TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Kunjungan musisi kondang Iwan Fals untuk menyaksikan pertandingan Liga Jakarta U-17 di Lapangan PSF-MBAU Pancoran, Jakarta, Sabtu (24/10/2026), diwarnai insiden perkelahian antarpemain. Baru saja duduk di tribun, pelantun lagu-lagu kritik sosial itu harus menyaksikan dua pemain terlibat adu fisik di tengah pertandingan.
“Gue apes dong, baru duduk langsung ada tawuran,” ujar Iwan Fals spontan menanggapi insiden tersebut.
Peristiwa itu terjadi pada menit ke-26 pertandingan antara Satria Sanggeni dan ISA Diklat di Lapangan Sintetis 1 PSF Pancoran. Dua pemain, Virsyal Vargas dari Satria Sanggeni dan Desta Adhytia dari ISA Diklat, terlibat perkelahian hingga keduanya diganjar kartu merah.
Bagi penyelenggara, kejadian tersebut menjadi catatan tersendiri. Sejak kompetisi berlangsung pada 2025 hingga memasuki putaran kedua musim ini, perkelahian antarpemain seperti itu disebut baru pertama kali terjadi.

Namun, bagi Iwan Fals, insiden tersebut bukan sekadar peristiwa di tengah pertandingan. Ada pesan penting tentang pembinaan pemain muda yang menurutnya tidak boleh hanya berorientasi pada keterampilan mengolah bola, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pengendalian emosi.
“Mereka harus diberi literasi pembelajaran disiplin, belajar bermain teamwork, dan belajar bermental kesatria. Mereka adalah pemain masa depan Indonesia. Wajib dibimbing dari skill, stamina, dan mentalnya. Ini tugasnya Toro untuk mengelola 1.000 pemain remaja,” tegasnya.
Iwan Fals Soroti Pentingnya Mental Kesatria
Pernyataan Iwan menjadi pengingat bahwa sepak bola usia muda bukan semata-mata tentang mencetak gol, meraih kemenangan, atau membuka jalan menuju klub profesional. Kompetisi juga harus menjadi ruang belajar bagi para pemain untuk menghormati lawan, menerima keputusan wasit, dan mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan.
Bagi pemain yang masih berada dalam tahap pembentukan, kekalahan maupun provokasi semestinya menjadi bagian dari proses pendewasaan. Kemampuan menjaga sikap ketika pertandingan berlangsung panas merupakan bekal penting untuk meniti karier di sepak bola profesional.

Pesan itu terasa menarik jika dikaitkan dengan perjalanan Iwan Fals sebagai musisi yang dikenal melalui karya-karya kritik sosial. Salah satu lagunya, Mereka Ada di Jalan, yang terdapat dalam album Belum Ada Judul (1992), menjadi bagian dari karya yang lekat dengan pengamatannya terhadap kehidupan sosial.
Kali ini, pengamatan Iwan tertuju pada lapangan sepak bola. Di tengah kompetisi yang memberi kesempatan kepada ribuan remaja untuk mengembangkan bakat, ia melihat pentingnya memastikan bahwa kemampuan teknis berjalan beriringan dengan kedewasaan sikap.
Kunjungan tersebut pun memperlihatkan dua sisi pembinaan sepak bola usia muda. Di satu sisi, terdapat lapangan yang tertata dan kompetisi terorganisasi sebagai wadah bagi para remaja mengejar mimpi. Di sisi lain, masih ada pekerjaan rumah untuk memastikan para pemain tumbuh menjadi atlet yang disiplin dan bermental kesatria.
Datang untuk Melihat 1.000 Pemain Binaan Sahabat Lama
Kehadiran Iwan Fals di Lapangan PSF-MBAU Pancoran bukan sekadar untuk menikmati pertandingan. Musisi bernama asli Virgiawan Listanto itu ingin melihat langsung keseriusan sahabat lamanya, Erwiyantoro, yang akrab disapa Mbah Coco, dalam mengelola pembinaan sepak bola usia remaja.
“Gue mau nonton 1.000 anak-anak yang dikelola Toro (panggilan akrab Iwan kepada Erwiyantoro.Red),” kata Iwan Fals setibanya di kompleks lapangan PSF Pancoran, Sabtu (24/10/2026).
Kunjungan itu bermula dari pertemuan kembali dua sahabat yang pernah menimba ilmu di Sekolah Tinggi Publisistik. Pada Senin (19/10/2026), Erwiyantoro menyambangi kediaman Iwan Fals di Leuwinanggung, Cibubur. Keduanya melepas rindu setelah hampir lima tahun tidak berjumpa.
Dalam pertemuan tersebut, Iwan mengaku terkejut mengetahui aktivitas sahabatnya pada masa senjanya. Alih-alih menghabiskan waktu untuk beristirahat, Erwiyantoro justru mencurahkan perhatian pada pembinaan pemain sepak bola usia remaja melalui kompetisi yang terorganisasi.
“Gue nggak yakin, apa benar Toro ngurus 1.000 anak remaja di wadah kompetisi. Siang ini, gue mampir, ternyata Toro serius ngurus anak-anak usia remaja,” ujar Iwan.
Kesempatan itu sekaligus membangkitkan kerinduan Iwan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung. Ia mengaku terkesan dengan kondisi lapangan serta pengelolaan kompetisi yang dinilainya cukup tertata.
“Gue rindu juga ingin nonton anak-anak remaja main bola. Ternyata lapangan bagus, dan cara mengelola kompetisi lumayan rapi,” tutur Iwan.
Kekagumannya terhadap upaya pembinaan tersebut kemudian berhadapan dengan kenyataan di lapangan: bakat dan fasilitas yang baik perlu diimbangi pendidikan karakter yang konsisten.
Bagi Iwan, masa depan sepak bola Indonesia tidak cukup dibangun dengan kaki-kaki yang terampil. Diperlukan pula pemain yang mampu bekerja sama, menghormati lawan, mengendalikan emosi, dan menunjukkan sikap kesatria, bahkan ketika pertandingan tidak berjalan sesuai harapan.

Di tengah upaya membina ribuan pemain muda, pesan Iwan Fals menjadi relevan: mencetak pesepak bola masa depan bukan hanya soal melahirkan pemain hebat, tetapi juga membentuk manusia yang mampu menjunjung sportivitas.

