaya heliocentric—menguasai bola, menciptakan peluang, dan mengatur tempo permainan.
Baik Doncic maupun LeBron kerap mendapat kritik karena terlalu dominan sehingga rekan setim lebih sering menjadi finisher ketimbang pencipta peluang.
Namun, keduanya terbukti selalu memberi dampak positif dengan konsistensi tinggi dalam mencetak angka maupun menciptakan kesempatan.
Perdebatan soal siapa GOAT NBA antara Michael Jordan dan LeBron James memang belum akan berakhir.
Namun pilihan Doncic yang condong ke Jordan menunjukkan betapa kuatnya warisan “His Airness” meski generasi baru pemain, termasuk Doncic, tumbuh dengan mengidolakan LeBron.
Kini menarik untuk dinantikan, apakah pendirian Doncic akan berubah setelah ia menjalani musim penuh sebagai rekan setim LeBron James di Los Angeles Lakers.

