JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah deretan film akhir tahun yang berlomba-lomba menyuguhkan kemewahan visual, Mertua Ngeri Kali justru datang dengan senjata paling sederhana: keluarga. Riuh, berisik, penuh adu argumen namun jujur dan terasa dekat. Film produksi Im-a-gin-e ini seolah mengajak penonton mengintip rumah sendiri, hanya dengan volume emosi yang dinaikkan beberapa tingkat.
Sorotan utama tentu tertuju pada satu nama: Bunda Corla. Lewat film ini, sang ikon media sosial akhirnya menjejakkan kaki di layar lebar. Memerankan Donda, sosok ibu mertua yang ceplas-ceplos dan dominan, Bunda Corla tampil tanpa banyak kompromi. Tidak ada upaya “dilunakkan” demi sinema. Ia justru dibiarkan menjadi dirinya sendiri dan hasilnya, layar bioskop terasa hidup.
“Pas syuting, aku nggak mau ribet. Kita ngalir saja,” ujar Bunda Corla sambil tertawa saat promosi film. Pendekatan spontan itu justru menjadi kekuatan. Donda bukan hanya sumber tawa, tapi juga pemantik konflik yang membuat cerita bergerak.
Di sisi lain, film ini juga memberi ruang bagi Dimas Anggara dan Naysilla Mirdad sebagai pasangan suami-istri yang terjebak di antara cinta, tanggung jawab, dan tekanan keluarga. Pertengkaran kecil, sindiran halus, hingga kelelahan emosional mereka terasa sangat membumi terutama bagi pasangan muda yang hidup berdampingan dengan ekspektasi orang tua.
Menariknya, Mertua Ngeri Kali tidak berhenti sebagai komedi situasi. Di balik dialog cepat dan humor frontal, film ini perlahan menggeser emosi penonton ke wilayah yang lebih sunyi: kehilangan, penyesalan, dan upaya memahami satu sama lain lintas generasi. Tawa yang semula lepas, perlahan digantikan keheningan bahkan sesekali mata yang berkaca-kaca.
Chemistry para pemain pendukung seperti Gita Bhebhita, Sophie Navita, Siti Fauziah, Farrell Rafisqy, dan Bonar Manalu memperkaya atmosfer keluarga besar Batak yang riuh namun penuh rasa. Tidak ada karakter yang sekadar numpang lewat; semuanya terasa seperti potongan puzzle yang melengkapi kekacauan cerita.
Mertua Ngeri Kali mungkin tidak menawarkan kisah keluarga yang ideal. Justru sebaliknya, film ini merayakan ketidaksempurnaan bahwa cinta dalam keluarga sering hadir dalam bentuk yang paling berisik, paling melelahkan, namun juga paling setia.


