SEPAKBOLA itu bukan cuma soal percaya atau tidak percaya sama bangsa sendiri. Semua negara juga begitu sekarang.
Prancis juara dunia pakai keturunan Afrika. Belanda kuat karena keturunan Suriname. Indonesia juara malam ini pakai keturunan Belanda yang memang ada darah Maluku dan Lombok di nadinya.
Tujuannya bukan merendahkan anak asli.
Tujuannya mengejar waktu.
Pembinaan anak muda kita di kampung-kampung, di SSB, di Liga 3, itu butuh 10 tahun baru jadi. Sedangkan target prestasi, target ranking, target mental juara itu harus tahun ini.
Jadi yang keturunan itu dipakai buat jembatan dulu. Jembatan dari kekalahan menuju kemenangan.
Hasilnya memang belum mulus. Tadi malam masih salah oper, masih harus adu penalti, masih menang karena untung ditepis Emil. Tapi menang itu tetap penting. Karena kalau terus kalah, anak muda di SSB itu juga tidak akan pernah percaya diri kalau Indonesia bisa juara.
Jadi dua pilihan itu memang akan ada terus: idealisme dan prestasi.
Idealnya sih: percaya sama anak sendiri DAN menang. Tapi itu butuh sabar.
Dan seperti yang dibilang malam ini di GBK: Bersabar tidak mengubah keadaan, tapi mengubah hati jadi lebih kuat menghadapi kenyataan.
Kenyataan sepak bola kita memang masih proses. Kita nikmati saja prosesnya sambil terus dukung yang asli biar naik kelas. Karena piala malam ini, pada akhirnya, diangkat untuk semua – yang darahnya dari Lombok, Maluku, Sanger, Semarang, maupun dari kampung-kampung di seluruh Indonesia.
Tommy R.Arief

