BEKASI – Di balik tubuh renta yang tetap berjuang mencari nafkah, Mak Caiyem Binti Karta (70) menyimpan cerita tentang sakit yang ia tahan selama bertahun-tahun.
Perempuan lanjut usia yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung ini diketahui menderita sakit lambung akut.
Tak hanya itu, ia juga mengalami gangguan jantung yang kerap membuat kondisinya melemah. Meski demikian, Mak Caiyem tetap bertahan menjalani hidup dengan segala keterbatasan.
Mak Caiyem merupakan warga asal Kampung Gebang Malang, Desa Sirnajaya, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi.
Kini ia tinggal di sebuah kontrakan rumah petak sederhana di kawasan Kalimanggis, Jatikarya, Jatisampurna, Kota Bekasi, bersama keluarga pemulung lain dari berbagai daerah.

Kondisi kesehatannya yang kian mengkhawatirkan akhirnya mendapat perhatian. Pada Rabu (4/3/2026), pengurus Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan turun tangan membawa Mak Caiyem berobat ke klinik.
Langkah tersebut bukan sekadar tindakan medis biasa. Bagi yayasan, ini adalah bentuk nyata kepedulian terhadap sesama, tanpa melihat latar belakang sosial maupun kemampuan ekonomi.
“Setiap manusia berhak mendapatkan perawatan yang layak. Sakit bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal bagaimana kita menjaga martabat kemanusiaan,” ungkap Eddie Karsito, Ketua Umum Yayasan Humaniora.
Kisah Mak Caiyem diakui Eddie Karsito menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah nikmat yang kerap terlupakan.
“Tubuh yang sehat bukan hanya anugerah, melainkan juga amanah yang harus dijaga. Di sisi lain, ketika sakit datang, kepedulian dan solidaritas sosial menjadi kekuatan yang mampu menyelamatkan harapan,” tutur Eddie Karsito.
Apa yang dilakukan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan hari ini menjadi bukti bahwa kemanusiaan masih hidup—bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada tangan-tangan yang terulur untuk membantu mereka yang paling membutuhkan.


