TERMINALNEWS.ID, LONDON – Federasi sepak bola Eropa (UEFA) dikabarkan tengah bersiap menghadapi konfrontasi baru dengan FIFA.
Sejumlah negara anggota UEFA disebut akan menggelar rapat darurat secara virtual pekan ini untuk membahas langkah menentang rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang ingin menjual sebagian kepemilikan unit komersial FIFA kepada investor swasta.
Berdasarkan laporan Sky News, salah satu opsi yang akan dibahas adalah kemungkinan memboikot Piala Dunia apabila Infantino tetap melanjutkan rencana tersebut tanpa mempertimbangkan kembali keberatan dari federasi-federasi Eropa.
FIFA sebelumnya telah mengonfirmasi pembentukan anak perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise dengan valuasi sekitar 20 miliar dolar AS, atau setara sekitar Rp326 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS).
Melalui skema tersebut, FIFA berencana melepas lebih dari 20 persen saham kepada investor eksternal untuk menghimpun dana sekitar 4,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp68,5 triliun.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) disebut tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya mengenai strategi tersebut. Mereka mengaku baru mengetahui rencana itu saat diumumkan FIFA, meski sebelumnya telah menghadiri pertemuan di New York menjelang final Piala Dunia.

UEFA mengecam keras langkah FIFA. Dalam pernyataan resminya, organisasi tersebut menilai rencana itu telah melampaui batas yang seharusnya tidak dilakukan oleh lembaga pengelola sepak bola dunia.
“Ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh institusi pengatur sepak bola. Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan secara finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. FIFA tidak berhak menjualnya.”
Perselisihan ini menjadi babak terbaru dalam hubungan yang semakin tegang antara FIFA dan UEFA. Sebelumnya, Presiden UEFA Aleksander Ceferin berhasil menggagalkan wacana penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun dengan mengancam akan memboikot turnamen tersebut.
Kontroversi juga muncul terkait calon investor utama yang disebut-sebut akan terlibat dalam proyek tersebut, yakni Thrive Eternal. Perusahaan itu dipimpin oleh Josh Kushner, yang merupakan saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keterkaitan tersebut semakin memicu sorotan terhadap rencana FIFA.
Di sisi lain, Gianni Infantino membela kebijakan tersebut. Menurutnya, dana hasil penjualan saham akan memungkinkan FIFA meningkatkan lebih dari dua kali lipat pendanaan bagi asosiasi anggota untuk pengembangan sepak bola akar rumput pada periode 2027 hingga 2030.
Infantino menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya “demokratisasi sepak bola di seluruh dunia” agar lebih banyak negara memperoleh manfaat dari pendanaan FIFA.
Sementara itu, Perdana Menteri Manchester Raya, Andy Burnham, turut mengkritik rencana tersebut melalui media sosial X. Ia menegaskan bahwa sepak bola adalah milik para penggemar, bukan investor.
“Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Itu adalah kompetisi terbesar dalam olahraga dunia dan tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Sebagus apa pun kesepakatan itu dikemas, ketika Anda menjual sebagian darinya, berarti Anda telah mengkhianatinya.”
Meski mendapat perlawanan dari UEFA, posisi FIFA masih dinilai cukup kuat. Untuk menyetujui kebijakan tersebut, FIFA hanya membutuhkan dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota.
Banyak di antaranya bergantung pada bantuan dana dari FIFA sehingga diperkirakan tetap akan memberikan dukungan.
Namun, UEFA tetap memiliki daya tawar yang besar. Dominasi negara-negara Eropa dalam sepak bola dunia, termasuk Spanyol yang saat ini berstatus juara dunia sepak bola putra dan putri, membuat FIFA sulit mengabaikan pengaruh kawasan tersebut apabila konflik terus berkembang.

