JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Ketua Umum PSBL (Persatuan Sepakbola Langsa) Hasan Basri, SH., MH., memberikan klarifikasi sekaligus menyanggah pernyataan Kabid Humas PSBL Yoesdinoer, dalam wawancara di Radiobola Koaidi, pekan lalu.

Dalam keterangan tertulis yang dikirim melalui pesan Whatsapp, Hasan Basri mengatakan, pernyataan Yoesdinoer di Radiobolakoaidi dan sempat ditayangkan di channel youtube matabento (sudah di take down), merupakan pernyataan pribadi yang tidak mewakili kepentingan klub.
“Dari penjelasan Yoesdinoer mungkin bias disimak ya, ada tendensi di dalamnya,” kata Hasan Basri dalam pesannya.
Namun Hasan Basri mengakui bahwa Yoiedinoer memang terdaftar sebagai pengurus di PSBL, yakni menjadi Kabid Humas dalam kepengurusan periode 2023 – 2027 yang dipimpin Hasan Basri. Tetapi pernyataan yang disampaikannya di Radiobolakoaidi dalam wawancara dengan penyiar Radiobola Koaidi, Musafir Kelana dan Reporter Matt Bento, Minggu pertama Mei 2024, adanya pernyataan pribadi.
“Jadi yang dia sampaikan itu statemen pribadi, bukan penjelasan resmi dari Klu PSBL yang memiliki Badan Hukum dari Kemenkumham,” tegas Hasan Basri. “Mengapa saya sebut pribadi, karena setiap berita yang keluar mengenai PSBL, harus sepengetahuan saya sebagai Ketua Umum,” tegasnya.
Kamis, 9 Mei 2024 sore, Yoesdinoer datang ke studio Radiobola Koaidi di Rawamangun, Jakarta Timur, untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi PSBL Langsa, yang saat ini berlaga di Liga 3 PSSI.
Menurut Yoesdinoer, PSBL Langsa yang di masa lalu pernah masuk Divisi Utama kompetisi sepakbola nasional, saat ini nasibnya memprihatinkan, karena sampai terpuruk ke Liga 3. Itu pun dalam babak penyisihan 80 besar di Pekalongan baru-baru ini, PSBL harus kemasukan 10 gol dalam tiga pertandingan, sehingga PSBL gagal melaju ke babak berikutnya.
“Ini kan sudah sangat menyedihkan. Jika dulu PSBL masuk di Divisi Utama, sekarang di Liga 3 saja terseok-seok, bahkan bias kemasukan 10 gol dalam tiga pertandingan! Pasti ada yang tidak benar di klub kebanggaan masyarakat Langsa itu!,” papar Yoesdinoer.
Menurut Yoesdinoer, kegagalan PSBL adalah karena penyakit kronis yang ada di dalamnya, seperti KKN, pergantian pelatih menjelang keberangkatan ke Pekalongan untuk mengikuti 80 besar, dan banyak anak-anak Langsa yang justru bermain di luar Kota Langsa.
“Di Aceh itu ada klub yang namanya Perlak Raya. Tapi pemainnya hampir semua anak-anak Langsa. Tetapi untuk PSBL sendiri kadang merekrut orang luar. Jangan dong dana daerah digunakan untuk membayar orang luar! Dan yang lebih parah, itu pengurusnya dari dulu itu-itu aja! Ada Sekum yang jabatannya begitu lama, sebelum dia naik jadi Ketua Umum!,” ungkap Yoesdinoer.
Menjawab tudingan Yoesdinoer, Hasan Basri menjelaskan, ketika dirinya menjabat Sekum PSBL, yang meminta adalah Ketua Umum PSBL, di hampir semua periode. Mulai dari masa Bupati Aceh Timur hingga saat pemekaran, Langsa menjadi Kota.
“Kalau saya pribadi, selain lima belas tahun menjadi pemain PSBL, pernah di Persiraja Yunior, dipercaya menjadi Sekretaris Umum oleh Ketua Umum. Sebelumnya saya menjadi Ketua Bidang di PSBL. Jadi itu bukan kemauan saya sendiri!” kata Hasan Basri.
Mengenai penggantian pelatih PSBL, menurutnya, saat juara Aceh, pelatih tidak dipecat, melainkan mengundurkan diri, karena permintaan sendiri. Saat bulan puasa latihan penuh, gaji dibayar penuh. Tetapi karena kondisi keuangan klub, maka bulan puasa diliburkan, dengan gaji dibayar 30 %. Para pemain setuju. Setelah lebaran, latihan kembali seperti biasa dengan Pelatih Kepala baru, dan gaji dibayarkan penuh. Saat Pelatih Kepala Azhar mengundurkan diri, semua haknya kita bayar!” jelas Hasan Basri.
Hasan Basri memaparkan, PSBL Langsa dibina oleh Pemko Langsa, dan mendapat bantuan APBK tahun 2003 untuk gaji pemain, operasional tim, konsumsi TC dan operasional lain. Selain itu ada bantuan dari Walikota Langsa dan bantuan sponsor yang jumlahnya tidak sampai Rp.150 juta.
“Semua itu kita buat laporan kepada semua pihak termasuk kepada sponsor. Nanti laporan akan kita sampaikan dalam rapat pleno Pengurus PSBL,” kata Hasan Basri.
Tahun 2024 ini Pemkot Langsa juga kembali memberi bantuan. “ Karena masih dalam proses pencarian, maka kegiatan PSBL per Januar sd juni 2024 termasuk keberangkatan ke Liga 3 Nasional di Perkalongan kita talangi dulu. Nanti keluar dana APNK kita bayar kepada kawan-kawan pengurus, penasehat dan pihak kolega yang membantu. Dan alhamdulillah semua berjalan lancar dan kita berterima kasih kepada Pemko Langsa,” para Hasan Basri.
PSBL Langsa berdiri thn 1966 di kota Langsa. Saat itu masih pembinaan di Labupaten Aceh Timur. Tahun 1983 PSBL Juara 1 Perserikatan Aceh lolos ke 16 Besar PSSI, lalu bertanding di Palembang. Saat itu Hasan Basri masih menjadi penjaga.
Tahun 1989 kembali Juara Kompetisi Divisi 2 PSSI Aceh, lolos ke zona Sumbagut, tetapi gagal ke putaran Nasional. Tahun 1990 Juara Divisi II PSSI Aceh lolos zona Sumbagut, tetapi gagal di Riau untuk masuk Putaran Nasional.
Tahun 1999 PSBL bermain pada putaran Nasional di Bali Juara 2, lolos ke Divisi 1 (di atas Divisi I ada Divisi Utama dan Liga Super) . Bertahan di Divisi 1 sampai tahun 2007. Tahun 2009/2010 kembali kita ikut kompetisi langsung di Nasional di Karawang; menjadi Juara 3 dan lolos Ke Divisi II PSSI. Sejak tahun 2017 PSBL Terdegradasi ke Liga 3. (hw)


